Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan

Muslimah Berjilbab Kini Diizinkan Ikut Latihan Militer

Demin Zawity, siswa SMU Ravenwood yang dilarang
mengikuti parade nasional karena mengenakan jilbab.
Warga Muslim Amerika Serikat bersorak. Pasalnya, Departemen Pertahanan kini mengizinkan siswa Muslimah mengenakan jilbab ketika mengikuti pelatihan militer junior (JROTC).

"Kami menyambut baik siswa Muslim dapat berpartisipasi penuh dalam kegiatan kepemimpinan sambil mempertahankan keyakinan agama," kata Direktur Eksekutif Nasional Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR),  Nihad Awad.

Keputusan ini diumumkan Kamis, (22/12). Kebijakan ini sebagai tindak lanjut insiden Demin Zawity, siswa SMU Ravenwood yang dilarang mengikuti parade nasional karena mengenakan jilbab, Oktober lalu. Gadis 14 tahun itu sebelumnya telah berlatih untuk waktu yang lama untuk berpartisipasi dalam parade, namun ia urung mengikuti parade karena 'seragamnya' tidak sesuai.

Untuk mengobati kekecewaan Zawity, CAIR menulis surat kepada Menteri Pertahanan, Leon Panetta, agar meminta maaf.  CAIR juga meminta ada hak beragama yang dilindungi undang-undang untuk gadis itu dan untuk masa depan peserta JROTC Muslim.

Dalam sebuah surat kepada organisasi Muslim yang dikirim atas nama Panetta, Asisten Deputi Sekretaris Angkatan Darat, Larry Stubblefield, menjelaskan Angkatan Darat sekarang memberikan akomodasi lebih untuk pemakaian jilbab dalam program pelatihan.

Perubahan ini akan memungkinkan Zawity dan siswa lain memiliki kesempatan penuh untuk berpartisipasi dalam program JROTC. Zawity juga dikabarkan akan diberi kesempatan untuk bergabung kembali dengan tim satuan JROTC SMU Ravenwood.

Meskipun memungkinkan jilbab untuk anggota JROTC, Juru Bicara Militer, George Wright, menegaskan bahwa keputusan Departemen Pertahanan tidak berlaku untuk tentara.


Walau Minoritas, Umat Islam di Korea Sangat Dihormati

Salah satu masjid terbesar di Itaewon, Seoul, Korea Selatan
Kehidupan beragama masyarakat Korea begitu harmonis. Demikian diungkapkan Kepala Pendidikan Indonesia Korean Culture Studies (IKCS), Chang Ik Hwan.

Ia mengatakan masyarakat Korea memeluk beragam agama. Sebagian besar adalah Buddha, Kristen, dan agama kepercayaan tradisional Korea. Sisanya memeluk Muslim. Umumnya, mereka saling menghormati satu sama lain.

"Kami masyarakat Korea secara tradisi memiliki kewajiban untuk saling menghormati antar pemeluk agama. Tradisi itu terus berlanjut hingga sekarang," ungkap dia saat berbincang dengan Republik Online, Selasa (27/12).

Sebabnya, kata Chang, kehidupan beragama di Korea begitu harmonis. Nyaris tidak ada bentrokan yang tidak melibatkan umat beragama.

Berbicara soal umat Islam di Korea, ia mengatakan jumlahnya tidak terlalu banyak. Umumnya berada di Seoul. Secara karakteristik, tidak ada perbedaan antara umat Islam dengan pemeluk agama lain. "Tentu yang membedakan adalah cara mereka dalam beribadah. Mereka menjalankan aktivitas ibadah di masjid," kata dia.

Menurut Chang, lantaran jumlahnya yang sedikit, tanpa menyebut data jumlah populasi, eksistensi umat Islam belum banyak diketahui masyarakat Korea. "Yang pasti mereka tidak mengalami diskriminasi," pungkas dia.


Kehidupan Yesus di Mata Sutradara Muslim Iran

“Ini Yesus,” kata seorang pria. Yesus, yang ditunjuk pun duduk di samping kawannya, Nader Talebzadeh. Nader ialah sutradara Iran yang saat ini membesut film “Jesus Spirit of God”, film terbaru bertema kisah hidup Isa Al Masih dalam versi Islam. 

Tokoh yang oleh umat Nasrani dipercaya sebagai messiah, anak Tuhan yang disiksa kaum Judah dan pengabar kedatangan Muhammad sebagai utusan terakhir, diperankan oleh Ahmad Soleimani-Nia, pria yang dipanggil Yesus tadi, ketika sang sutradara mengenalkan aktor utamanya kepada publik “Saya berdoa untuk umat Kristiani. Mereka salah memahami. Suatu hari, mereka akan menyadari kebenaran cerita yang sesungguhnya,” ujar Nader saat diwawancarai oleh Los Angeles Times, April silam. 

Kini film Nader telah mengikuti seleksi di beberapa festival film Internasional dan dipasarkan secara meluas. Untuk menggarap film Jesus Spirit, Nader mengaku mengambil acuan dari naskah Al Qur’an dan ajaran Barnabas-yang oleh banyak pelajar Barat dianggap sekedar dongeng fabel era pertengahan. Premis yang diusung dalam film ini bisa ditebak, Yesus ialah penyebar kasih sayang dengan mukjizat keajaiban, tapi tidak mati disalib dan tidak bangkit dari kematian. 

Nader memang ingin memberi pesan, jika Kristen, kepercayaan yang dianut lebih dari 2 milyar umat dan inti dari mayoritas filosofi barat ialah berdasar hal yang salah. Nader yang tumbuh di Iran saat pemerintahan Shah Mohammed Reza Pahlevi menuturkan jika di tahun 1970 dirinya hijrah ke Amerika dan menimba ilmu di American University, Washington, DC dan Colombia University, New York. Ia mengaku menyaksikan momen-momen protes anti perang terhadap Vietnam dan mundurnya Richard Nixon, di Negara Paman Sam tersebut Saat itu Iran masih menjadi sekutu Amerika. 


Kisah Orang-Orang Pulau


Manusia biasa (awam) menyesali dosa-dosanya;
Manusia pilihan menyesali kelalaiannya.
(Dzun-Nun al-Mishri)

Semua dongeng, paling tidak mengandung kebenaran tertentu dan seringkali dongeng-dongeng itu memungkinkan masyarakat menyerap gagasan-gagasan yang sulit dipahami atau bahkan tidak bisa dicerna jika disampaikan dalam bentuk pemikiran yang wajar. Oleh karena itu, dongeng digunakan para guru Sufi untuk memberikan suatu gambaran kehidupan yang lebih sejalan dengan perasaan mereka dibandingkan melalui wahana kegiatan intelektual.

Pada suatu masa ada sebuah masyarakat yang hidup di sebuah pulau yang sangat terpencil. Para anggota masyarakat ini tidak mempunyai rasa takut seperti kita saat ini. Alih-alih ketidakpastian dan kegamangan, mereka mempunyai tujuan yang pasti dan cara-cara yang lebih sempurna dalam mengekspresikan diri.

Meskipun tidak ada tekanan dan ketegangan sebagai unsur penting kemajuan bagi manusia sekarang. Kehidupan mereka lebih kaya, karena sebab-sebab lain, yakni unsur-unsur kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan saat ini. Oleh karena itu, kehidupan mereka adalah suatu bentuk eksistensi yang agak berbeda. Kita hampir bisa menyatakan bahwa persepsi kita saat ini adalah versi sementara dan kasar dari persepsi masyarakat ini.


Mengundang Makan Tuhan

Kaum Bani Israil satu kali mendatangi Musa, “Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami.”

Dengan marah Musa menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?” Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, “Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka Jumat petang.”Musa menyampaikan sabda Tuhan itu kepada umatnya.

Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu. Pada Jumat sore, seorang tua tiba dalam keadaan lelah dari perjalanan jauh. “Saya lapar sekali,” katanya kepada Musa. “Berilah aku makanan.” Musa berkata, “Sabarlah, Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah ember ini dan bawalah air ke sini. Kamu juga harus memberikan bantuan.” Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorang pun memberikan makanan sebelum Tuhan datang. Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang mereka anggap telah memperdayakan mereka.

Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, “Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan.” Tuhan menjawab, “Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan.””Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa,” kata Musa.”

Masuk Nerakapun Tetap Bersyukur

Diriwayatkan pada sebagian kitab Allah swt: Bahwa Jibril as, sedang turun ke bumi. Lantas ia melihat sosok lelaki yang memiliki pancaran ketenangan.

“Betapa hebat lelaki ini,” kata Jibril.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman pada Jibril, “Hai Jibril! Lihat namanya di Lauhul Mahfudz yang berderet dengan nama-nama ahli nereka!”

“Tuhanku, lalu apakah semua ini?” Tanya Jibril.

“Hai Jibril! Sesungguhnya Aku tidak dimintai pertanggungjawaban apa yang Kulakukan, dan tak seorang pun tahu dari semua makhlukKu apa pun PengetahuanKu, kecuali yang Aku kehendakinya…” jawab Allah Ta’ala.

“Oh Tuhan, apakah Engkau meberi izin padaku untuk memberi informasi atas apa yang aku ketahui?”

“Silakan, engkau dapat izin…” jawab Allah Ta’ala.

Jibril as lalu turun ke bumi memberi khabar apa yang sesungguhnya terjadi dan bagaimana situasi sebenarnya yang menimpa orang itu. Tiba-tiba orang itu malah bersujud, sembari bermunajat, “Bagimulah segala puji wahai Tuhanku atas ketentuanMu dan takdirMu. Pujian yang melebihi pujian orang-orang yang memujiMu, dan semakin tinggi dibanding syukurnya orang-orang yang bersyukur.”

Setanpun Hafal Ayat Kursi


Abu Hurairah RA bercerita : Suatu hari Rasulullah SAW menugaskanku untuk menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki melihat-lihat makanan dan langsung mengambilnya. Aku lalu menegurnya, “Jangan dulu mengambil, sebelum kusampaikan tentangmu kepada Rasulullah”.

Laki-laki itu menjawab, “Aku sudah berkeluarga dan saat ini betul-betul membutuhkan makanan untuk mereka”. Mendengar itu aku akhirnya mengizinkan dia mengambil makanan itu.

Ketika pagi tiba, Rasulullah bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apa yang kau lakukan kemarin?”

Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki mengadukan kesusahan keluarganya dan dia memohon harta zakat pada saat itu juga, lalu aku persilahkan dia mengambilnya”.

Rasulullah SAW bersabda kembali, “Dia telah mengelabuimu, wahai Abu Hurairah, dan besok akan kembali lagi”.

Karena tahu dia akan kembali lagi, keesokan harinya aku mengawasi secara teliti dan ternyata betul apa yang disampikan Rasulullah, dia telah berada di ruang harta zakat sambil memilih-milih harta zakat yang terkumpul lalu ia mengambilnya.

Melihat itu, aku berkata kembali, “Jangan kau ambil dulu harta itu sampai ada izin dari Rasulullah SAW”.

Kisah Seorang Pemuda yang Minta Diajari Bahasa para Binatang

Seorang pemuda meminta kepada Musa a.s: “Ajari aku bahasa binatang, siapa tahu dari suara hewan dan binatang buas akan kudapat suatu pelajaran untuk memperbaiki agamaku;

Karena bahasa-bahasa Bani Adam semuanya hanya digunakan untuk mencari makanan, minuman dan ketenaran;

Mungkin saja para binatang memperhatikan hal yang berbeda, misalnya, tentang saat-saat bertolaknya kita dari alam-dunia ini.”

“Pergilah,” jawab Musa a.s, “tinggalkanlah hasrat sia-sia itu, karena keinginanmu itu mengandung bahaya di depan dan di belakangnya;

Carilah pelajaran dan kebangkitan jiwa yang engkau inginkan dari Allah, bukannya dari buku dan pembicaraan, kata-kata dan lisan.”

Penolakan Musa a.s malah membuat pemuda itu tambah mendesak: memang biasanya seorang pemuda semakin penasaran jika ditolak keinginannya.

Dia berkata, “Wahai Musa, engkaulah cahaya yang memancar, segala sesuatu mendapatkan jati-dirinya dari engkau;

Yang kuminta itu sangatlah tak-berarti bagi perbendaharaanmu, wahai yang murah-hati, sungguh-sungguh aku akan kecewa jika engkau tidak memberi apa yang kuinginkan, sementara engkau adalah wakil Allah di Bumi.”

Musa a.s berkata, “Yaa Tuhan,pastilah Iblis yang terkutuk telah menipu pemuda dungu ini;Jika kuajari dia, itu akan membahayakannya; sedangkan jika kutolak hatinya akan membatu.”

Tuhan bersabda, “Ajari dia, wahai Musa, karena kemurahan Kami tidak akan menolak permohonan siapa pun.”

Musa a.s berkata, “Yaa Tuhan, dia akan menyesal dan akan menggigit tangannya sendiri sambil merobek-robek bajunya;

Kuasa itu tidaklah cocok untuk semua orang: kelemahan adalah barang-dagangan terbaik bagi seorang abdi.”

Itulah sebabnya kemiskinan adalah kejayaan yang lestari, karena tangan yang tak mampu meraih barang-barang yang dihasrati tidak akan menggenggam sesuatu pun—kecuali ketakutan kepada Tuhan.

Kekayaan dan orang kaya ditolak Tuhan, karena sikap zuhud itu hilang bersama datangnya kuasa.

Kelemahan dan kefakiran adalah pelindung bagi seorang lelaki yang berhadapan dengan ujian dari jiwanya yang rakus dan gelisah.

Kegelisahan itu timbul dari hatinya yang hitam—yang diakrabi syaithan.

Pemakan tanah hanya berhasrat akan tanah: gula seharum mawar tak akan mampu dicerna lelaki dungu itu.

Tuhan bersabda, “Penuhilah permintaannya: biarkanlah dia memiliki kebebasan memilih.”

Kebebasan memilih adalah garam bagi pengabdian; jika tidak demikian tiada kebajikan: lingkaran langit ini bukannya berputar dengan bebas;

Karenanya, berputarnya dia tidaklah menghasilkan ganjaran ataupun hukuman, karena kebebasan memilih lah ada perhitungan bagi kebajikan pada Hari Penghisaban.

Semua makhluk memuji keagungan Tuhan; akan tetapi pengagungan yang tak-terhindarkan itu tidaklah meraih ganjaran.

“Taruhlah sebilah pedang di tangannya, tariklah dia dari kelemahannya berupa ketiadaan kemampuan memilih, sehingga dia dapat menjadi seorang ksatria suci atau seorang penjahat;

Karena ‘Kami telah memuliakan Bani Adam ’[1] dengan memberinya kebebasan memilih: separuh dirinya adalah beruang-madu, separuhnya lagi adalah ular.”

Yang beriman sejati adalah sebuah wadah madu, bagaikan lebah; sebaliknya kaum kafir, adalah wadah racun, bagaikan ular;

Duka Putri-putri Nabi kala Meninggalkan Tanah Suci

“Kasihku, sesungguhnya ayahmulah yang memintaku untuk mengembalikanmu kepadanya, karena Islam telah memisahkan aku denganmu....”

Tergambar dengan jelas titik perjuangan dan pengorbanan Rasulullah berserta sahabat-sahabatnya untuk mempertahankan risalahnya. Terbayang bagaimanan penderitaan yang harus ditanggung ketika di siang hari yang sangat panas, atau di malam yang sangat gelap, mereka berjalan kaki, naik turun gunung yang berbatu-batu, melewati padang sahara yang gersang, dengan perbekalan seadanya.

Hijrah adalah langkah strategis untuk membangun basis kekuatan baru. Tidak hanya kekuatan fisik, melainkan juga psikologis.

Begitu pula yang dialami putra-putri Rauslullah SAW: Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum, dan Fathimah.

Hijrahnya Ruqayyah

Dalam catatan sejarah umat Islam, kaum muslimin pada masa Rasulullah SAW melakukan dua kali hijrah. Pertama terjadi pada akhir-akhir tahun keempat kenabian Rasulullah SAW. Kedua pada tahun ke-13 masa kenabian Rasulullah SAW.

Hijrah yang pertama dilakukan ketika kaum muslimin menghadapi penindasan yang sangat luar biasa. Ketika itulah Allah menurunkan surah Az-Zumar, yang di dalamnya terkandung isyarat untuk melakukan hijrah. Sebagian ayatnya menyatakan bahwa bumi Allah ini luas bagi kaum mukminin yang dipersempit.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhanmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar: 10).

Rasulullah SAW mengetahui bahwa Ashhimmah An-Najasyi, raja Habasyah, adalah seorang raja yang adil dan tidak mau menzhalimi seorang pun. Maka beliau memerintahkan kaum muslimin agar hijrah ke Habasyah.

Kisah-kisah Rahmatan lil ‘Alamin

Nabi Muhammad SAW diturunkan ke dunia sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta alam. Maka kita, sebagai umatnya, pun memiliki adab-adab terhadap alam.

Terlahirnya seorang nabi bernama Muhammad, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, merupakan karunia terbesar yang telah Allah berikan kepada umat manusia, bahkan bagi seluruh alam ini. Beliaulah makhluk termulia dari seluruh ciptaan-Nya. Dan beliau adalah nabi pembawa rahmat dari sisi Tuhannya, Allah Azza wa Jalla.
Para ulama ahli sejarah telah menulis dan mengumpulkan kesempurnaan akhlaq beliau dari segala sisinya. Namun amat disayangkan, hanya sedikit dari umat beliau sendiri yang mau membaca sejarah hidup beliau. Padahal, tidaklah kebenaran akan didapat kecuali melalui pintunya. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21).

Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya aku adalah rahmat yang membawa petunjuk." Ibnu Dahyah RA mengatakan, "Maknanya bahwa ‘Allah SWT mengutusku sebagai rahmat bagi hamba-hamba Allah’. Beliau tidak menghendaki imbalan atas itu, karena pemberi hadiah yang didasari dengan kasih sayang tidak menghendaki imbalan atas hadiahnya."

“Siapa yang Makan Bawang Putih…”

Allah SWT berfirman, "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam," (QS Al-Anbiya’: 107). Rahmat yang dibawa Rasulullah SAW mencakup segala sesuatu di alam ini: manusia, jin, malaikat, hewan, tumbuhan, bahkan benda mati. Ini bukan hal yang aneh, karena Allah SWT kuasa memberikan rahmat-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya dan Dialah Pemilik karunia yang agung.

Di antara seluruh alam yang tercakup dalam rahmat Allah melalui Rasulullah SAW adalah malaikat yang mulia. Allah SWT berfirman, "Mahasuci Allah, Yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (QS Al-Furqan: 1).
Diutusnya beliau SAW kepada para malaikat tidak lain adalah sebagai pengutusan pemuliaan, bukan pembebanan, karena mereka tidak termasuk dalam kalangan yang dibebani (mukallaf) kewajiban syari’at, seperti halnya jin dan manusia.

Allah SWT merahmati para malaikat dan memuliakan mereka melalui nabi-Nya SAW dengan berbagai macam wujud rahmat dan pemuliaan. Di antaranya, dengan adanya hukum-hukum syari’at yang ditetapkan oleh Allah, yang di dalamnya terkandung keimanan kepada para malaikat, adab terhadap mereka, penghormatan terkait kedudukan mereka, pengetahuan mengenai tugas-tugas mereka, dan lain-lain.
Rasulullah SAW mengajari kita tentang penghormatan kepada para malaikat, adab terhadap mereka, dan hendaknya kita menjauhi hal-hal yang mengganggu mereka. Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang makan sayuran berupa bawang putih ini (pada saat yang lain beliau bersabda, "Siapa yang makan bawang merah, bawang putih, dan bawang bakung), janganlah sekali-kali mendekati masjid kami. Sesungguhnya para malaikat terganggu sebagaimana keturunan Adam (manusia) merasa terganggu (oleh bau makanan itu)."

Ketika Sesuatu Tidak Pada Tempatnya

Semasa menjadi Khalifah, pemimpin umat dan negara, Umar bin Khattab menyediakan buku catatan amal. Setiap hari Jumat diperiksanya.

Termasuk dzalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Misalnya sapu diletakkan di dalam lemari. Atau memakai dasi tetapi tidak memakai baju.

Adil bukanlah berarti sama rasa sama rata. Bukanlah memberi semua orang dengan yang sama, melainkan memberi setiap orang sesuai dengan kebutuhan dan haknya.

Allah pun menetapkan perintah dan larangan selaras dengan kemampuan manusiawi hamba-Nya, dan kesanggupan alamiah makhluk-Nya.

Sungguh tidak pantas kalau hendak menyuguhi makanan tamu kebetulan tidak ada mangkok tempat sayur, lalu menggunakan asbak. Meski asbak itu besar dan baru dibeli dari toko, dan sama sekali belum pernah dipergunakan, tapi asbak adalah tempat untuk abu rokok.

Seorang petani desa akan naik kereta api. Menurut kebiasaan di kampungnya, kalau akan memasuki rumah orang, diadatkan untuk membuka sandal atau sepatu. Petani tersebut lalu melepas sandalnya pada waktu akan menaiki tangga kereta api menuju Jakarta. Sandalnya ditinggalkan di emplasemen stasiun Tegal. Pada saat turun di Stasiun Senen, ia mencari-cari sandalnya di emplasemen. Tentu saja sandalnya tidak terbawa.
Dengan bersungut-sungut dia mengomel, “Kurang ajar. Sandalku ada yang mengambil. Keterlaluan. Orang kota jahat-jahat!”

Begitulah. Ia menderita kerugian lantaran ketidaktahuannya. Memang mencari kambing hitam amat mudah. Jauh lebih gampang bila dibanding harus mencari kuman di mata sendiri.

Panggilan Cinta Menuju Serambi Surga

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah SWT, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam (QS Ali Imran: 97).

Kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia setiap tahun diajak untuk berpartisipasi dalam hajatan kolosal dan akbar di Tanah Suci. Semua orang dianggap sama, tidak ada diskriminasi berdasarkan ras, jenis kelamin, ataupun status sosial, sesuai dengan ajaran Islam, yang egaliter. Kaum muslimin menyambut panggilan Allah yang penuh cinta untuk menapaktilasi jejak langkah perjuangan Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS, dan Siti Hajar. Semata-mata karena Allah, untuk meraih ketaqwaan di sisi-Nya.

Dalam bukunya Makna Haji, Dr. Ali Syariati menjelaskan, berhaji adalah perjalanan menuju serambi surga. Siapa yang memaknai hajinya dengan benar, surga adalah ganjarannya. Ibadah haji berlangsung selama bulan Dzulhijjah, yang sangat mulia. Keadaan tanah Makkah hening dan damai, di sana tidak ada rasa takut, kebencian, ataupun perang. Yang terasa di gurun pasir itu hanyalah rasa aman dan damai. Suasana ibadah terasa lazim.

Tidakkah engkau dengar seruan Allah kepada Nabi Ibrahim AS, “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji. Mereka akan datang padamu dengan bertelanjang kaki atau mengendarai unta yang lemah yang datang dari segenap penjuru gurun pasir yang jauh.” (QS Al-Hajj: 27).

Wahai engkau yang tercipta dari lumpur! Cari dan ikutilah ruh Allah. Terimalah undangannya, tinggalkan kampung halamanmu untuk menjumpai Dia yang sedang menunggumu. Eksistensi manusia tidak akan bermakna jika mendekati ruh Allah bukan tujuannya. Singkirkan dirimu dari segala tuntutan dan ketamakan yang memalingkanmu dari Allah SWT. Maka bergabunglah dengan kafilah haji.

Sebelum berangkat melaksanakan ibadah haji, hendaklah kita melunasi dulu utang-utang, dan membersihkan diri dari rasa benci serta marah terhadap sanak saudara, teman, atau siapa pun. Jangan lupa, tulis pula surat wasiat untuk mereka yang hendak kita tinggalkan. Semua ini merupakan langkah-langkah persiapan menghadapi kematian, dan menjamin kesucian pribadi dan finansial, serta melambangkan detik-detik perpisahan dan masa depan manusia.

Pada hari kebangkitan kelak, tidak ada yang dapat kita perbuat di hadapan mahkamah Allah. Di sana, mata, telinga, dan hati menjadi saksi yang sebenar-benarnya tentang apa yang telah kita perbuat. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’: 36).

Kisah Hijrah Bertabur Hikmah: "Jangan Bersedih, Allah Bersama Kita..."

Sehebat apa pun musyrikin membuat rencana untuk menggagalkan hijrahnya Rasul SAW, Allah-lah Sang Perencana terbaik.

Musim semi baru akan berlangsung. Bulan pada malam itu tampak kecil dilatari gugusan bintang yang berserak di atas langit. Udara dingin serasa menggigit kulit. Terpaan angin yang menerbangkan buliran pasir gurun membuat mata terpicing dan terkantuk-kantuk.

Ketika sebahagian besar penduduk Makkah terlelap dalam tidur, Rasulullah SAW tengah berkemas-kemas. Sementara itu beberapa kelompok musyrikin menyatroni lingkungan, mewaspadai gerak-gerik yang mereka incar dan curigai.

Keadaan yang demikian sunyi dan mencekam tidak membuat ciut nyali Rasulullah SAW untuk beranjak keluar dari kediamannya.
Ya, malam itu, permulaan Rabiul Awwal, menjadi langkah awal perubahan yang penuh persiapan masak bagi keberlangsungan Islam di muka bumi.

Nabi masih sempat membisikkan kepada Ali bin Abu Thalib RA, sepupunya yang pemberani, untuk segera menempati ranjangnya seraya berbalut selimut hijau dari Hadhramaut.

Sambil meraup pasir di pelataran rumahnya, beliau mengucap bismillah dan melontarkan pasir dalam genggamannya itu.

Sekejap kemudian, puluhan pemuda musyrikin yang semula menyatroni gerak-gerik Nabi terlelap. Dan Rasulullah pun berlalu dengan selamat. Semua itu bi idznillah, dengan izin Allah Ta'ala.

Kemudian, bersama Abu Bakar bin Abi Quhafah RA, Nabi bertolak ke arah selatan rumahnya menuju sebuah gua di Bukit Tsur.

Sebelum melangkahkan kaki, Rasulullah menatap kota Makkah dari kejauhan. Dengan berlinang air mata, beliau berucap, "Demi Allah, engkaulah bagian bumi Allah yang paling baik dan paling aku cintai. Andai kata tidak diusir, aku tak akan meninggalkanmu, wahai Makkah."

Gua yang sempit dan jarang disinggahi manusia itu dipilih untuk satu tujuan yang tidak diketahui siapa pun kecuali Nabi, Abu Bakar, sahabat yang kelak menjadi mertua beliau, dan ada empat orang, yakni Ali bin Abu Thalib, Abdullah dan Asma (keduanya putra-putri Abu Bakar), serta pembantu Abu Bakar, Amir bin Fuhairah.

Keempat orang itu mendapat tugas yang sangat strategis bagi kesuksesan perjalanan yang amat bersejarah tersebut. Ali berdiam di rumah Rasul SAW untuk mengelabui kaum musyrikin. Abdullah ditugasi untuk memonitor perkembangan berita di kalangan orang-orang kafir Makkah lalu menyampaikannya kepada Rasul pada malam harinya ke tempat persembunyian. Asma saban sore membawa makanan buat Rasul dan ayahnya. Amir bin Fuhairah ditugasi menggembalakan kambing Abu Bakar, memerah susu, dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah bin Abu Bakar kembali dari tempat mereka bersembunyi di gua itu, datang Amir mengikutinya dengan kambingnya guna menghapus jejak.

Rasulullah SAW Rahmatan lil ‘Alamin: Memanusiakan Manusia...


Mengapa Rasulullah SAW menjadi orang yang paling berhasil dalam dakwahnya? Tak lain karena beliau adalah manusia yang paling memanusiakan manusia. Itulah sebabnya, bila ingin sukses dalam dakwah, ikuti dan teladanilah Nabi SAW.

Jum`at (15/4) umat Islam kembali diuji dengan satu berita duka yang dialami oleh saudara-saudara kita di Cirebon. Sebuah bom bunuh diri diledakkan di Masjid Mapolres Cirebon di tengah-tengah jama’ah yang tengah khusyu’ mengikuti shalat Jum`at. Dua puluh enam jama’ah yang tak berdosa terluka. Pelaku bom bunuh diri tewas.

Islam, yang lembut dan penuh cinta kasih, seolah berubah menjadi serpihan-serpihan bom, yang mencabik-cabik tubuh manusia yang tak berdosa.

Bila manusia yang mengaku beragama paling tinggi dan paling agung tidak lagi menganggap mulia manusia sehingga tidak lagi memuliakan manusia, buat siapa sebenarnya agama yang paling agung ini? Bukankah agama ini diturunkan untuk manusia?

Begitu banyak kisah kemanusiaan yang telah diteladankan Nabi SAW kepada kita. Tidak hanya kepada manusia, kepada makhluk lain pun beliau bersikap penuh kasih sayang. Termasuk kepada binatang. Salah satunya terlihat dari kisah berikut.

Puasa dalam Tinjauan Sufistis: Keutamaan Lapar dan Tercelanya Banyak Makan

Semakin seseorang memanjakan perutnya dengan melahap apa saja yang dia sukai, semakin giat dia mengejar dunia. Semakin sering seseorang melaparkan perutnya, semakin jarang ia mencari dunia.

Menahan lapar adalah salah satu perbuatan yang paling mulia. Jika diiringi dengan niat yang benar-benar karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, seorang hamba akan mencapai derajat yang sangat tinggi.

Setidaknya ada tujuh niat untuk mendapatkan kebaikan ketika seseorang menahan lapar. Abu Thalib Al-Makki (386 H/988 M) dalam bagian kedua kitabnya yang berjudul Ilmu al-Qulub (Ilmu Psikologi) menjelaskan tujuh niat tersebut. Sebelumnya ia menulis kitab berjudul Qut al-Qulub (Santapan Ruhani). Semua kitab Al-Makki sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Pertama, meredam dan mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu perlu dikendalikan agar bisa melaksanakan berbagai ketaatan dan memenuhi perintah Tuhan, demi memperoleh ridha-Nya serta derajat yang tinggi. Allah SWT berfirman, “Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” – QS Al-Nazi’at (79): 40-41.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...