Tampilkan postingan dengan label Kisah Bijak Para Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Bijak Para Sufi. Tampilkan semua postingan

Anjing, Tongkat dan Sang Sufi

Suatu hari seorang lelaki berpakaian sufi sedang berjalan-jalan. Di tengah jalan dilihatnya seekor anjing yang tanpa sebab dan tanpa alasan dipukulnya keras keras dengan tongkat.

Anjing itu meraung kesakitan dan lari kepada guru agung Abu Said. Anjing itu rebah di dekat kaki Abu Said, sambil terus menjilati lukanya. Ia menuntut keadilan atas kekejaman lelaki berpakaian sufi itu.

Orang bijak itu mempertemukan keduanya. Kepada sufi itu Abu Said berkata, "Hai, orang yang tak berbelas kasih! Teganya engkau menyakiti makhluk malang ini. Lihatlah hasil perbuatanmu!"

Jawab sufi itu, "Sekali-kali ini bukan salahku. Aku memukulnya bukan hanya karena ia menyalak, tetapi juga karena ia telah mengotori jubahku."

Tetapi, anjing itu bersikukuh dengan pengaduannya.

Kemudian, guru tiada banding itu berkata kepada anjing, "Daripada menunggu datangnya Pembalasan Terakhir, biarlah kini aku membalas rasa sakit yang kau alami."

Kata anjing itu, "Alangkah luhur dan bijaknya engkau, guru. Ketika kulihat orang ini berpakaian seperti seorang sufi, aku mengira ia takkan menyakitiku. Seandainya kulihat seorang berpakaian biasa, seperti biasa aku akan segera menyingkir dan jalan agar ia bisa lewat. Aku telah salah sangka bahwa penampilan lahiriah menandakan batin yang suci. Jika guru hendak menghukumnya maka ambillah daripadanya jubah Orang Terpilih itu. Tanggalkan darinya pakaian Orang-orang Saleh!"


Orang yang 'Menyadari' Kematian

Konon, ada seorang tokoh darwis yang berangkat mengadakan perjalanan melalui laut. Ketika penumpang-penumpang lain memasuki perahu satu demi satu, mereka melihatnya dan sebagai lazimnya, mereka pun meminta nasehat kepadanya.

Apa yang dilakukan semua darwis tentu sama saja, yakni memberi tahu orang-orang itu hal yang itu-itu juga. Darwis itu tampaknya mengulangi saja salah satu rumusan yang menjadi perhatian para darwis sepanjang masa.

Rumusan itu adalah: "Cobalah menyadari maut, sampai kau tahu maut itu apa." Hanya beberapa penumpang saja yang secara khusus tertarik akan peringatan itu.

Mendadak ada angin topan menderu. Anak buah kapal maupun penumpang semuanya berlutut, memohon agar Tuhan menyelamatkan perahunya. Mereka terdengar berteriak-teriak ketakutan, menyerah kepada nasib, meratap mengharapkan keselamatan. Selama itu, sang darwis duduk tenang, merenung, sama sekali tidak memberikan reaksi terhadap gerak-gerik dan adegan yang ada di sekelilingnya.

Akhirnya, suasana kacau itu pun berhenti, laut dan langit tenang, dan para penumpang menjadi sadar kini betapa tenang darwis itu selama peristiwa ribut-ribut itu berlangsung.

Salah seorang bertanya kepadanya, "Apakah Tuan tidak menyadari bahwa pada waktu angin topan itu tak ada yang lebih kokoh daripada selembar papan, yang bisa memisahkan kita dari maut?"

"Oh, tentu," jawab darwis itu. "Saya tahu, di laut selamanya begitu. Tetapi saya juga menyadari bahwa, kalau saya berada di darat dan merenungkannya, dalam peristiwa sehari-hari biasa, pemisah antara kita dan maut itu lebih rapuh lagi."

CatatanKisah ini ciptaan Bayazid dari Bistam, sebuah tempat di sebelah selatan Laut  Kaspia. Ia adalah salah seorang di antara sufi besar zaman lampau, dan meninggal pada paruh kedua abad ke-9.

.

Kisah Pasir



Sebuah sungai, dari sumbernya di pegunungan yang nun jauh di sana, mengalir melewati berbagai pelosok negeri hingga akhirnya sampai di gurun pasir. Sama seperti ketika ia menyeberangi setiap rintangan sebelumnya, ia mencoba yang satu ini, namun sia-sia sebab secepat ia berlari menuju pasir, secepat itu pula airnya lenyap.

Sungai itu yakin bahwa sudah takdir baginya untuk melintasi gurun itu, tetapi sejauh ini usahanya gagal. Lalu, terdengarlah suara teredam berbisik, datangnya dari arah gurun: "Angin bisa menyeberangi gurun, sungai pun bisa."

Sungai tidak sepakat, sebab keluhnya: meski dengan cepat ia menyeberangi pasir, ia mendapati dirinya hanya terserap; angin bisa terbang melintas, itu sebabnya angin bisa menyeberang.

"Dengan caramu menyeberang selama ini engkau takkan bisa melewati gurun. Kalau tidak lenyap, paling-paling engkau akan jadi rawa-rawa. Biarkan angin membawamu menyeberang, menuju sasaranmu."

Tetapi bagaimana hal itu mungkin terjadi? "Dengan memasrahkan dirimu menguap bersama angin."
Sungai itu menolak gagasan itu. Bagaimanapun, sebelumnya ia belum pernah terserap oleh angin. Ia tak mau kehilangan dirinya. Lagipula, sekali dirinya hilang, siapa yang bisa memastikan ia akan memperolehnya kembali?


Tiga Ekor Ikan

Suatu kali di sebuah kolam hiduplah tiga ekor ikan. Si Pandai, Si Agak Pandai, dan Si Bodoh. Mereka hidup biasa-biasa saja sebagaimana ikan-ikan yang hidup di tempat lain, sampai suatu hari datanglah seorang manusia.

Manusia itu membawa jala, dan Si Pandai melihatnya dari dalam air. Mengingat kembali pengalamannya, cerita-cerita yang pernah didengarnya, dan kecerdikannya, Si Pandai memutuskan untuk bertindak. "Hampir tak ada tempat untuk bersembunyi di kolam ini," pikirnya. "Aku sebaiknya pura-pura mati."

Si Pandai rnengerahkan seluruh tenaganya dan melompat keluar kolam, Ia jatuh persis di kaki penjala ikan, yang tentu saja terkejut. Namun karena Si Pandai menahan nafas, si penjala ikan mengira bahwa ikan itu sudah mati, lalu melemparnya kembali ke kolam. Si Pandai pelan-pelan meluncur ke lubang kecil di dasar tepi kolam.

Ikan kedua, Si Agak Pandai, tidak begitu paham tentang apa yang sedang terjadi. Ia lantas berenang mendekati Si Pandai dan bertanya tentang segala sesuatunya.

"Sederhana saja," kata Si Pandai, "Aku pura-pura mati, dan ia melemparku kembali."

Si Agak Pandai pun segera melompat keluar air, jatuh dekat kaki penjala ikan itu. "Aneh," pikir penjala itu, "Ikan-ikan ini berloncatan keluar dari kolam."

Tersesat di Syurga

Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.

Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”
“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
“Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.
“Mana mungkin di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran sesat…” kata pemuda itu menuding Sang Sufi.
“Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
“Toloong diperjelas…”

Para Pelayan dan Rumah

Pada zaman dahulu, ada seorang bijaksana dan baik hati, yang memiliki sebuah rumah besar. Dalam perjalanan hidupnya, ia sering pergi jauh beberapa waktu lamanya. Kalau ia sedang pergi, rumah itu diserahkan pemeliharaannya kepada para pelayan.

Salah satu sifat para pelayan itu adalah pelupa. Sering mereka lupa, mengapa berada dalam rumah itu; demikianlah mereka menjalankan kewajibannya dengan mengulang-ngulang yang sudah dikerjakan. Tidak jarang pula mereka melakukan pekerjaan dengan cara yang sama sekali berbeda dengan yang telah diberitahukan kepada mereka. Hal itu terjadi karena mereka telah melupakan peran mereka di rumah itu.

Konon, ketika pemilik rumah itu sedang bepergian jauh, muncullah sekelompok pelayan, yang berpikir bahwa merekalah yang memiliki rumah itu. Karena pengetahuan mereka itu terbatas pada dunia sehari-hari saja, mereka merasa berada dalam keadaan yang bertentangan. Misalnya saja, pernah mereka ingin menjual rumah, tetapi tidak bisa mendapatkan pembeli, karena memang tidak bisa mengurusnya. Pada waktu yang lain orang-orang datang bermaksud membeli rumah itu, dan menanyakan tentang sertifikat tanah, tetapi karena para pelayan itu sama sekali tidak tahu menahu tentang akta, dianggapnya para calon pembeli itu main-main saja.

Keperluan yang Makin Mendesak

suatu malam seorang penguasa tiran Turkestan sedang mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorang darwis, ketika ia tiba-tiba bertanya tentang Kidir.

”Kidir,” kata darwis itu, “datang kalau diperlukan. Tangkaplah, jubahkan kalau ia muncul, dan segala pengetahuan menjadi milik Paduka,”

”Apakah itu bisa terjadi atas siapapun?”

“Siapa pun bisa,” kata darwis itu.

”Siapa pula lebih ‘bisa’ dariku?” pikir Sang Raja; dan ia pun mengedarkan pengumuman:

“Siapa yang bisa menghadirkan Kidir Yang Gaib di hadapanku, akan kujadikan orang kaya.”

Seorang lelaki miskin dan tua yang bernama Bakhtiar Baba, setelah mendengar pengumuman itu, menyusun akal. Katanya kepada istrinya,

“Aku punya rencana. Kita akan segera kaya, tetapi beberapa lama kemudian aku harus mati. Namun, itu tak apalah, sebab kekayaan kita akan bisa menghidupimu seterusnya.”

Kemudian Bakhtiar menghadap raja dan mengatakan bahwa ia akan mencari Kidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja bersedia memberinya seribu keping uang emas. “Kalau kau bisa menemukan Kidir,” kata Raja, “kau akan mendapat sepuluh kali seribu keping uang emas ini. Kalau gagal, kau akan mati, dipancung ditempat ini sebagai peringatan kepada siapapun yang akan mencoba mempermainkan rajanya.”

Orang Yang Menyadari Kematian

Konon, ada seorang raja darwis yang berangkat mengadakan perjalanan melalui laut. Ketika penumpang-penumpang lain memasuki perahu satu demi satu, mereka melihatnya dan sebagai lazimnya –merekapun meminta nasehat kepadanya. Apa yang dilakukan semua darwis tentu sama saja, yakni memberi tahu orang-orang itu hal yang itu-itu juga: darwis itu tampaknya mengulangi saja salah satu rumusan yang menjadi perhatian darwis sepanjang masa.

Rumusan itu adalah: “Cobalah menyadari maut, sampai kau tahu maut itu apa.” Hanya beberapa penumpang saja yang secara khusus tertarik akan peringatan itu.

Mendadak ada angin topan menderu. Anak kapal maupun penumpang semuanya berlutut, memohon agar Tuhan menyelamatkan perahunya. Mereka terdengar berteriak-teriak ketakutan, menyerah kepada nasib, meratap mengharapkan keselamatan. Selama itu sang darwis duduk tenang, merenung, sama sekali tidak memberikan reaksi terhadap gerak-gerik dan adegan yang ada disekelilingnya. Akhirnya suasana kacau itu pun berhenti, laut dan langit tenang, dan para penumpang menjadi sadar kini betapa tenang darwis itu selama peristiwa ribut-ribut itu berlangsung.

Makanan dari Surga

Yunus, putra Adam, suatu hari memutuskan untuk tidak melulu berpasrah pada takdir, namun ia akan mencari tahu cara dan alasan penyediaan kebutuhan manusia.

”Aku adalah,” ia membatin, “seorang manusia. Sebagai manusia aku memperoleh bagian dari kebutuhan dunia, setiap hari. Bagian ini datang, padaku dengan usahaku sendiri, digabung dengan usaha orang lain juga. Dengan menyederhanakan proses ini, aku tentu akan menemukan cara makanan mencapai manusia, dan belajar sesuatu tentang bagaimana dan mengapa. Untuk itu, aku akan menelusuri jalan religius, yang mendesak manusia bergantung pada Allah Yang Mahakuasa untuk kelangsungan hidupnya. Daripada hidup dalam dunia kacau-balau ini, di mana makanan dan kebutuhan lainnya tersedia melalui masyarakat, aku lebih baik menyerahkan diriku pada pemenuhan langsung dari Sang Kuasa yang mengatur segala sesuatu. Pengemis bergantung kepada perantara; pria dan wanita dermawan yang hatinya digerakkan oleh sesuatu di luar dirinya. Mereka memberi makanan atau uang karena dididik berbuat demikian. Aku tidak menginginkan pemberian tak langsung semacam itu.”

Sesudah berkata begitu, ia berjalan memasuki wilayah pedalaman, berserah diri sepenuhnya kepada kekuatan tak kasat mata dengan keyakinan serupa seperti ketika ia menerima bantuan dari yang kasat mata, saat ia masih menjadi guru di sebuah sekolah.

Ia tertidur, yakin bahwa Allah akan memenuhi semua kebutuhannya, sama seperti burung-burung dan binatang buas dipelihara di alam mereka sendiri.

Ketika subuh, kicau burung membangunkannya, dan putra Adam itu terbangun, menunggu makanannya datang. Sekalipun ia telah memasrahkan diri kepada kuasa tak tampak dan percaya bahwa ia akan bisa memahami cara kerjanya ketika kuasa itu mulai bekerja di tempat itu, ia segera sadar bahwa berpikir untung-untungan untuk mendapatkan sesuatu tidak akan banyak membantunya di tempat yang asing itu.

Sufi Yang Kaya

Suatu hari, Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzili kedatangan seorang tamu, yang kebetulan murid kerabatnya sendiri yang teramat miskin. Tamu ini memang diutus gurunya untuk bersilaturahmi ke rumah Abu al-Hasan, tugasnya adalah mendengarkan dan menyampaikan apa yang diucapkan oleh Sulthanul Auliya Abu al-Hasan.

Ketika di depan rumah Abu al-Hasan, tamu itu tercengang, karena melihat rumah Abu al-Hasan yang sangat mewah, kuda yang elok dan perhiasan yang gemerlap bagai istana raja. Si tamu berpikir, bagaimana mungkin seorang wali besar memiliki rumah dan kekayaan yang teramat mewah? Kalau guruku yang miskin itu, mungkin wajar saja. Tapi ini…

Syaikh Abu al-Hasan pun keluar dan menemui tamunya. Tiba-tiba beliau berkata, “Katakan ya pada gurumu, kapan ia berhenti memikirkan dunia?”

Kisah Api

Pada zaman dahulu ada seorang yang merenungkan cara bekerjanya Alam, dan karena ketekunan dan percobaan- percobaannya, akhirnya ia menemukan bagaimana api diciptakan.

Orang itu bernama Nur. Ia memutuskan untuk berkelana dari satu negeri ke lain negeri, menunjukkan kepada rakyat banyak tentang penemuannya.

Nur menyampaikan rahasianya itu kepada berbagai-bagai kelompok masyarakat. Beberapa di antaranya ada yang memanfaatkan pengetahuan itu. Yang lain mengusirnya, mengira bahwa ia mungkin berbahaya, sebelum mereka mempunyai waktu cukup untuk mengetahui betapa berharganya penemuan itu bagi mereka. Akhirnya, sekelompok orang yang menyaksikannya memamerkan cara pembuatan api menjadi begitu ketakutan sehingga mereka menangkapnya dan kemudian membunuhnya, yakin bahwa ia setan.

Abad demi abad berlalu. Bangsa pertama yang belajar tentang api telah menyimpan rahasia itu untuk para pendeta, yang tetap berada dalam kekayaan dan kekuasaan, sementara rakyat kedinginan. Bangsa kedua melupakan cara itu, dan malah memuja alat-alat untuk membuatnya. Bangsa yang ketiga memuja patung yang menyerupai Nur, sebab ialah yang telah mengajarkan hal itu. Yang keempat tetap menyimpan kisah api dalam kumpulan dongengnya: ada yang percaya, ada yang tidak. Bangsa yang kelima benar-benar mempergunakan api, dan itu bisa menghangatkan mereka, menanak makanan mereka, dan mempergunakannya untuk membuat alat-alat yang berguna bagi mereka.

Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, seorang bijaksana dan beberapa pengikutnya mengadakan perjalanan melalui negeri-negeri bangsa-bangsa tadi. Para pengikut itu tercengang melihat bermacam-macamnya upacara yang dilakukan bangsa-bangsa itu; dan mereka pun berkata kepada gurunya, “Tetapi semua kegiatan itu nyatanya berkaitan dengan pembuatan api, bukan yang lain. Kita harus mengubah mereka itu!”

Penyusunan Sejarah

Konon, ada sebuah kota yang terdiri dari dua jalan yang sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu, dan ketika ia mencapai jalan yang satu lagi, orang-orang melihat matanya berlinang air mata. “Ada yang meninggal di jalan sebelah itu!” teriak seseorang. Anak-anak yang disekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut

Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa darwis itu telah mengupas bawang.

Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan orang-orang dewasa di kedua jalan itu begitu sedih dan khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu masih saling berebut) sehingga mereka takut mengusut sebab-musabah kehebohan itu sampai tuntas.

Seorang bijaksana berusaha bernalar dengan orang-orang di kedua jalan tersebut, menanyakan mengapa mereka tidak mengusut sebab-musababnya. Dalam keadaan begitu bingung untuk memahami yang dikatakannya sendiri, beberapa orang berucap, “Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana.”

Kabar burung ini pun menyebar bagai kobaran api sehingga orang-orang di jalan ini beranggapan orang-orang di jalan yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.

Ketika ketenangan kembali terasa, masing-masing masyarakat memutuskan untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah, akhirnya kedua jalan di kota itu sama sekali ditinggalkan penghuninya.

Batas Dogma

Pada suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung berada dijalan di Ghazna, ibu kota negerinya. Dilihatnya seorang kuli mengangkut beban berat, yakni sebungkah batu yang didukung di punggungnya. Karena rasa kasihan terhadap kuli itu, Mahmud tidak bisa menahan perasaannya, katanya memerintah:

”Jatuhkan batu itu, kuli.”

Perintah itupun langsung dilaksanakan. Batu tersebut berada di tengah jalan, merupakan gangguan bagi siapapun yang ingin lewat, bertahun-tahun lamanya. Akhirnya sejumlah warga memohon raja agar memerintahkan orang memindahkan batu itu.

Namun Mahmud, menyadari akan kebijaksanaan administratif, terpaksa menjawab.

”Hal yang sudah dilaksanakan berdasarkan perintah, tidak bisa dibatalkan oleh perintah yang sama derajatnya. Sebab kalau demikian, rakyat akan beranggapan bahwa perintah raja hanya berdasarkan kehendak sesaat saja. Jadi, biar saja batu itu di situ.”

Oleh karenanya batu tersebut tetap berada di tengah jalan itu selama masa pemerintahan Mahmud. Bahkan ketika ia meninggal batu itu tidak dipindahkan, karena orang-orang masih menghormati perintah raja.

Kisah itu sangat terkenal. Orang-orang mengambil maknanya berdasarkan salah satu dari tiga tafsiran, masing-masing sesuai dengan kemampuannya.

Raksasa dan Sufi

Seorang ahli sufi yang sedang mengadakan perjalanan lewat sebuah perbukitan yang terpencil tiba-tiba berhadapan dengan raksasa–setan tinggi besar, yang akan menghancurkannya. Sufi itu berkata, “Baik, silahkan mencobanya; tetapi aku bisa mengalahkanmu, sebab aku sangat perkasa dalam pelbagai hal, lebih dari yang kau bayangkan.” “Omong kosong,” kata Raksasa. “Kau ahli Sufi, yang terpikat pada masalah rohani. Kau tak akan bisa mengalahkan aku, sebab aku memiliki kekuatan badaniah, aku tiga puluh kali lebih besar darimu.”

“Kalau kau menginginkan uji kekuatan,” kata Sufi, “ambil batu ini dan perahlah air darinya.” Ia memungut sebutir batu kecil lalu memberikannya kepada Si Setan. Setelah berusaha sekuat tenaga, Raksasa itu menyerah. “Tak mungkin; tak ada air dalam batu ini. Coba tunjukkan kalau memang ada airnya.” Dalam keremang-remangan, Sang Sufi mengambil batu itu, juga mengambil sebutir telur dari kantungnya, lalu memerah keduanya, meletakkan tangannya di atas tangan Raksasa. Sang Raksasa sangat terkesan; sebab orang memang suka terkesan oleh hal-hal yang tidak dipahami, dan menghargaiya tinggi-tinggi, lebih tinggi dari yang seharusnya mereka berikan.

“Aku harus memikirkan hal ini,” katanya. “Mari kuajak kau ke guaku, dan akan kujamu kau malam ini.” Sang Sufi mengikutinya masuk ke sebuah gua yang sangat besar, penuh dengan barang-barang milik para pengembara tersesat yang sudah dibunuh, benar-benar merupakan gua Aladin. “Berbaringlah disebelahku, dan tidurlah,” kata Si Setan, “besok aku akan rnemberikan keputusan.” Iapun membaringkan dirinya dan segera tertidur.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...