Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Ilmuan Islam Perintis Pengobatan Penyakit Jiwa

Peradaban Barat kerap mengklaim bahwa Philipe Pinel (1793) merupakan orang pertama yang memperkenalkan metode penyembuhan penyakit jiwa. Tak cuma itu, Barat juga menyatakan rumah sakit jiwa (RSJ) pertama di dunia adalah Vienna's Narrenturm yang dibangun pada tahun 1784. Benarkah klaim peradaban Barat itu?

Klaim itu tentu sangat tak berdasar. Sebab, jauh sebelum Barat mengenal metode penyembuhan penyakit jiwa berikut tempat perawatannya, pada abad ke-8 M di Kota Baghdad. Menurut Syed Ibrahim B PhD dalam bukunya berjudul "Islamic Medicine: 1000 years ahead of its times", mengatakan, rumah sakit jiwa atau insane asylums telah didirikan para dokter dan psikolog Islam beberapa abad sebelum peradaban Barat menemukannya.

Hampir semua kota besar di dunia Islam pada era keemasan telah memiliki rumah sakit jiwa. Selain di Baghdad ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah insane asylum juga terdapat di kota Fes, Maroko. Selain itu, rumah sakit jiwa juga sudah berdiri di Kairo, Mesir pada tahun 800 M. Pada abad ke-13 M, kota Damaskus dan Aleppo juga telah memiliki rumah sakit jiwa.

Mari kita bandingkan dengan Inggris. Negara terkemuka di Eropa itu baru membuka rumah sakit jiwa pada t1831 M. Rumah sakit jiwa pertama di negeri Ratu Elizabeth itu adalah Middlesex County Asylum yang terletak di Hanwell sebelah barat London. Pemerintah Inggris membuka rumah sakit jiwa setelah mendapat desakan dari Middlesex County Court Judges. Setelah itu Inggris mengeluarkan Madhouse Act 1828 M.

Lalu bagaimana peradaban Islam mulai mengembangkan pengobatan kesehatan jiwa? Menurut Syed Ibrahim, berbeda dengan para dokter Kristen di abad pertengahan yang mendasarkan sakit jiwa pada penjelasan yang takhayul, dokter Muslim justru lebih bersifat rasional.

 

Rahasia di Balik Penemuan Kacamata

Kacamata merupakan salah satu penemuan terpenting dalam sejarah kehidupan umat manusia. Setiap peradaban mengklaim sebagai penemu kacamata. Akibatnya, asal-usul kacamata pun cenderung tak jelas dari mana dan kapan ditemukan.

Lutfallah Gari, seorang peneliti sejarah sains dan teknologi Islam dari Arab Saudi mencoba menelusuri rahasia penemuan kacamata secara mendalam. Ia mencoba membedah sejumlah sumber asli dan meneliti literatur tambahan. Investigasi yang dilakukannya itu membuahkan sebuah titik terang. Ia menemukan fakta bahwa peradaban Muslim di era keemasan memiliki peran penting dalam menemukan alat bantu baca dan lihat itu.

Lewat tulisannya bertajuk The Invention of Spectacles between the East and the West, Lutfallah mengungkapkan, peradaban Barat kerap mengklaim sebegai penemu kacamata. Padahal, jauh sebelum masyarakat Barat mengenal kacamata, peradaban Islam telah menemukannya. Menurut dia, dunia Barat telah membuat sejarah penemuan kacamata yang kenyataannya hanyalah sebuah mitos dan kebohongan belaka.

''Mereka sengaja membuat sejarah bahwa kacamata itu muncul saat Etnosentrisme,'' papar Lutfallah. Menurut dia, sebelum peradaban manusia mengenal kacamata, para ilmuwan tdari berbagai peradaban telah menemukan lensa. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya kaca.

Lensa juga dikenal pada beberapa peradaban seperti Romawi, Yunani, Hellenistik dan Islam. Berdasarkan bukti yang ada, lensa-lensa pada saat itu tidak digunakan untuk magnification (perbesaran), tapi untuk pembakaran. Caranya dengan memusatkan cahaya matahari pada fokus lensa/titik api lensa.

Sejarah Penanggalan Islam

Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari.

Hampir seluruh umat Islam di seluruh dunia mengenal sistem kalender masehi (M). Bahkan, ketika diminta untuk menyebutkan nama-nama bulan masehi, mereka dengan mudah mengucapkannya.

Sebaliknya, ketika dimintai pendapatnya tentang kalender Islam atau hijriyah, kebanyakan mereka akan menggelengkan kepala, tanda tak tahu. Sungguh, itu sangat memprihatinkan sebab mereka tidak mengetahui kalendernya sendiri. Bahkan, mereka tak tahu bulan apa yang pertama dari kalender hijriyah.

''Ini disebabkan minimnya sosialisasi keberadaan kalender hijriyah pada umat Islam,'' jelas dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo, Semarang, Muhammad Izzudin MAg, kepada Republika.

Izzuddin menjelaskan, sistem penanggalan Islam dimulai pada saat Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah. Perpindahan (hijrahnya) Rasulullah ini, kata dia, menunjukkan adanya tujuan dalam menggapai kedamaian bagi umat Islam. ''Meninggalkan keburukan menuju kebaikan,'' tegasnya.

Seperti diketahui, peristiwa hijrah Rasulullah itu terjadi pada hari Kamis, bertepatan dengan 15 Juli 622 M. Mulai tahun itulah dihitung sebagai tahun hijriyah. Berbeda dengan tahun masehi yang dimulai pada 1 Januari, sistem penanggalan Islam diawali pada 1 Muharram. Dan, dalam setahun, sama-sama berisi 12 bulan.

Apotek, Buah Karya Peradaban Islam

Peradaban Islam dikenal sebagai perintis dalam bidang farmasi. Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam sudah berhasil menguasai riset ilimiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obatan sederhana dan campuran. Selain menguasai bidang farmasi, masyarakat Muslim pun tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki apotek atau toko obat.

Sharif Kaf al-Ghazal dalam tulisannya bertajuk The valuable contributions of Al-Razi (Rhazes) in the history of pharmacy during the Middle Ages, mengungkapkan, apotek pertama di dunia berdiri di kota Baghdad pada tahun 754 M. Saat itu, Baghdad sudah menjadi ibukota Kekhalifahan Abbasiyah. ''Apotek pertama di Baghdad didirikan oleh para apoteker Muslim,'' ungkap al-Ghazal.

Jauh sebelum peradaban Barat mengenal apotek, masyarakat Islam lebih dulu menguasainya. Sejarah mencatat, apoteker pertama di Eropa baru muncul pada akhir abad ke-14, bernama Geoffrey Chaucer (1342-1400). Ia dikenal sebagai apoteker asal Inggris. Apotek mulai menyebar di Eropa setelah pada abad ke-15 hingga ke-19 M, praktisi apoteker mulai berkembang di benua itu.

''Umat Islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama,'' papar Howard R Turner dalam bukunya bertajuk Science in Medievel Islam . Philip K Hitti dalam bukunya yang terkenal bertajuk History of Arab, juga mengakui bahawa peradaban Islamlah yang pertama kali mendirikan apotek.

''Selain itu, peradaban Islam juga merupakan pendiri sekolah farmasi pertama,'' ungkap K Hitti. Ia juga membuktikan bahwa umat Muslim di era kekhalifahan sebagai pencipta pharmacopoeia yang pertama. Perkembangan ilmu farmasi yang begitu cepat, membuat apotek atau toko-toko obat tumbuh menjamur di kota-kota Islam.

Hampir di setiap rumah sakit besar di kota-kota Islam dilengkapi dengan apotek atau instalasi farmakologi. Apotek-apotek itu dikelola oleh apoteker yang menguasai ilmu peracikan obat. ''Kaum Muslimin menyumbang begitu banyak hal terhadap perkembangan apotek atau obat,'' ungkap Howard R Turner dalam bukunya bertajuk Science in Medievel Islam .

Kamera Obscura yang Mengubah Dunia

Surat kabar terkemuka di Inggris, The Independent pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk ''Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.'' The Independent menyebut sekitar 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura.

Kamera merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.

Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M, al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura.

Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.

Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ''ruang gelap''. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.

"Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),'' ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz's perspective.

Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.

Peralatan Laboratorium Warisan Peradaban Islam

Peradaban Islam di era keemasan menguasai beragam ilmu pengetahuan, salah satunya adalah kimia. Para sejarawan sains mengakui bahwa ilmu kimia merupakan anak kandung dari peradaban Islam. ''Ahli kimia Muslim adalah pendiri ilmu kimia," tutur Will Durant dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith.

Ilmuwan berkebangsaan Jerman di abad ke-18 M itu mengakui bahwa ilmu kimia hampir sepenuhnya diciptakan peradaban Islam. "Dalam bidang ini (kimia), peradaban Yunani (seperti kita ketahui) hanya sebatas melahirkan hipotesis yang samar-samar," ungkap Durant.

Para kimiawan Muslim di era kekhalifahan telah meletakan dasar-dasar kimia modern yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Betapa tidak, para kimiawan Muslim telah berhasil menemukan sederet zat atau senyawa kimia yang sangat penting, sepertil asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, alkohol, larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.

Selain itu, para ahli kimia Muslim juga telah memperkenalkan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Semua penemuan itu tentunya didukung dengan peralatan laboratorium yang canggih, pada zamannya.

Kehebatan Pasukan Kavaleri Islam

Tentara Islam dikenal memiliki pasukan berkuda yang sangat hebat. Di era kejayaan Islam, kekuatan para prajurit Islam benar-benar tertumpu pada keahlian berkuda dan memanah. Sejarah peradaban Islam mencatat, kehebatan pasukan berkuda Islam telah menjadi kunci kemenangan dalam berbagai pertempuran penting.

Pasukan berkuda biasa disebut kavaleri, yang berasal dari bahasa Latin caballus dan bahasa Prancis chevalier yang berarti "pasukan berkuda". Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam karyanya bertajuk Islamic Technology: An Illustrated History, mengungkapkan, sebelum Islam berkembang, peradaban lain, seperti Bizantium telah memiliki pasukan kavaleri yang tangguh.

Menurut al-Hassan, pada abad pertama Hijriah (ke-7 M) kavaleri telah menjadi kekuatan utama militer Bizantium. Pasukan kavaleri yang tangguh juga telah dimiliki bangsa Persia, jauh sebelum Islam berkembang. Ksatria berkuda Iran, Asawira , tutur al-Hassan, merupakan pasukan yang mampu menurunkan kekuatan kavaleri yang lebih besar ke medan perang daripada bangsa Arab.

"Karena pada masa awal perkembangan Islam, jumlah pasukan berkuda dalam ketentaraan masih sedikit, khususnya sebelum penaklukan Makkah," papar al-Hassan dan Hill. Tioe medan yang datar dan terbuka, ungkap al-Hassan, sangat cocok untuk kavaleri. Namun, bangsa-bangsa Arab, menghindari medan perang seperti itu.

Menurut al-Hassan, militer Islam mulai membentuk pasukan berkuda atau kavaleri pada zaman Khilafah Rasyidah. Adalah Khalifah Umar bin Khattab (berkuasa pada tahun 31-41 H) yang berupaya untuk mengumpulkan kuda bagi tujuan milter dari berbagai daerah. "Hasilnya, terdapat sekitar 4.000 ekor kuda di Kufah. Setelah itu, sedikit demi sedikit strategi kemiliteran Islam berubah, '' ungkap al-Hassan.

Aneka Terapi Warisan Kedokteran Islam

Kontribusi peradaban Islam dalam dunia kedokteran sungguh sangat tak ternilai. Di era keemasannya, peradaban Islam telah melahirkan sederet dokter terkemuka yang telah meletakkan dasar-dasar kedokteran modern. Dunia Islam juga tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki rumah sakit yang dikelola secara profesional.

Dunia kedokteran Islam di zaman kekhalifahan telah mewariskan sederet peninggalan bagi peradaban modern. Salah satu peninggalan terpenting dari kedokteran Islam adalah terapi kedokteran. Para dokter Muslim melalui kitab atau risalah yang ditulisnya telah memperkenalkan aneka terapi untuk mengobati beragam penyakit.

Para dokter Muslim di era kejayaan mencoba membuktikan hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa ''semua penyakit pasti ada obatnya.'' Lewat aneka terapi yang dikembangkannya, para dokter Muslim berhasil menemukan metode penyembuhan penyakit berdasarkan penyebabnya.

Beragam jenis terapi yang dikembangkan kedokteran Islam itu antara lain; aromaterapi, terapi kanker, kemoterapi, kromoterapi, hirudoterapi, Parmacoterapi, Pisiterapi, psikoterapi, Pitoterapi, urologi, litotomi, dan terapi seksual.

Aromaterapi

Aromaterapi merupakan salah satu jenis pengobatan alternatif yang menggunakan bahan cairan tanaman yang mudah menguap, dikenal sebagai minyak esensial, dan senyawa aromatik lainnya dari tumbuhan yang bertujuan untuk mempengaruhi suasana hati atau kesehatan seseorang.

Stanley Finger dalam karyanya bertajuk Origins of Neuroscience: A History of Explorations Into Brain Function, mengungkapkan, penyulingan uap air pertama kali ditemukan dokter Muslim bernama Ibnu Sina (980 M – 1037 M). Ibnu Sina menggunakan penyulingan uap air itu untuk membuat minyak esensial yang digunakan untuk mengobati pasiennya. Metode pengobatan ini disebut aromaterapi. ''Ibnu Sina pun dijuluki sebagai orang pertama yang mengenalkan aromaterapi,'' ungkap Finger.

Teori Evolusi Ibnu Miskawaih

Teori ilmu pengetahuan yang telah kita pelajari tentang kehidupan yang selalu berkembang adalah teori evolusi. Teori itu menjelaskan bahwa dunia ini tidak bersifat statis, namun terus berubah. Sejak dibangku sekolah menengah, kita diperkenalkan dengan Charles Darwin (1809 M-1882 M) yang diklaim peradaban Barat sebagai pencetus teori evolusi.

Sejatinya, peradaban Islam di era kekhalifahan telah mengenal teori evolusi. Sekitar sembilan abad sebelum Darwin mencetuskan teori itu, seorang Ilmuwan Muslim asal Persia bernama Ibnu Miskawaih (932 M-1030 M) telah mengungkapkan teori evolusi itu. Menurut Muhammad Hamidullah dan Afzal Iqbal dalam karyanya bertajuk The Emergence of Islam: Lectures on the Development of Islamic World-view, Intellectual Tradition and Polity, Ibnu Miskawayh merupakan orang pertama yang memaparkan ide tentang evolusi secara jelas dan gamblang.

Menurut Hamidullah, ide teori evolusi telah ditemukan dalam karya Ibnu Miskawah yang berjudul al-Fawz al-Asghar. Ibnu Miskawaih mengemukakan teori evolusi makhluk hidup yang secara mendasar sama dengan Ikhwan al-Shafa’. Teori itu terdiri atas empat tahapan, yakni evolusi mineral, evolusi tumbuhan, evolusi hewan dan evolusi manusia.

Evolusi pertama adalah evolusi mineral, yakni bentuk kehidupan yang dihuni makhluk-makhluk rendah, misalnya batu, air, tanah. Dalam karya tersebut Ibnu Miskawaih mengungkapkan, "(Buku ini) menyatakan bahwa Allah merupakan yang pertama kali menciptakan zat dan diinvestasikan dengan energi untuk perkembangan. Zat diadopsi dari bentuk uap yang dianggap bentuk air karena waktu.''

Hamidullah menambahkan, dalam kitabnya itu, Ibnu Miskawaih juga menjelaskan tahapan selanjutnya dalam perkembangan adalah mineral kehidupan. Berbagai jenis batu dikembangkan oleh waktu. Bentuk tertinggi mereka berasal mirjan (karang/coral). Ini merupakan batu yang memiliki cabang di dalamnya seperti yang pohon. Setelah mineral kehidupan barulah perkembangan vegetasi dimulai.

Obat Kanker Warisan Kedokteran Islam

Kanker merupakan penyakit mematikan yang ditakuti umat manusia. Badan kesehatan dunia, WHO memperkirakan pada 2010, kanker akan menjadi penyakit penyebab kematian nomor wahid di dunia mengalahkan serangan jantung. Menurut prediksi WHO, pada 2030, akan ada 75 juta orang yang terkena kanker di seluruh dunia.

Sejatinya, kanker bukanlah penyakit baru. Di era kejayaan peradaban Islam, para dokter Muslim telah mampu mendiagnosis dan mengobati penyakit kanker. Tak hanya itu, dokter Muslim, seperti Ibnu Sina dan al-Baitar pun telah menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit yang mematikan itu.

Adalah al-Baitar, seorang ilmuwan Muslim abad ke-12 M yang berhasil menemukan ramuan herbal untuk meng obati kanker bernama Hindiba. Ramuan Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu mengandung zat antikanker yang juga bisa menyembuhkan tumor dan ganguan-gangguan neoplastic.

Kepala Departemen Sejarah dan Etika, Universitas Istanbul, Turki, Prof Nil Sari dalam karyanya Hindiba: A Drug for Cancer Treatment in Muslim Heritage, telah membuktikan khasiat dan kebenaran ramuan herbal Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu. Ia dan sejumlah dokter lainnya telah melakukan pengujian secara ilmiah dan bahkan telah mempatenkan Hindiba yang ditemukan al-Baitar.

Menurut Prof Nil Sari, Hindiba telah dikenal para ahli pengobatan (pharmacologis) Muslim, serta herbalis di dunia Islam. Umat Muslim telah menggunakan ramuan untuk menyembuhkan kanker jauh sebelum dokter di dunia Barat menemukannya, ungkap Prof Nil Sari.

Etika Kedokteran di Era Turki Usmani

Dari dulu hingga kini, dokter merupakan profesi yang sangat dihormati. Dunia kedokteran yang mulai berkembang pesat pada era kejayaan Islam telah menetapkan aturan atau kode etik bagi para dokter. Para dokter Muslim diwajibkan untuk memegang teguh etika kedokteran dalam membantu mengobati pasiennya.

Dunia kedokteran Islam mengalami masa kejayaannya hingga era kekhalifahan Turki Usmani. Pada masa ini, dalam menjalankan tugasnya, para dokter juga diatur oleh sebuah etika kedokteran yang sangat ketat. Menurut Akdeniz (Sari) N dalam karyanya Osmanlilarda Hekim ve Hekimlik Ahlaki (Dokter Ottoman dan Etika Kedokteran), kode etik merupakan panduan bagi para dokter dalam menjalankan tugasnya.

''Setiap dokter harus mematuhi etika kedokteran dalam setiap tindakannya,'' tutur Akdeniz. Menurut dia, secara garis besar ada empat hal yang harus dipegang teguh seorang dokter di era kekhalifahan Turki Usmani, yakni; kesederhanaan/kesopanan, kepuasan, harapan dan kesetiaan. Seorang dokter yang baik, papar Akdeniz, akan mematuhi keempat aturan dalam menjalankan praktiknya.

Para dokter di zaman Turki Usmani bersama-sama menyusun kode etik kedokteran. Mereka mengusulkan apa yang harus dilakukan serta yang tak boleh dilakukan dalam menjalankan praktik medis. Menurut Akdeniz, berdasarkan catatan para dokter di zaman itu, etika kedokteran mengatur perilaku dokter saat berinteraksi dengan pasiennya.

Pencapaian Dunia Islam di Bidang Metalurgi

Dunia metalurgi modern tampaknya patut berterima kasih kepada ilmuwan Muslim di era kekhalifahan. Betapa tidak. Para ilmuwan Muslim di zaman keemasan telah menemukan teknik metalurgi. Dalam beragam manuskrip, para saintis Islam telah menuliskan beragam informasi mengenai beraneka logam.

Bahkan, risalah-risalah alkemi dan kimia yang ditulis saintis Muslim pada abad pertengahan telah menjelaskan proses pengolahan logam non-besi. Saat itu, sudah terdapat perbedaan antara pekerjaan ahli metalurgi dengan ahli kimia. Manuskrip dan berbagai rujukan berbahasa Arab juga menggambarkan aktivitas ilmuwan Muslim di laboratorium dan tungku metalurgi.

Metalurgi berarti proses pengolahan bahan-bahan alam menjadi logam unsur yang selanjutnya menjadi logam dengan sifat-sifat yang diinginkan. Sedangkan, bahan dan organik alam yang ditemukan di kerak bumi disebut mineral, contohnya bauksit dan aluminosilikat. Mineral yang dapat dijadikan sumber untuk memproduksi bahan secara komersial disebut bijih.

Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R. Hill dalam bukunya bertajuk Islamic Technology: An Illustrated History menjelaskan berbagai jenis logam nonbesi yang merupakan hasil metalurgi yang telah dicapai pada era keemasan Islam. Logam tersebut adalah emas, perak, timah hitam, timah putih, seng, antimon, arsenik, tembaga, perunggu, kuningan dan kharisini.

Kemoterapi, Khazanah Warisan Islam

Setiap penyakit pasti ada obatnya. Demikian sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Muslim. Muhammad ibnu Ismail al-Bukhari (810 M-870 M) juga menegaskan hal tersebut dalam karyanya Sahih Bukhari, “Tidak ada penyakit yang dibuat oleh Allah tanpa ada pengobatannya.”

Allah menciptakan penyakit, Allah pula yang menyembuhkannya melalui seorang perantara, yaitu dokter. Dokter dipercaya menjadi seorang khalifah oleh Allah, untuk membantu menyembuhkan penyakit yang diderita pasien. Nidai, seorang dokter di abad ke- 16 M pernah mencoba memberikan nasihat kepada rekan-rekannya sesama dokter. Ia meminta kepada mereka untuk tidak berbangga diri karena berhasil menyembuhkan pasien.

Menurutnya, seorang dokter harus percaya bahwa kesembuhan datangnya dari Allah. "Jangan katakan saya telah menyembuhkan pasien, sebab asumsi itu adalah dusta. Penyakit dan pengobatan berasal dari Sang Pencipta. Dia lakukan apa yang jadi kehendak-Nya. Allah-lah yang berkendak," tutur Nidai.

Para dokter Muslim di era kejayaan peradaban Islam mempercayai hal tersebut. Keimanan yang demikian itu mendorong mereka untuk terus berinovasi dalam dunia kedokteran. Sehingga, mereka berhasil mengidentifikasi ragam penyakit beserta obat dan metode pengobatannya tanpa bertentangan dengan keyakinan agama. Salah satunya adalah Kemoterapi.

Terapi Warna, Warisan Kedokteran Islam

Islam mewariskan khazanah ilmu pengetahuan yang sangat kaya kepada peradaban modern. Berbagai macam penemuan para ilmuan Islam masih tetap berlaku dan dikembangkan hingga saat ini.

Mulai dari bidang pertanian, pertambangan, kesenian, ilmu-ilmu sosial, kedokteran, hingga manajemen pelayanan pos, merupakan tindak lanjut dari warisan Islam.

Di bidang kedokteran, banyak dokter Muslim berhasil menciptakan metode-metode pengobatan. Mereka berhasil menemukan aneka terapi untuk menyembuhkan ragam jenis penyakit. Salah satunya adalah terapi warna atau lebih dikenal kromoterapi.

Kromoterapi merupakan metode perawatan penyakit dengan menggunakan warna-warna. Terapi ini merupakan terapi suportif yang dapat mendukung terapi utama. Menurut praktisi kromoterapi, penyebab dari beberapa penyakit dapat diketahui dari pengurangan warna-warna tertentu dari sistem dalam tubuh manusia.

Kromoterapi, kadang-kadang disebut terapi warna atau colorology, merupakan metode obat alternatif. Dengan kata lain, seorang dokter (praktisi terapi) yang terlatih dalam kromoterapi dapat menggunakan warna dan cahaya untuk menyeimbangkan energi dalam tubuh seseorang yang mengalami kekurangan baik fisik, emosi, spiritual, maupun mental. Terapi cahaya terbukti dapat meringankan penyakit depresi yang tinggi.

Ahli kromoterapi menyatakan, mereka melakukan praktik sesuai dasar ilmiah. Menurut hasil penelitian mereka, warna membawa reaksi emosional manusia.

Armada Laut di Era Kejayaan Islam

Ilmu astronomi berkembang seiring dengan kebutuhan penjelajahan kaum Muslim ke berbagai belahan dunia. Pasalnya, astronomi bermanfaat untuk navigasi dalam upaya menjangkau negerinegeri yang jauh dari wilayah kekuasaan Islam. Dengan demikian, astronomi membantu mengembangkan misi dakwah Islam, juga memperkuat perkembangan ilmu pengetahuan umat. Dalam proses menggapai dua misi itu, tak jarang umat Islam harus berhadapan dengan pasukan musuh yang menghadang.

Maka dibutuhkan pasukan perang yang kuat dengan bekal pengetahuan perbintangan yang mumpuni. Dalam satu dekade sejak penaklukan Mesir, umat Islam berhadapan dengan Byzantium (Kekaisaran Romawi). Dalam persaingan itu, umat Islam berhasil menguasai Laut Tengah bagian timur, yakni Cyprus sekitar tahun 30 H (649 M), dan Rhodes pada tahun 52 H (672 M).

Pada saat itu, Kekaisaran Romawi memiliki armada angkatan laut yang hebat dan kuat di Laut Tengah. Mereka menjadi salah satu kekuatan militer terkuat di dunia pada zamannya. Maka, umat Muslim berpikir bagaimana cara melawan angkatan laut yang tak terkalahkan itu. Sejak saat itulah dibentuk armada angkatan laut Muslim. Di sini navigasi diperlukan untuk menuntun arah hingga ke tempat-tempat yang mereka tuju.

Kaum Muslim berkeyakinan, makin teliti seorang navigator dalam menentukan posisinya di tengah laut, berdasarkan peredaran matahari, bulan, atau bintang, makin tinggi pula akurasi perhitungan waktu dan tempat yang dituju. Dengan demikian, persiapan logistik selama perjalanan pun dapat dilakukan secara lebih matang.

Komunikasi Militer di Era Peradaban Islam

Pada abad ke-10 M, merpati pos dimanfaatkan untuk menyampai kan pesanpesan penting dan rahasia.

Tentara Muslim pada abad pertengahan banyak menggapai kesuksesan. Kesuksesan terbesar terjadi saat Penaklukan Arab pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 Masehi. Tak hanya itu, kesuksesan besar juga diraih saat kemenangan tentara Ayyubi dan Mamluk pada abad ke-6 H dan ke-7 H (ke-12 dan ke-13 M). Hal tersebut banyak tercantum dalam risalah militer Arab atau buku tentang perang.

Kesuksesan tentara Muslim tersebut tentunya didukung dengan sejumlah kecakapan yang dimiliki oleh tentara perang. Baik dari segi tentara itu sendiri, senjata, peralatan, tembok pertahan, maupun siasat. Satu hal lagi yang harus diperhitungkan dalam kesuksesan perang adalah komunikasi militernya.

Komunikasi merupakan syarat utama dalam setiap aktivitas manusia di dunia dimanapun orang atau komunitas itu berada. Komunikasi berfungsi untuk menyampaikan isi pernyataan kita kepada orang lain. Sama halnya dalam dunia militer, komunikasi merupakan sarana dalam membantu dan mendukung kerja serta kinerja satuan militer tersebut.


Ar Ard dan Pelancong Muslim

Rihla, atau karya-karya terkait perjalanan memang biasanya lebih dikategorikan sebagai karya sastra ketimbang karya geografi atau sejarah 

Banyak orang yang menyukai perjalanan ke berbagai tempat, tapi tidak semua orang menuangkannya dalam suatu tulisan yang bisa memberi manfaat pada orang lain. Kebanyakan orang hanya berjalan-jalan untuk mengisi waktu libur dan bersenang-senang semata, bukan untuk memperhatikan dan mengamati bumi Allah yang luas dan membagi hasil pengamatannya kepada sesama manusia.

Pada masa sekarang ini, walaupun teknologi informasi sudah begitu canggih, kisah perjalanan seseorang ke suatu tempat boleh jadi masih memberikan banyak keterangan yang menarik bagi para pembacanya. Ini menjadi lebih berkesan lagi pada masa-masa yang lalu, ketika pergi melancong masih sulit untuk dilakukan dan penyebaran informasi masih sangat terbatas. Tulisan ini akan mengangkat kisah-kisah perjalanan para pelancong muslim pada masa lalu serta sumbangan mereka terhadap pengetahuan.

Ian Richard Netton dalam pendahuluan bukunya, Islamic and Middle Eastern Geographers and Travellers, menyebutkan bahwa setidaknya ada empat faktor utama yang mendorong dilakukannya perjalanan oleh kaum muslimin. Pertama, rasa haus dan cinta terhadap pengetahuan, sebagaimana yang dianjurkan oleh Al-Quran dan al-Hadits. Kedua, dorongan untuk menunaikan ibadah Haji, meskipun jalan yang dilalui sangat jauh dan berbahaya. Ketiga, faktor komunikasi dan perdagangan, yaitu dorongan untuk menjalin komunikasi dan perdagangan di antara berbagai wilayah yang ada. Keempat, dan ini pada tingkat pemerintahan, dorongan untuk meluaskan pengaruh dan kekuasaan.

Keemiran Islam di Pulau Kreta

PARA pelajar sekolah menengah yang mempelajari sejarah dan mitologi Yunani Kuno tentu pernah mendengar sekilas tentang Pulau Kreta, tempat kelahiran legenda raja Minos, Minotaur, dan berbagai kisah aneh Yunani lainnya. Pulau yang bentuknya mirip Pulau Jawa itu terletak di perairan Mediterania (Bahr al-Rum) di selatan Yunani. Kreta merupakan salah satu pulau besar di Mediterania. Posisinya yang strategis menjadikannya sebagai tempat transit para pedagang di perairan tersebut. Karena posisinya yang dekat ke Eropa, selama berabad-abad pulau tersebut berada di bawah pengaruh Yunani, dan kemudian Romawi.

Ketika Islam muncul dan menyebar ke Afrika Utara, kehadiran Islam begitu terasa di perairan Mediterania. Belum genap satu abad tahun hijriah, Islam sudah masuk ke Semenanjung Iberia (Spanyol). Pulau-pulau di perairan Mediterania satu demi satu mulai jatuh ke tangan Islam, menyisakan permusuhan pihak Byzantium (Romawi Timur) dan Eropa Latin  penguasa awal wilayah-wilayah tersebut  yang sejak lama memang bersikap memerangi kaum muslimin.

Upaya-upaya penaklukkan Pulau Kreta telah berlangsung sejak awal masa Bani Umayyah. Dalam beberapa upaya penaklukkan, sebagian Pulau Kreta sempat jatuh ke tangan kaum muslimin, walaupun tidak berlangsung lama, karena pulau itu berhasil dikuasai kembali oleh Byzantium. Penguasaan Pulau Kreta oleh kaum muslimin baru terjadi secara permanen pada tahun 827, ketika sekumpulan besar kaum muslimin Andalusia yang terusir dari kampung halamannya memutuskan untuk masuk dan menguasai Pulau Kreta. Mereka kemudian mendirikan keemiran Islam di pulau tersebut dan mempertahankannya selama satu abad lebih terhadap upaya penguasaan kembali oleh pihak Byzantium.

Para Penunggang Unta di Benua Kangguru



Pada salah satu halamannya, sekitar dua minggu yang lalu, harian The Star menampilkan sebuah foto dengan keterangan singkat. Pada foto itu tampak seorang lelaki kulit putih dengan pakaian Asia Selatan sedang menggiring dua ekor unta di tengah kota Melbourne. Orang itu, Mark Austin, sedang menuju ke Museum Imigrasi dalam rangka memperingati ’Australia’s Muslim Camelers’ yang menjadi pionir pembukaan jalur transportasi di benua Kangguru itu antara tahun 1860 dan 1930-an.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa para penunggang unta dari Afghan dan sekitarnya pernah memberi kontribusi yang penting bagi perkembangan ekonomi Australia, serta bagi eksistensi Islam di benua kangguru itu. Mereka memang bukan kaum muslimin pertama yang datang ke benua tersebut. Sebelumnya sudah ada pelaut-pelaut Bugis yang tiba di benua itu – mereka datang untuk mencari tripang – jauh sebelum orang-orang kulit putih tiba di sana. Selain itu juga ada segelintir tawanan muslim dari negeri-negeri jajahan Inggris yang dibuang ke negeri itu. Namun, kehadiran para penunggang unta dari Afghan pada pertengahan abad ke-19 bisa dianggap sebagai kaum imigran muslim pertama yang bersifat permanen di Australia.


Berke Khan dan Golden Horde


KISAH penaklukkan Mongol di bawah kepemimpinan Jenghis Khan dan anak cucunya, merupakan salah satu episode yang sangat menarik dalam sejarah dunia (baca juga tulisan sebelumnya “Mongol: Penakluk yang Tertaklukkan”). Kemunculan Mongol pada masa itu bisa dianggap sebagai musibah yang sangat besar bagi dunia Islam, karena negeri-negeri Muslim, bahkan pusat kekhalifahan di Baghdad, jatuh ke tangan mereka, dan tidak sedikit kaum Muslimin yang menjadi korban.

Sebetulnya para pemimpin Mongol bukanlah orang-orang yang antiagama. Mereka memang bersikap sangat keras dan haus darah terhadap musuh di luar wilayah mereka, atau terhadap pihak yang sedang mereka taklukkan, kadang tanpa mengecualikan institusi-institusi keagamaan sekalipun. Namun, mereka relatif toleran terhadap agama-agama yang berkembang di wilayah yang mereka pimpin. Beberapa pemimpin Mongol sendiri ada yang menganut agama Kristen dan memiliki ibu atau istri Kristen. Agama Kristen Nestorian memang telah lama masuk ke wilayah Timur dan mendapat tempat di kalangan sebagian pemimpin Mongol. Di samping Kristen dan agama-agama lainnya, Islam juga mendapatkan toleransi di bawah Kekaisaran Mongol.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...