Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Awang Garang, Panglima Laut Bermata Satu

Riau merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Sumatera dan beribukota Pekanbaru. Provinsi Riau sebagian besar merupakan wilayah perairan dan termasuk jalur lalu lintas transportasi laut yang sangat strategis dan padat. Bahkan, sejak ratusan tahun yang lalu, perairan Riau sangat ramai dengan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan dunia kelautan. Tidak terkecuali kegiatan para lanun yang sangat leluasa berkeliaran di perairan itu. Mereka merampas muatan perahu dagang yang sedang melintas di wilayah itu. Masyarakat pesisir sangat resah, karena para lanun tersebut tidak hanya merampas harta benda penduduk, tetapi juga menculik anak-anak gadis untuk kemudian mereka perkosa. Oleh karena itulah, para Datuk dan Batin berusaha untuk menghalau lanun-lanun tersebut dengan berbagai cara.

Diceritakan dalam sebuah cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Riau, bahwa pada zaman dahulu kala, untuk menghalau lanun-lanun tersebut, para Datuk dan Batin dibantu oleh seorang pemuda yang bernama Awang Garang. Atas idenya, para Datuk dan Batin berhasil membuat sebuah kapal perang untuk menumpas para lanun. Siapakah sebenarnya Awang Garang itu? Bagaimana ia membantu para Datuk dan Batin dalam menumpas para lanun tersebut? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Awang Garang Panglima Laut Bermata Satu berikut ini.

* * *


Sabai nan Aluih

Di daerah Sumatra Barat, Indonesia, terkenal sebuah kaba (prosa Minangkabau) yang sering dinyanyikan oleh para tukang kaba sejak dahulu kala. Dalam kaba tersebut diceritakan bahwa Sabai nan Aluih adalah seorang gadis pembela kebenaran dan penumpas kejahatan. Bagaimana Sabai nan Aluih membela kebenaran dan menumpas kejahatan? Kisah selengkapnya dapat Anda ikuti dalam cerita Sabai nan Aluih berikut ini.

* * *

Alkisah, di Padang Tarok, Sumatra Barat, hiduplah sepasang suami istri, Rajo Babanding dan Sadun Saribai. Mereka tinggal bersama kedua orang anaknya di sebuah rumah bergojong (berujung) empat yang terletak di sekitar hilir Sungai Batang Agam. Anaknya yang sulung adalah seorang gadis cantik bernama Sabai nan Aluih, sedangkan anak bungsunya seorang pemuda tampan bernama Mangkutak Alam. Meskipun dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang sama, kedua kakak beradik tersebut memiliki sifat yang berbeda.

Mangkutak adalah seorang pemalas. Kerjanya setiap hari hanya bermain layang-layang, sehingga kulitnya menjadi hitam karena terbakar sinar matahari. Sedangkan Sabai nan Aluih adalah gadis cantik yang rajin membantu pekerjaan ibunya dan senantiasa mengisi waktu luangnya dengan menenun dan merenda. Sesuai dengan namanya Sabai nan Aluih (Sabai yang halus atau lembut), ia berbudi pekerti luhur, santun dalam berbicara, dan hormat kepada yang tua. Tak heran jika semua orang menyukainya.

Ucapan Ajaib dari Peri

Dahulu, ada seorang janda yang memiliki dua anak perempuan. Anak yang sulung angkuh dan pemarah seperti ibunya, sedangkan yang bungsu manis dan lemah lembut.

Sang ibu sangat memanjakan anaksulung nya yang memiliki sifat yang mirip dengannya, dan memperlakukan si bungsu dengan sangat buruk. Si bungsu disuruhnya melakukan hamper semua pekerjaan di rumah. Salah satu dari tugas si bungsu yang malang adalah berjalan kaki 1 kilometer jauhnya ke sebuah mata air dan membawa pulang air dalam sebuah ember besar.

Pada suatu hari saat si bungsu sedang mengambil air di mata air, seorang wanita tua datang dan meminta air untuk minum.

“Tunggu sebentar, akan kuambilkan air yang bersih untuk Ibu,” kata si bungsu kepada wanita tua itu. Diambilnya air yang paling jernih dan bersih, lalu diberikannya kepada wanita tua itu dengan menggunakan teko air agar dapat dengan mudah diminum.

Wanita tua yang sebenarnya adalah seorang peri itu berkata, “Kamu sangat sopan dan suka menolong, jadi akan kuberikan keajaiban untukmu. Setiap kata yang kamu ucapkan akan mengeluarkan sekuntum bunga, batu permata, dan mutiara dari mulutmu.”

Si bungsu tidak mengerti maksud wanita tua itu. Ia hanya tersenyum lalu berpamitan dan berjalan pulang.

Peri dan Hutan Berkabut

Di sebuah desa hiduplah seorang anak perempuan yang lugu. Sheila namanya. Ia senang sekali bermain di tepi hutan. Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Penduduk desa itu percaya, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali. Bagian dalam hutan itu diselubungi kabut tebal. Tak seorang pun dapat menemukan jalan pulang jika sudah tersesat.

Sheila selalu mengingat pesan ibunya. Namun ia juga penasaran ingin mengetahui daerah berkabut itu. Setiap kali pergi bermain, ibu Sheila selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen, coklat, dan sebotol jus buah. Sheila sering datang ke tempat perbatasan kabut di hutan. Ia duduk di bawah pohon dan menikmati bekalnya di sana. Sheila ingin sekali melangkahkan kakinya ke dalam daerah berkabut itu. Namun ia takut.

Suatu kali, seperti biasa Sheila datang ke daerah perbatasan kabut. Seperti biasa ia duduk menikmati bekalnya. Tiba-tiba Sheila merasa ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling untuk mencari tahu. Namun Sheila tak menemukan siapa-siapa. “Hei! Siapa pun itu, keluarlah! Jika kalian mau, kalian dapat makan kue bersamaku,” teriak Sheila penasaran.

Mendengar tawaran Sheila, beberapa makhluk memberanikan diri muncul di depan Sheila. Tampak tiga peri di hadapan Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Di punggungnya ada sayap. Telinga mereka berujung lancip. Dengan takut-takut mereka menghampiri Sheila. Anak kecil pemberani itu tanpa ragu-ragu menyodorkan bekalnya untuk dimakan bersama-sama. Peri-peri itu bernama Pio, Plea, dan Plop. Ketiga peri itu kakak beradik.


Kintaro

Pada jaman dahulu, di tengah gunung Ashigara hiduplah seorang anak laki-laki yang penuh semangat. Anak laki-laki ini bernama Kintaro. Ia kuat sejak lahir. Begitu kuatnya sampai-sampai ia bisa menarik tali yang diikat di lesung dan menggerakkan lesung berat itu sambil merangkak.

Ketika Kintaro mulai bisa berjalan, ibunya menjahitkan rompi berwarna merah untuk Kintaro. Rompi itu besar dan masih terlalu longgar bagi Kintaro. Tapi itu disengaja karena ibunya ingin agar Kintaro tumbuh dengan cepat supaya rompi itu sesuai untuk Kintaro.

Kintaro menjadi teman dan sahabat yang menyenangkan. Temannya adalah binatang-binatang gunung, misalnya kelinci, monyet, dan lain-lain. Semuanya menjadi sangat suka pada Kintaro. Setiap hari Kintaro pergi ke gunung untuk berkumpul dan bermain dengan binatang-binatang itu.

“Mari kita main kejar-kejaran sampai ke gunung sana.”
“Hup! Hup! Hup!”
Hari ini mereka bermain kejar-kejaran, keesokan harinya bermain gulat.
“Hakkeyoi! Ayo! Ayo!”
Walaupun bergulat melawan binatang, tidak ada lawan yang setanding bagi Kintaro.
“Ayo! Ayo! Kintaro menang lagi!”

Kintaro tumbuh besar dengan cepat, tanpa disadari rompinya menjadi cocok di tubuhnya.

Putri Labu

Pada zaman dahulu di sebuah kampung, hiduplah seorang kakek dan seorang nenek yang tidak dikaruniai seorang anak pun.

Suatu hari, ketika Nenek mencuci pakaian di sungai, dari arah hulu mengalir sebuah labu yang sangat besar.
"Wow! Betapa besarnya labu itu!"
Kemudian Nenek memungutnya, dan membawanya pulang ke rumah untuk diperlihatkan kepada Kakek.

"Wah, tampaknya labu ini enak sekali, Nek! Ayo, segera kita santap."
Nenek meletakkan buah labu di atas papan pemotong, dan membelahnya menjadi dua. Tetapi, dari dalam buah labu tersebut keluar seorang bayi mungil yang sangat cantik dan lucu.
"Wah, ajaib! Anak ini pasti diperuntukkan bagi kita dari Sang Dewata, ya."
"Benar. Kita harus membesarkannya dengan penuh kasih sayang."

Kakek dan Nenek sangat gembira menerima kehadiran bayi tersebut. Mereka menamainya Putri Labu, dan membesarkannya dengan sangat hati-hati serta punuh kasih sayang.

Putri Labu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Mendengar kabar tentang kecantikan Putri Labu, seorang pemuda dari keluarga terkaya di desa itu menemui Kakek dan Nenek,

"Izinkanlah dia menjadi istriku."
Dengan perasaan gembira, Kakek dan Nenek berkata,
"Itu merupakan suatu kehormatan."
Keesokan harinya Kakek dan Nenek berangkat ke kota untuk membeli kimono bagi putrinya.

Putri Tanabata

Pada jaman dahulu kala, di suatu desa hiduplah seorang pemuda. Ia hidup dengan mengumpulkan kayu bakar di gunung atau membajak ladang. Pada suatu hari, pemuda itu menemukan benda yang aneh di tengah perjalanan pulang dari ladang.

“Apa ini? Oh, ini pakaian! Alangkah indahnya pakaian ini!”

Ia belum pernah melihat pakaian seindah itu. Muncul keinginan untuk memiliki pakaian itu. Ia memasukkan pakaian itu ke dalam keranjang dengan hati-hati dan bersiap pulang ke rumah.

Pada saat itu…

“Permisi…”
“Eh, siapa yang memanggilku?”
Muncullah seorang wanita yang cantik dari semak-semak dekat kolam.
“Ya, sayalah memanggil Anda, Tuan.”
“Ada apa?”
“Tolong kembalikan pakaian bidadari saya.”
“Pa-pakaian bidadari?”
“Betul, kalau tidak ada pakaian bidadari itu, saya tidak bisa pulang ke langit.”
Wanita itu berkata dengan raut muka hampir menangis.

Orang Yang Kaya Karena Burung Bulbul

Alkisah, pada jaman dahulu kala, terlihat sesosok laki-laki yang berjalan terhuyung-huyung di bawah langit musim dingin. Laki-laki itu bekerja dengan menjual teh, selain itu ia juga menjual berbagai barang kecil lainnya. Hari ini entah mengapa barang dagangannya sama sekali tidak terjual.

Laki-laki itu berjalan di gunung yang sepi—tahu-tahu ia sudah berada di dalam belukar bambu. Agaknya ia tersesat. Ia melewati belukar bambu yang gelap, lantas secara ajaib keluar ke tempat yang terang. Di taman itu tercium bau harum bunga plum. Laki-laki itu mendekatkan mukanya ke bunga plum.
“Oh, harum sekali.”
Tiba-tiba terdengar suara tertawa wanita. Muncullah empat gadis yang cantik dari balik pohon plum. Laki-laki itu dituntun oleh gadis-gadis itu menuju ke rumahnya.

Lalu muncul seorang wanita lain.
“Saya adalah ibu dari gadis-gadis ini. Silakan bersantai dan menginap malam ini,” kata wanita itu, lalu membeli semua barang dagangan laki-laki itu.
Keesokan harinya, ibu berkata lagi menegaskan, "Rumah ini adalah rumah yang isinya hanya wanita saja, jadi silahkan bersantai. Selain itu, saya punya empat anak gadis. Silakan menjadi suami salah satu di antara mereka."
Kelihatannya kisah ini seperti mimpi. Laki-laki itu lantas menjadi suami dari anak gadis yang tertua.

Tikus Pembuat Onigiri

Pada zaman dahulu, ada sepasang Kakek dan Nenek yang amat rukun. Setiap pagi Kakek pergi ke gunung menebang kayu, lalu menjualnya ke kota. Dan Nenek membuatkan tiga bulatan nasi (onigiri) yang sangat lezat untuk bekal.
"Selamat bekerja, Kek. Hati-hati, ya!"
Nenk mengantarkan kepergian Kakek sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Terima kasih ya Nek, kalau aku makan onigiri buatan Nenek, tenagaku bertambah."

Tiga onigiri tadi dibuat dari beras mereka yang terakhir.

Kakek yang telah sampai di gunung berkata, "Yo..ho! Para pohon, aku akan mengganggu, aku akan menebang dahan-dahanmu yang kering."

Kakek mulai menebang dahan-dahan kering, dan mengumpulkannya. Binatang-binatang datang berkumpul karena bau lezat yang disebarkan oleh onigiri-onigiri itu.

"Kalau ini sudah selesai, kita akan sarapan. Kalian pun akan kubagi."

Kelinci dan tupai yang rajin memakan onigiri-onigiri itu membantu Kakek mengumpulkan dahan-dahan kering.

"Terima kasih ya, semuanya. Sebentar lagi kita makan bersama."

The Legend of Kusanagi

Menurut kojiki, dewa Jepang Susa-no-o sedang menolong sebuah keluarga yang berdukacita dari Kunitsukami (dewa-dewa bumi) yang dikepalai Ashinazuchi di provinsi Izumo. Ashinazuchi bercerita pada Susa-no-o bahwa keluarganya sedang diancam oleh monster ular berkepala 8 (Yamata no Orochi). Monster tersebut telah memakan 7 dari 8 anak perempuan keluarga tersebut. Putri yang tersisa adalah Putri Kushinada. Susa-no-o, yang merupakan adik laki-laki dewi Amaterasu (lihat gambar atas), menyelidiki hal tersebut dan kembali dengan sebuah rencana untuk mengalahkan Yamata no Orochi. 

Sekembalinya dari perjalanan, ia menikahi putri Kushinada. Dalam melakukan rencananya membunuh Yamata no Orochi, ia menyiapkan 8 tong sake yang diletakkan di belakang pagar dengan 8 gerbang. Yamata no Orochi kemudian tertarik pada umpan tersebut dan kepalanya masuk ke masing-masing gerbang. Dalam kesempatan ini Susa-no-o menyerang dan membunuh monster tersebut dengan pedang Worochi no Aara-massa. Dia membelah tiap kepala sampai ekornya dan pada ekor yang keempat, dia menemukan pedang di dalamnya. Lalu ia menamakan pedang tersebut Ama no Murakumo no Tsurugi yang kemudian dipersembahkan kepada Amaterasu untuk kedukaannya yang lalu tentang masalah Yamata no Orochi.

Issun-Boushi / Si-Jempol

Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang tidak memiliki anak. Suatu hari mereka pergi ke sebuah kuil dan berdoa, "Oh, tolong berilah kami anak. Kami sungguh menginginkan seorang anak." Dalam perjalanan pulang, mereka mendengar isak tangis dari rerumputan. Mereka mendekati rerumputan itu dan menemukan seorang bayi laki-laki yang sangat mungil terbungkus dengan selimut berwarna merah terang.
"Bayi siapa ini?" tanya sang suami.
"Entahlah. Mungkin bayi ini adalah jawaban dari doa kita", kata sang istri.
Mereka membawa pulang bayi mungil itu ke rumah dan membesarkannya selayaknya anak sendiri.

Sang bayi mungil tumbuh dengan sehat, tetapi ia tidak bertumbuh besar. Kini besarnya pun tidak sampai sebesar jempol manusia. Bertahun-tahun ia dirawat dengan baik, tetapi ia sama sekali tidak bertumbuh. Tingginya hanya 1 inci (di jepang disebut 1 sun yang tingginya kira-kira 1 inci). Maka dari itu, orang-orang memanggilnya Issun-boushi (one inch boy).

Kchi/Kachi Yama (Gunung Crek-crek)

Di zaman dulu hidup sepasang kakek dan nenek. Setiap kali kakek bekerja di ladang, tanuki (rubah) datang mengganggu dengan bernyanyi-nyanyi. Lirik lagu yang dinyanyikan tanuki berisi kutukan agar panen gagal. Bukan cuma itu, tanuki juga menggali dan memakan bibit ubi yang ditanam kakek di ladang. Kakek sangat marah dan memasang perangkap.

"Hehehe... Si Kakek sudah tidak ada. Sekarang akan kumakan habis ubi milik tua bangka itu!", kata tanuki kegirangan.
Grusuk, grusuk! Gubrak!
"Hei kenapa ada lubang di tengah ladang? Arggh... Jangan-jangan ini perangkap? Aku harus segera keluar dari sisni!!"
"Hah! Kena kau tanuki kurang ajar!" kata kakek mengolok-olok tanuki. "Sebentar lagi kamu akan menjadi potongan daging dalam supku!"

Tanuki yang masuk perangkap diikat, dan dibawa pulang. Setelah diletakkan di dapur, kakek kembali ke ladang. Nenek yang menjumpai tanuki di dapur sangat terkejut melihatnya.
"Kamu Tanuki yang merusak ladang kami. Mengapa kamu ada di sini?" tanya nenek yang tidak tahu apa yang terjadi.
"Kakek berhasil menangkapku. Aku menyesal telah merusak ladangmu. Sebelum aku mati, izinkan aku berbuat suatu kebaikan untuk kalian", kata tanuki memohon.

"Memangnya kami sebodoh itu? Tanuki itu licik, kapan Tanuki berbuat baik?" jawab nenek keras kepala.
"Sungguh! Aku benar-benar menyesal. Izinkan aku berbuat sebuah kebaikan untuk kalian agar semua kesalahanku dapat ditebus" kata tanuki memohon belas kasihan.
"Hmmm...", nenek semakin bingung dengan keputusan yang akan diambilnya.

Urashima Taro

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang nelayan yang bernama Urashima Taro. Taro adalah seorang pemuda yang baik hati. Ia hidup bersama dengan ibunya yang tua.

Pada suatu hari, ia bertemu dengan anak-anak nakal yang ribut-ribut di pantai. Ia melihat mereka menyodok-nyodok seekor anak penyu. Taro merasa kasihan pada anak penyu itu, lalu mendekati gerombolan anak-anak itu.

“Jangan menyiksa makhluk hidup.”
Anak-anak itu langsung berlarian ke sana-sini. Taro menaruh anak penyu itu ke telapak tangannya perlahan-lahan, lalu melepaskannya ke laut.

Beberapa tahun telah berlalu. Ketika Taro sedang santai memancing, ada yang menarik tali kailnya.
“Eh? Oh, kamu!”
Ternyata yang menarik kailnya adalah seekor penyu yang besar penyu yang ditolong Taro beberapa tahun yang lalu.

Penyu itu berkata kepada Taro, “Tuan Taro, terima kasih banyak atas kebaikan Anda waktu itu. Sebagai rasa terima kasih, saya akan membawa Anda ke istana indah di dasar laut. Istana itu disebut Istana Ryugu, yaitu Istana Raja Naga. Tempatnya sangati ndah, dikelilingi bunga-bunga laut. Ayo, mari kita pergi.”
Penyu menaikkan Urashima Taro ke punggungnya, laluberenang ke dalam laut.

Kisah Momotaro

Zaman dahulu di suatu tempat hiduplah sepasang kakek-nenek. Setiap hari, kakek ke hutan mengumpulkan kayu bakar, sedangkan nenek ke sungai mencuci. Ketika nenek sedang mecuci, dari hulu sungai hanyutlah momo (buah peach) Nenek memungut momo itu.

“Sepertinya, momo ini manis.” Nenek mengambil momo yang besar itu dan membawanya pulang.
Malam pun tiba. Kakek pulang memikul kayu bakar. “Nenek, nenek, kakek sudah pulang.”

“Kakek, ya, selamat datang. Hari ini, nenek menemukan momo yang besar di sungai. Sekarang ada di lemari…” kata nenek sambil mengeluarkan momo itu dan meletakkannya di atas talenan. Lalu, nenek menempelkan pisau dapur pada momo tersebut untuk membelahnya. Tapi, momo tersebut membelah sendiri dan dari dalamnya keluar anak laki-laki yang lucu. Begitu keluar anak laki-laki itu langsung menangis. Kakek dan nenek terkejut.

“A,aduh, gawat ini.” Kakek dan nenek panik. Setelah tangisnya reda kakek berkata, “Karena anak ini muncul dari dalam momo, kita harus menamainya Momotaro.” Begitulah Momotaro dinamai.

Hikayat Gusala

Sebatang nyiur itu kini telah mulai menampakkan kecantikannya. Memang belum lagi setinggi anak berusia 10 tahun, namun pelepahnya yang menguning, yang sebagian masih terbungkus tapas, juga sebagian daunnya yang kuncup, mampu menyemarakkan pagi di pekarangan si pemilik. Kelak, entah 10 atau 20 tahun lagi, barulah nyiur itu mampu memberikan manfaat yang sebenarnya bagi si pemilik.

Si pemilik adalah seorang petani berkulit hitam, sebagaimana umumnya orang asli Awangga. Sosoknya cukup besar bila dibandingkan manusia biasa, dan memang dia memiliki darah raksasa, yang diperolehnya entah dari bapak, kakek atau kakek buyutnya di masa lalu. Banyak penduduk Awangga yang memiliki ciri-ciri tubuh semacam itu. Kekar, besar, pendiam dan pemalu, namun, sekaligus pekerja keras yang tenaganya seakan tak ada habis-habisnya.

Gusala, demikianlah orang memanggilnya. Mengapa dia dipanggil demikian dan siapa yang berhak menamainya demikian, dia tak tahu secara pasti. Memang, Gusala tak mengenal siapa kedua orangtuanya sejak lahir. Dia hanya tahu, tumbuh dan memiliki saudara sebanyak tujuh orang, di tengah sebuah keluarga petani. Semula dia tak mengerti, mengapa dirinya sangat berbeda dari saudara-saudara maupun kedua orangtuanya. Dia hanya sering bertanya dalam hati mengenai perbedaan itu, namun tak pernah terlintas jawaban apa pun di kepalanya. Dan Gusala pun tak pernah mempersoalkan benar, karena semua yang ada di sekelilingnya tak mempersoalkannya.

Baru ketika usianya dipandang cukup dewasa, pada saat harus membuka ladang baru sebagai tanda kedewasaannya, kedua orangtuanya menceritakan riwayat hidupnya. Gusala tertegun. Dia bukanlah anak yang dilahirkan dari orang yang selama ini dianggapnya sebagai ibu.

”Apakah kau mengerti, Gusala?” ucap perempuan itu, setelah uraiannya selesai.

Gusala hanya mengangguk kecil, tak selintas pun pengertian muncul di kepalanya.

”Apakah kau kecewa, anakku?” Mula-mula ada anggukan kecil, namun segera disusul gelengan. Gusala sendiri tak tahu mengapa dia menggeleng dan mengangguk. Baginya, tak penting dilahirkan oleh siapa.

***

Matahari memang sedang terik-teriknya. Sesaat Gusala tegak, menatap alur-alur tanah gembur di kiri-kanan rumpun ubi yang ditanaminya. Menggunduk panjang dan rapi. Sebersit senyum menghiasi bibir Gusala. Dipandanginya jajaran kelapa yang memagari batas tanahnya. Beberapa di antaranya sudah ada yang menjulang tinggi, bahkan satu dua sudah bermanggar. Memang, kelapa-kelapa yang bermanggar itu hanya dipindahkannya dari ladang ayahnya. Itu adalah hadiah sang ayah kepada Gusala.

Gusala tak pernah berpikir bahwa perhatian yang agak berlebihan dari kedua orangtuanya itu menunjukkan bahwa ada sesuatu yang kurang dari dirinya dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Tetapi, sekali lagi, Gusala tak peduli. Mungkin lebih tepatnya, dia tak mengerti apa makna tindakan kedua orangtua angkatnya itu.

Sampai saat ini, Gusala hanya hidup sendiri. Tak ada seorang gadis dusun pun yang mau dijadikan istrinya. Kaki dan Nyai Guno Brayat sebetulnya sangat prihatin akan kelainan anak angkatnya itu, tetapi mereka tak punya cara untuk membantunya. Mereka hanya berdoa, semoga saja ada seorang perempuan yang suatu kali kelak mau mendampingi Gusala.

Gadis manakah yang mau menikahi seorang laki-laki separuh raksasa yang bahkan tak lengkap kecerdasannya itu? Kaki dan Nyai Guno sadar betul akan hal itu. Kepedihan mereka memikirkan nasib Gusala kian pekat manakala dilihatnya, sang anak bahkan tak mengerti apa arti perempuan baginya.

***

Maka sore itu, ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, Guno Brayat mengunjungi anaknya yang tinggal di ladang dekat hutan itu. Rasa sayangnya pada Gusala memang tak pernah luntur, sejak bayi itu ditemukannya di sebuah goa batu. Rasa ibanya kembali mengental manakala lintasan pemandangan buruk itu kembali memasuki kenangannya. Gusala ditemukan tergeletak menangis di dekat dua mayat, yang bisa jadi adalah orangtuanya. Sebilah tombak dan beberapa anak panah masih tertancap di tubuh yang sudah mulai membusuk itu. Yang satu jelas sekali berujud raksasa, tampak dari sosok dan sepasang taring tersembul di rongga mulutnya yang menganga. Yang seorang lagi, manusia biasa. Perempuan gunung. Mungkin dia adalah ibu Gusala.

”Gusalaa…” teriak Ki Guno dari kejauhan, demi dilihatnya Gusala sedang bersandar di batang melinjo.

Gusala seketika berdiri, wajahnya berseri-seri dan berlari, melompati alur-alur tanah menggunduk, menyambut sang ayah. Dan tanpa berkata apa-apa, Gusala mencium kaki ayahnya. Mata Ki Guno berkaca-kaca, terharu oleh ketulusan anaknya.

***

”Ibumu ingin agar kau memilih istri, anakku. Apakah kau sudah punya keinginan untuk berumah tangga?”

Hening. Senyap. Uir-uir di kejauhan mendetir-detir.

”Bapak… Gusala tidak tahu.” Jawab Gusala sesaat kemudian. Lama dia terdiam menyusun kata.

”Setiap orang pasti punya keinginan memiliki pasangan… apakah kau tidak memimpikan seorang perempuan?”

Gusala diam. Pandangannya menunduk. Gusala tak tahu apa sebenarnya yang akan diucapkannya. Jika memang mimpi, mengapa beberapa kali dia bermimpi bertemu dengan seorang gadis jelita. Tubuhnya mungil, kulitnya hitam manis dengan rambut panjang mengombak menutup pinggang. Gadis itu tersenyum padanya dan itu membuatnya bahagia. Hanya itu.

”Gusala, pernahkah kau bermimpikan seorang perempuan?”

Gusala mengangguk.

”Apakah kau mengenalnya?”

Gusala menggeleng.

”Jadi kau belum pernah berjumpa dengannya?”

Sekali lagi Gusala mengangguk.

Ki Guno menarik napas. Lalu, ”…apakah kau menginginkannya, anakku?”

Lama Gusala terdiam, seakan kembali mencari kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.

”Jika kau menginginkannya, mungkin bapakmu bisa mengupayakannya untukmu…”

”Tapi…,” ucapan Gusala terlontar begitu saja, ”…Gusala tak tahu, siapa dia… apalagi di mana dia tinggal… lalu, seandainya saja bertemu, apakah dia mau melihatku…”

”Anakku, Gusala, bapakmu percaya bahwa setiap orang memiliki jodohnya sendiri-sendiri. Entah bagaimana, kau akan mendapatkan seorang istri yang kau impikan itu…”

***

Dan itu adalah doa. Dan doa adalah janji. Dan janji adalah utang. Dan utang memang harus dibayar. Maka dengan segala kemampuan, Ki Guno melakukan apa yang menjadi doa bagi Gusala. Bersama beberapa anak lelakinya yang lain, Ki Guno mencari tahu siapakah dara yang hadir di impian anaknya itu.

Semula, semuanya hanya jadi bahan tertawaan anak-anak Ki Guno. Namun, setelah sang ayah mengatakan bahwa impian adalah jalan lain bagi suatu kebenaran, terutama bagi orang seperti Gusala, maka mereka pun terdiam. Ucapan sang ayah terasa memiliki kekuatan bahwa apa yang diimpikan Gusala akan bisa terlaksana.

”Kalau istri Prabu Salya pernah mengalaminya sendiri, mengapa Gusala tak bisa?” begitu kata penutup Ki Guno kepada anak-anaknya. Ya, tuturan yang entah siapa yang menyebarkannya itu, menjadi kepercayaan banyak manusia yang pernah mendengarnya. Mereka percaya bahwa ada yang lebih daripada yang sekadar bisa diraba, didengar, dan dirasakan. Mimpi mampu menyelusup kapan pun dalam diri manusia, dan itu adalah anugerah yang tak terkira. Mereka percaya bahwa mimpi adalah kekuatan di luar diri manusia, yang hadir hanya untuk kebenaran. Hanya saja, hidup manusia sering kali lebih rumit dibandingkan impian, sehingga kebenaran mimpi lebih banyak meleset dari seharusnya. Sebagian manusia melupakan mimpi sebagai jalan kebenaran, bisikan dari Sang Agung, dan hanya menganggap tak lebih daripada bunga tidur belaka.

Dewi Setyawati, jelita berayahkan raksasa pertapa itu, suatu kali bermimpi bertemu dengan seorang pemuda tampan bernama Narasoma. Setyawati percaya bahwa pemuda itulah suaminya kelak. Sang ayah mengerti benar makna ucapan anaknya. Maka terjadilah pernikahan itu, dan kini Narasoma menjadi raja, menjadi mertua dari seorang raja—sang Basukarna, raja negeri Awangga. Raja mereka.

Hanya dengan bekal keyakinan itu, keluarga Guno Brayat yakin bahwa apa yang diimpikan Gusala akan menjadi kenyataan.

”Tetapi, kita harus memulainya dari mana, Pak?” Tanya si sulung yang kini sudah beranak tiga.

”Bukannya aku mendahului ’Kehendak’, tetapi, apa mungkin… perempuan secantik—seperti yang dikatakan Gusala—itu mau menerima kenyataan?”

”Maksudmu?”

”Yaaa…”

”Maksudmu, Gusala jelek, begitu?” sergah Nyai Guno agak gusar pada anaknya yang nomor dua. ”Ingat, Gasa… dia adikmu. Ada darah yang sama, yang mengalir di tubuhnya dengan apa yang ada di tubuhmu. Kalian semuanya, termasuk Gusala, meminum darah dari tubuhku…” Malam hening. Malam pekat. Nyai Guno beberapa kali menarik napas berat.

***

Satu purnama berlalu begitu saja, dan upaya delapan laki-laki itu hanya menuai gelak tawa di sana-sini. Adapun Gusala, tetap menjalani hidupnya sebagaimana biasa. Meskipun sering kali, secara aneh dan tiba-tiba saja dia tertidur dan bermimpi bertemu seorang dara manis, mungil, dan tersenyum kepadanya. Dan setiap kali dia bermimpi, tiba-tiba saja hidupnya seperti berbunga-bunga. Dan setiap kali hidupnya berbunga-bunga, Gusala merasakan arus tenaganya melimpah ruah, memberontak meminta keluar. Maka, setiap kali usai bermimpi, Gusala dengan giat mengayunkan cangkulnya, tak peduli siang atau malam.

Tak mengherankan jika ubi-ubi yang ditanam Gusala menjadi istimewa. Dan ketika panen tiba, ubi-ubi Gusala bukan saja besar—karena ditanam di tanah gembur, tetapi juga manis, mempur dan jumlahnya berpuluh-puluh pikul ketika dibawa ke pasar. Dan semuanya dilakukannya sendiri.

***

Di pasar itulah, Gusala bertemu dengan gadis yang ada di mimpinya. Di pasar itulah hidup Gusala berubah. Dia tak ingin terjaga dari mimpinya kali ini. Dia tatap sepasang mata berbinar yang lembut. Dia pandangi lengan berjari mungil yang memilih ubi-ubi yang menghampar di depannya. Ah, siapakah engkau wanita cantik?

Dan sepasang mata itu pun, ketika sesaat tertangkap mata Gusala, seakan enggan berkedip. Siapakah yang memasang perangkap, dan siapakah yang terperangkap, dia sendiri tak tahu pasti. Sebagaimana Gusala, dia hanya merasakan sesuatu yang aneh. Dia pun merasakan pernah menemukan wajah itu berkali-kali, di suatu tempat atau masa?

Mata Gusala dan mata gadis itu seakan bubu dan ikan. Hanya saja keduanya sering kali bertukar peran. Tertangkap atau menangkap, tak lagi penting. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada persentuhan yang menggetarkan itu.

”Apakah engkau yang selama ini menemuiku?” bisik Gusala.

”Apakah engkau yang selama ini kutemui?” balas gadis itu.

Dan keheningan adalah jawaban. Keduanya hanya terpesona oleh jawaban aneh yang tiba-tiba terbentuk di bentangan jiwa masing-masing. Jawaban yang mendadak berkecambah, membenih dan tumbuh dengan suburnya. Gusala gugup menyadari sesuatu yang merebak tumbuh di sanubarinya, demikian pula si gadis; pipinya merona merah.

Tak kuasa menahan kegembiraan, si gadis mendadak tersenyum, dan berlari meninggalkan tempat Gusala berdagang. Sementara Gusala masih melambung oleh perasaan aneh yang menggelimangi jiwa tulusnya.

”Hei.. raksasa, kau apakan gadis itu?” tiba-tiba bentakan kasar membuyarkan keindahan Gusala. Sekelompok laki-laki yang—menilik pakaiannya—agaknya pengawal si gadis, tiba-tiba mengepungnya. Entah di mana mereka selama ini, Gusala tak menyadarinya. Orang-orang yang ada di pasar minggir. Mereka hanya sempat berkomentar dalam hati: ah, raksasa memang selalu begitu kalau diberi hati.

”Hei, kau belum menjawab pertanyaanku… kau apakan gadis itu?”

Gusala hanya terlongong-longong bingung menanggapi pertanyaan bertubi-tubi dari mereka yang mengepungnya. Jiwanya masih belum sepenuhnya berpijak pada kenyataan karena masih terbawa kepak sayap keindahan yang baru kali ini dialaminya.

Kadang-kadang, sambil menatap wajah-wajah pengepungnya, Gusala tersenyum karena jiwanya masih menikmati keindahan yang entah mengapa tak segera hilang dari dirinya.

”Ah… rupanya kau bukan hanya raksasa, tetapi juga sakit jiwa..” dan gelak tawa pun pecah di pasar itu.

Gusala, tanpa paham benar apa yang diucapkan orang yang menghinanya, membalasnya dengan senyum. Begitu Gusala tersenyum, gelak tawa menjadi-jadi.

”Tuan..” tiba-tiba Gusala berucap, ”apakah tuan-tuan mengenal gadis cantik yang baru saja di sini..”

Orang-orang itu terhenti sejenak, lalu tergelak-gelak lagi. ”Tentu saja… dia adalah anak tuan kami.”

”Siapakah namanya, aku ingin mengenalnya…”

”Hei raksasa ’miring’, jangan bermimpi..”

”Gusala tak mimpi. Dia memang menemuiku di mimpi, tapi kali ini, tidak mimpi..”

”Hei…, gadis itu adalah anak seorang saudagar yang sangat dekat dengan kalangan istana…. Dan dia sudah dijodohkan dengan anak petinggi Awangga. Jadi, seperti kataku, jangan bermimpi.”

”Gusala hanya ingin tahu namanya.”

Dan sebuah pukulan menghantam wajah Gusala. Gusala terkejut, tak sakit sama sekali.

Gusala berdiri, orang-orang itu mencabut pedang. ”Apa salah Gusala, sampai tuan…”

Ucapannya terpotong pukulan orang kedua. Dan belum lagi sempat bergerak, sisanya segera mengeroyok Gusala.

Maka sebagaimana disebutkan dalam hikayat, Gusala pun akhirnya mati di tengah pencariannya. Bahkan seluruh keluarganya dihukum karena didakwa melawan hukum negara, yang melarang manusia menolong makhluk di luar golongannya.

Hikayat Gunung Tidar

Di Magelang terdapat sebuah bukit yang berada di tengah-tengah kota. Bukit itu sangat terkenal karena menjadi salah satu tempaan para taruna AKABRI. Bahkan bukit itu menjadi salah satu ciri khas kota itu. Namanya bukit Tidar, atau lebih dikenal sebagai Gunung Tidar. Konon Gunung Tidar merupakan pusat atau titik tengah Pulau Jawa.

Syahdan, dahulu kala Tanah Jawa ini masih berupa hutan belantara yang tiada seorangpun berani tinggal di sana. Sebagian besar wilayah Jawa ini dahulu masih dikuasai berbagai makhluk halus. Konon Tanah Jawa yang dikelilingi laut ini bak perahu yang mudah oleng oleh ombak laut yang besar. Maka melihat itu para dewata segera mencari cara untuk mengatasinya.

Maka berkumpullah para dewa untuk membahas persoalan Tanah Jawa yang tidak pernah tenang oleh hantaman ombak itu. Diutuslah sejumlah dewa untuk tugas menenangkan pulau ini. Mereka membawa sejumlah bala tentara menuju Pulau Jawa sebelah barat. Namun, tiba-tiba Pulau Jawa kembali oleng dan berat sebelah karena para dewa dan bala tentara hanya menempati wilayah barat. Agar seimbang, sebagian dikirim ke timur. Namun usaha ini tetap gagal.

 

Hikayat Bunga Kemuning

Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi diantara mereka.

Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning, Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.

Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. “Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?” tanya raja. “Aku ingin perhiasan yang mahal,” kata Puteri Jambon. “Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau,” kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya. “Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat,” katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya. “Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu,” kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi.

Hikayat Batu Dan Pohon Ara

Alkisah pada suatu saat di sebuah negeri di timur tengah sana. Seorang saudagar yang sangat kaya raya tengah mengadakan perjalanan bersama kafilahnya. Diantara debu dan bebatuan, derik kereta diselingi dengus kuda terdengar bergantian. Sesekali terdengar lecutan cambuk sais di udara. Tepat di tengah rombongan itu tampaklah pria berjanggut, berkain panjang dan bersorban ditemani seorang anak usia belasan tahun. Kedua berpakaian indah menawan. Dialah Sang Saudagar bersama anak semata wayang nya. Mereka duduk pada sebuah kereta yang mewah berhiaskan kayu gofir dan permata yaspis. Semerbak harum bau mur tersebar dimana-mana. Sungguh kereta yang mahal.

Iring-iringan barang, orang dan hewan yang panjang itu berjalan perlahan, dalam kawalan ketat para pengawal.Rombongan itu bergerak terus hingga pada suatu saat mereka berada di sebuah tanah lapang berpasir. Bebatuan tampak diletakkan teratur di beberapa tempat. Pemandangan ini menarik bagi sang anak sehingga ia merasa perlu untuk bertanya pada ayahnya.

“Bapa, mengapa tampak oleh ku bebatuan dengan teratur tersebar di sekitar daerah ini. Apakah gerangan semua itu ?”.

“Baik pengamatan mu, anak ku”, jawab Ayahnya,”bagi orang biasa itu hanyalah batu, tetapi bagi mereka yang memiliki hikmat, semua itu akan tampak berbeda”.

“Apakah yang dilihat oleh kaum cerdik cendikia itu, Bapa ?”, tanya anaknya kembali.

“Mereka akan melihat itu sebagai mutiara hikmat yang tersebar, memang hikmat berseru-seru dipinggir jalan, mengundang orang untuk singgah, tetapi sedikit dari kita yang menggubris ajakan itu.”.

“Apakah Bapa akan menjelaskan perkara itu pada ku?”

“Tentu buah hatiku”, sahut Sang Saudagar sambil mengelus kepala anaknya.

Pangeran Katak

Pada suatu waktu, hidup seorang raja yang mempunyai beberapa anak gadis yang cantik, tetapi anak gadisnya yang paling bungsulah yang paling cantik. Ia memiliki wajah yang sangat cantik dan selalu terlihat bercahaya. Ia bernama Mary. 

Di dekat istana raja terdapat hutan yang luas serta lebat dan di bawah satu pohon limau yang sudah tua ada sebuah sumur. Suatu hari yang panas, Putri Mary pergi bermain menuju hutan dan duduk di tepi pancuran yang airnya sangat dingin. Ketika sudah bosan sang Putri mengambil sebuah bola emas kemudian melemparkannya tinggi-tinggi lalu ia tangkap kembali. Bermain lempar bola adalah mainan kegemarannya.

Namun, suatu ketika bola emas sang putri tidak bisa ditangkapnya. Bola itu kemudian jatuh ke tanah dan menggelinding ke arah telaga, mata sang putri terus melihat arah bola emasnya, bola terus bergulir hingga akhirnya lenyap di telaga yang dalam, sampai dasar telaga itu pun tak terlihat. Sang Putri pun mulai menangis. Semakin lama tangisannya makin keras. Ketika ia masih menangis, terdengar suara seseorang berbicara padanya, "Apa yang membuatmu bersedih tuan putri? Tangisan tuan Putri sangat membuat saya terharu" Sang Putri melihat ke sekeliling mencari darimana arah suara tersebut, ia hanya melihat seekor katak besar dengan muka yang jelek di permukaan air. Oh, apakah engkau yang tadi berbicara katak? Aku menangis karena bola emasku jatuh ke dalam telaga. Berhentilah menangis, kata sang katak. Aku bisa membantumu mengambil bola emasmu, tapi apakah yang akan kau berikan padaku nanti?, lanjut sang katak.

 

Tukang Sepatu Dan Liliput

Dahulu kala, di sebuah kota tinggal seorang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya. Uang yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang banyak untuk dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak kecil yang sudah tidak mempunyai orangtua. Karena itu walau sudah membanting tulang, uang mereka selalu habis. Karena uang mereka sudah habis, dengan kulit bahan sepatu yang tersisa, kakek membuat sepatu berwarna merah. Kakek berkata kepada nenek, Kalau sepatu ini terjual, kita bisa membeli makanan untuk Hari Raya nanti.

Tak lama setelah itu, lewatlah seorang gadis kecil yang tak bersepatu di depan toko mereka. Kasihan sekali gadis itu ! Ditengah cuaca dingin seperti ini tidak bersepatu. Akhirnya mereka memberikan sepatu berwarna merah tersebut kepada gadis kecil itu.

Apa boleh buat, Tuhan pasti akan menolong kita, kata si kakek. Malam tiba, merekapun tertidur dengan nyenyaknya. Saat itu terjadi kejadian aneh. Dari hutan muncul kurcaci-kurcaci mengangkut kulit sepatu, membawanya ke rumah si kakek kemudian membuatnya menjadi sepasang sepatu yang sangat bagus. Ketika sudah selesai mereka kembali ke hutan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...