Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

AL ‘AFUW, MAHA PEMAAF

Manusia adalah makhluk yang memiliki kelemahan. Di antaranya adalah mudah tergelincir untuk berbuat salah. Kapan pun dan di mana pun, manusia dapat berpikir salah tentang banyak hal, mengambil keputusan yang keliru dan berperilaku secara tidak benar.

Namun Allah, yang menciptakan manusia, mengetahui segala kelemahan dan kekurangan hamba-Nya. Karenanya, Allah juga memaafkan kesalahan yang diperbuat manusia. Jika Dia tidak "memaafkan", maka tak seorang pun yang akan benar-benar terbebas dari dosa selama hidupnya di dunia. Jika ini yang terjadi, maka tak satu pun manusia yang akan mampu masuk surga. 

Tapi kita tidak boleh lupa bahwa Allah memaafkan hamba-Nya yang ikhlas. Yang penting adalah hendaknya seseorang dengan jujur dan tulus menyerahkan diri kepada Allah, seraya menyadari penuh kelemahan dirinya sendiri. Allah mengampuni dosa-dosa mereka yang sadar dan mengakui segala kesalahannya, serta kembali kepada-Nya dengan ikhlas. Allah menyatakan hal ini dalam Al Qur’an:


Hati-hati dengan Dengki

Kenapa iblis tidak mau bersujud kepada Nabi Adam as? Sebab, iblis sangat dengki terhadapnya. Karena itu, barang siapa di antara kita memiliki sifat dengki, maka sungguh kita telah memiliki salah satu sifat iblis. Rasulullah SAW bersabda, "Melepaskan dua ekor srigala lapar di kandang kambing tidak lebih besar bahayanya di bandingkan dengan seorang muslim yang rakus terhadap harta dan dengki terhadap agama. Sesungguhnya dengki itu memakan habis kebaikan, seperti api melalap habis kayu". (HR. At-Tirmidzi)

Seorang pendengki hidupnya tidak akan mulia di dunia. Malaikat pun akan muak kepadanya. Jika kelak mati, ia akan mendapatkan kedudukan yang teramat hina di hadapan Allah. Demikian pula di Yaumul Hisab timbangannya akan terbalik, sehingga neraka Jahanam pun siap menerkamnya. Itulah nasib malang yang akan Allah timpakan kepada seorang pendengki.

Apakah dengki itu? Secara garis besar sifat ini terbagi ke dalam dua bagian. Pertama, dengki yang diharamkan. Seseorang merasa tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain dan merasa bahagia kalau orang lain mendapat musibah. Atau setidaknya, ia menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ini dengki yang diharamkan, karena sifat seperti ini termasuk ke dalam tingkatan ketiga dari penyakit hati.

 

Islam dan Budaya Demokrasi dalam Keluarga

Demokrasi sering diidentikkan dengan Barat. Salah satu sistem politik ini awalnya tumbuh dan berkembang di dunia Barat. Dalam sejarah perkembangannya, demokrasi menembus masuk ke berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Termasuk pula di Indonesia. Kultur demokrasi, yang diuraikan dalam konsepsi "kerakyatan", "kekeluargaan", dan "gotong royong" sebenarnya telah dimiliki oleh masyarakat Indonesia, termasuk pula kaum muslimin. Unsur-unsur demokrasi itu bisa kita lihat di dalam sistem dan kehidupan masyarakat pedesaan di Jawa.

Kalau kita telusuri, di dalam demokrasi khas Indonesia itu terkandung makna sifat "gotong royong", cara-cara kekeluargaan dalam mengurus sesuatu, atau "musyawarah untuk mufakat". Unsur-unsur demokrasi Indonesia ini dirumuskan dalam salah satu sila Pancasila, yang telah disepakati oleh para pendiri negara kita ini, yaitu "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan." Sila inilah yang tampaknya menjadi asas dasar demokrasi Indonesia. Di dalam sila keempat Pancasila itu terdapat kata "permusyawaratan", yang berasal dari kata bahasa Arab, yaitu syuuraa atau musyaawarah. Karena itu, tidak heran bila demokrasi sering diasumsikan dengan kata syuuraa atau musyaawarah, sekalipun ada beberapa perbedaan antara kedua konsep tersebut.


AL AWWAL, MAHA-AWAL

Apakah jagat raya yang mahaluas ini memiliki permulaan? Pertanyaan ini telah mendorong manusia mencari jawabannya selama ratusan tahun. Mereka yang memahami kenyataan bahwa jagat raya memiliki Pencipta, juga percaya bahwa jagat raya memiliki permulaan, yakni saat diciptakannya jagat raya tersebut. Tapi sebagian orang menolak keberadaan Pencipta, karenanya mereka menyatakan bahwa alam semesta tidak memiliki permulaan. Dengan kata lain, mereka meyakini bahwa jagat raya telah ada sejak dahulu kala dan akan terus ada selamanya.

Namun, kemajuan ilmu pengetahuan masa kini dengan jelas membuktikan bahwa mereka telah keliru. Sejumlah penjelasan tentang asal mula alam semesta telah dikemukakan sejumlah kalangan. Namun saat ini seluruh masyarakat ilmiah telah menyepakati satu hal berkenaan dengan permasalahan ini. Satu penemuan ilmiah terbaru telah berhasil menjelaskan permasalahan ini.

Pada tahun 1929, Edwin Hubble menemukan bahwa alam semesta terus menerus mengembang. Bermula dari fakta tersebut, para ilmuwan merumuskan satu hipotesis penting: jika perjalanan waktu pada alam semesta yang mengembang ini dimundurkan, maka seluruh alam semesta dapat dianggap sebagai sistem yang sedang mengkerut, seperti bintang raksasa yang semakin lama semakin mengecil. Kesimpulan yang tak terhindarkan adalah, alam semesta yang semakin mengecil seiring perjalanan waktu yang dimundurkan, pada akhirnya pastilah berasal dari satu titik tunggal. Dengan kata lain, alam semesta terbentuk dengan mengembangnya titik tunggal tersebut melalui suatu ledakan raksasa. Singkatnya, jagat raya yang kita huni memiliki permulaan. Jika demikian, siapakah yang menciptakan jagat raya? Yang jelas, mustahil jagat raya itu sendiri yang memunculkan dirinya sendiri. Sebab jagat raya bukanlah sesuatu yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan kehendak untuk memunculkan wujudnya sendiri.

Ini tak lain berarti bahwa jagat raya diciptakan oleh Pencipta yang Mahaperkasa. Pencipta Mahaperkasa ini adalah Allah Yang Maha-agung. Dia-lah satu-satunya keberadaan yang ada sebelum diciptakannya makhluk hidup, planet, galaksi, seluruh alam semesta, dan bahkan waktu itu sendiri. Sebab, Dia-lah Yang Mahaawal.

Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Hadiid, 57:3)


Belajar Dari Taubat Abu Nawas

Dalam Eknsiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam diterangkan bahwa Abu Nawas sebenarnya lebih dikenal sebagai sastrawan kondang, yang nafas-nafas kehidupannya ia habiskan di Istana Harun Al-Rasyid dengan segala kemewahannya. Dalam blantika sastra nusantara, ia tampil sebagai sosok yang jenaka, cerdas dan kaya dengan humor-humornya yang segar.

Abu Nawas, atas wasiat orang tuanya yang menjadi seorang penghulu, dipesan agar mencium telinga ayahnya apabila saat kematiannya tiba. Jika membersit bau harum yang menyenangkan, teruskanlah profesi orang tua sebagai penghulu. Tapi jika keluar bau busuk yang membuat orang muntah, maka jauhilah profesi itu untuk selama-lamanya. Ketika sang ayah wafat, bau busuklah yang keluar dari telinganya. Dengan itu Abu Nawas itupun enggan menjadi penghulu, biarpun Khalifah Harun Al-Rasyid memintanya.

Dalam cerita lain juga disebutkan bahwa nama lengkap Abu Nawas adalah Al-Hasan bin Hani Al-Hakami. Dia adalah seorang sastrawan istana, kelahiran di Ahwas, Iran, tahun 130 Hijriah/747 Masehi. Ibunya seorang wanita miskin yang bekerja sebagai tukang cuci kain wol yang terbuat dari bulu domba. Sedangkan ayahnya adalah seorang serdadu Dinasti Bani Umayyah pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad, Khalifah pemungkas pada Dinasti ini.

Karena lahir di Ahwas, Abu Nawas merasa dirinya lebih seorang Persia daripada seorang Arab. Padahal sebagian besar hidupnya berada di beberapa kota yang kental dengan kebudayaan Arab, Bashrah, Kufah dan Baghdad. Ia bahkan pernah tinggal ditengah-tengah masyarakat Badui di tengah lautan padang pasir dengan tujuan agar dia dapat merasakan nilai-nilai sastra Arab yang asli. Kepenyairannya sudah terlihat sejak usia dini berkat bimbingan seorang penyair berbakat, Waliban bin Al-Hubab dan Khulaf Al-Ahmar. Ia pun belajar Al-Qur’an dan Hadist secara tekun seperti lazimnya anak-anak pada masa itu.

 

Al Jabbar Maha Kuasa

Kesalahan terbesar manusia adalah merasa besar di hadapan Allah dan terperangkap dalam perasaan angkuh. Penyebabnya adalah manusia menganggap dirinya sebagai wujud yang tidak tergantung kepada Allah, Tuhan yang telah menciptakannya. Ia merasa yakin bahwa sejumlah kelebihannya berasal dari dirinya sendiri, dan karenanya merasa sebagai “sosok yang mampu berdiri sendiri”.

Ini benar-benar sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Dengan merenung sejenak, akan kita pahami dengan jelas bahwa kita hadir ke dunia bukan atas kehendak sendiri. Kita takkan pernah tahu kapan hidup kita berakhir, dan kita tak pernah menentukan sendiri sifat yang ada pada diri kita.

Berdasarkan semua fakta ini, sangatlah jelas betapa tidak tepat dan tidak beralasan bila manusia menyombongkan diri di hadapan Penciptanya sendiri. Manusia hendaknya memahami kebesaran Allah, dan menyadari bahwa Dia-lah yang telah menciptakannya dari ketiadaan. Allah-lah yang telah memberinya segala sifat dan kemampuan yang ada dalam dirinya.

Manusia juga tidak boleh lupa bahwa Allah dapat mengambil kembali seluruh nikmat pemberian-Nya kapan pun Dia menghendaki. Allah pasti akan mengambil nikmat hidup seluruh makhluk-Nya di dunia, sehingga semua yang hidup suatu saat pasti mati. Manusia harus menerima bahwa Allah-lah satu-satunya yang kekal, dan hanya kepada-Nya ia harus berserah diri. Sebab Allah berkuasa menjadikan semua mereka yang menyombongkan diri tanpa alasan yang benar, yang lalai akan kelemahan mereka, dan yang berpaling dari-Nya, untuk tunduk kepada-Nya kapan pun Dia menghendaki. Hal ini adalah mudah bagi Allah, sebab Dia-lah yang memiliki segala kesempurnaan dan kekuasaan di atas makhluknya, sebagaimana dinyatakan dalam Kitab-Nya:

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Al Hasyr, 59:23)



Air Selokan Rasa Es Krim

Di mana pun kita berada, di dalam rumah, di lapangan, di dalam mobil atau di tepi pantai, aroma dan rasa buah pisang ranum nan manis tidak pernah berubah: harum, sedap dan manis. Aroma ini pun tidak berbeda ketika kita berada di kota mana pun di Indonesia, bahkan di negara dan belaham bumi mana pun jua. Hal yang biasa, benarkah demikian?

Sekarang coba pikirkan, seandainya buah pisang ini hanya beraroma dan berasa pisang ketika berada di kebun pisang, apa yang bakal terjadi? Bayangkan jika saja ketajaman aroma buah pisang sebanding dengan jarak dari pohon induknya. Dengan kata lain, seandainya aroma dan rasa manis buah pisang yang baru dipetik akan semakin berkurang jika semakin dijauhkan dari pohon induknya? Yang jelas sebagian besar manusia tidak akan menikmati kelezatan buah pisang. Apalagi orang-orang yang berada di negara-negara sub-tropis, di mana pohon pisang tidak dapat tumbuh. Demikian pula dengan buah-buahan lainnya.

Ini baru berkurangnya aroma dan rasa, bagaimana jika tiba-tiba saja, entah karena peristiwa alam tertentu, semua ribuan aneka rasa dan aroma hilang sama sekali dalam kehidupan kita. Apa yang akan terjadi? Atau, jika secara mendadak beragam rasa dan bau saling bertukar satu sama lain, akankah hidup Anda senikmat sekarang? Misalnya, rasa buah jeruk berubah menjadi rasa sop ayam; air selokan kotor berganti rasa dan aroma selezat es krim rasa coklat; air minum yang biasanya tawar berubah sehingga berasa asam cuka; bau badan manusia, yang telah maupun yang belum mandi, berubah menjadi sesemerbak bau ikan amis; dan sebagainya. Yang pasti, semua ini akan memunculkan masalah besar dalam kehidupan kita; kita tidak akan menikmati hidup ini.

Dengan berpikir sebagaimana di atas, kini jelaslah bahwa aroma dan rasa bukanlah persoalan sederhana. Karenanya, tidak sepatutnya kita hanya memandang sebelah mata terhadap masalah ini tanpa sedikit pun keinginan untuk merenungkannya. Yang jelas, tak seorang manusia pun pernah mengaku sebagai pihak yang telah memunculkan aneka rasa dan aroma di dunia ini. Tak satu pun manusia yang mampu menciptakan indera perasa dan pembau yang dimilikinya. Dan tak seorang pun mampu menjelaskan asal usul keberadaan rasa, bau, dan mekanisme yang menjadikannya ada, tanpa mengacu pada kecerdasan mahahebat di balik ini semua. Dialah Allah, Pencipta segala sesuatu secara sempurna. Semua ciptaan Allah dari yang terbesar hingga yang terkecil, dari yang tampak hingga yang tidak kasat mata, memiliki rancangan yang rumit dan sempurna. Kesempurnaan ini hanya akan dipahami oleh mereka yang menggunakan akal dan nuraninya; yang berpikir dan bekerja keras meneliti alam ciptaan-Nya ini. 


AL WALIYY MAHA MELINDUNGI

Orang-orang beriman memiliki satu sahabat sejati di dunia dan akhirat. Sahabat yang takkan pernah meninggalkannya, yang mendampinginya di masa sulit, dan menjadi penolongnya. Sahabat yang selalu bersamanya sejak lahir hingga kematiannya, dan yang melindungi dari para musuhnya. Sahabat ini paling dapat dipercaya melebihi siapa pun, dan yang memberi tanpa meminta balasan apa pun. Sahabat yang tak ada bandingnya itu adalah Allah.

Allah-lah sahabat terpercaya dan terdekat bagi orang beriman. Dia melindungi kelemahan dan memaafkan kekeliruan hamba-Nya. Dialah yang memberi kehidupan lebih baik serta kebahagiaan abadi di akhirat bagi mereka yang beriman.

Mereka yang tidak memahami ini, menghabiskan hidup dengan mencari orang kaya atau kekuatan yang dapat mereka andalkan. Singkatnya, mereka berusaha mendapatkan seseorang yang diyakini cukup andal untuk mengatasi permasalahan mereka dalam bebagai keadaan. Sayangnya, ketika melakukan ini, mereka melupakan Allah, Pencipta mereka, yang menjadikan mereka mampu menjalani kehidupan. Mereka berpaling kepada setan, yang tak bermanfaat apa pun bagi hidup mereka selain keburukan, dan mencegah mereka dari kenikmatan surgawi di akhirat nanti. Inilah gerbang menuju dunia yang kelam, awal kehidupan orang-orang yang merugi di akhirnya.

Sebaliknya, mereka yang mengimani Allah dengan tulus, hidup mulia dan penuh keberuntungan. Mereka terbebas dari segala penderitaan dan kerugian. Sebab, Allah telah berjanji bahwa mereka yang beriman kepada-Nya, yang tetap berpegang pada agama dan ajaran-Nya akan diselamatkan. Dia akan memberi mereka pahala yang besar di akhirat. Allah-lah satu-satunya teman sejati dan pelindung orang beriman di dunia dan akhirat.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah, 2:257)

MAALIKUL MULK, MAHA MEMILIKI KERAJAAN

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali 'Imran, 3:26)


Ketika menyaksikan sekeliling Anda di mana pun Anda kini berada, segala yang Anda saksikan pasti ada Pemiliknya. Kursi yang Anda duduki tersusun atas atom yang diciptakan oleh Pemiliknya. Bunga dalam pot tumbuh karena sinar matahari dan air yang disediakan oleh pemiliknya. Lautan yang Anda pandang dari jendela beserta segala kehidupan di dalamnya ada atas kehendak Pemiliknya...

Pemilik semua ini dan seluruh jagat raya adalah Allah yang Maha Perkasa, Penguasa seluruh alam. Bahkan tubuh Anda berada dalam genggaman Allah yang menciptakan Anda, dan Dia tidak bergantung pada Anda. Tangan, kaki, pembuluh darah, sistem saraf, dan sel-sel Anda adalah hasil pengetahuan tak tertandingi dan kesempurnaan penciptaan oleh Pemilik Anda. Tak satu pun dari semua ini ada karena Anda memutuskan untuk merancang dan menciptakannya. Ketika pertama kali membuka mata pada dunia, Anda temukan sistem tanpa cacat dalam tubuh Anda sendiri dan di bumi yang Anda tempati, bahkan di seluruh jagat raya.

Namun Anda tak memiliki itu semua sebelumnya, dan takkan mungkin pula di masa mendatang dengan kehendak Anda sendiri. Kenyataan ini tentu saja berlaku bagi semua orang. Jika demikian halnya, maka kekuasaan atas segala sesuatu adalah milik Pencipta kita, Allah, Penguasa seluruh alam. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah manusia berterima kasih dan bersyukur kepada-Nya

Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (QS. Al Mulk, 67:23)


BUKU AJAIB

Alkisah, tersebutlah Profesor Fulan, sosok ilmuwan sangat jenius. Suatu ketika ia mengumumkan penemuannya tentang buku ajaib dalam sebuah wawancara di televisi. Buku tersebut, menurutnya, adalah buku yang berisi tulisan tentang seluruh hal yang berkenaan dengan pembangunan gedung pencakar langit, bidang keahlian yang telah digelutinya sejak lama. Buku ini berisi informasi dan penjelasan super-lengkap, dari segala bahan baku yang dibutuhkan untuk membangun gedung pencakar langit, hingga rancangan serta proses pembuatannya hingga jadi. Uniknya, ternyata buku ini tidak terlalu tebal, dan ukurannya pun mini, lebih kecil dari buku saku.

Keunikan buku tersebut, tambah sang profesor, tidak terbatas pada ukurannya saja. Buku ajaibnya mudah digunakan oleh siapa saja, terlepas latar belakang pendidikannya, usia, maupun jenis kelamin. Mendengar hal ini, para penonton televisi pun terheran-heran dan penasaran. Tak ayal lagi, ketika kesempatan bertanya dibuka, para penonton di studio pun berebut kesempatan untuk bertanya lebih lanjut.

Salah satu penonton menyangsikan ucapan sang profesor dan meminta penjelasan lebih lanjut tentang penggunaan buku tersebut. Dengan ringan dan tersenyum bangga, sang profesor menjawab bahwa ini adalah hal mudah. Siapa pun yang telah membeli bukunya hanya perlu menggali lubang dalam tanah, lalu memasukkan buku ajaibnya dan menguburnya. Setiap pekan sekali, 'kuburan buku ajaib' tersebut perlu disirami seember air dan diberi pupuk berupa satu kilogram semen. Pada tahun kesepuluh, dari tempat itu, sebuah gedung pencakar langi yang siap digunakan akan muncul dengan sendirinya, jawab sang profesor.

Fiksi ilmiah, begitulah mungkin yang terlintas dalam benak kita ketika membaca baris demi baris kisah di atas. Namun, sebagaimana kisah fiksi ilmiah yang seringkali terilhami oleh penemuan ilmiah yang nyata, kisah di atas pun bukanlah tanpa fakta.

Kegunaan penting buku adalah sebagai alat untuk menuliskan atau menyimpan informasi. Selain buku, perangkat komputer seperti disket, harddisk, CD atau piranti semisalnya merupakan produk teknologi terkini untuk menyimpan data atau informasi. Namun, segala piranti ini jauh lebih ketinggalan dibandingkan apa yang dihasilkan alam: biji tumbuhan. Biji atau benih berisi informasi dalam molekul DNA yang dikandungnya. Benih jauh lebih kecil ketimbang perangkat penyimpan informasi di atas, tetapi mampu menyimpan seluruh informasi tentang seluk-beluk tumbuhan, bahkan pohon raksasa menjulang tinggi yang bakal tumbuh. Lebih dari itu, perlu air, sinar matahari, dan mineral dalam tanah saja untuk mewujudkan informasi dalam benih menjadi kenyataan; hal yang ajaib tapi nyata. Tidak ada buku, CD, disket atau harddisk yang setelah dikubur, diairi dan diberi pupuk, lantas mampu menterjemahkan informasi yang disimpannya menjadi kenyataan dalam rentang waktu tertentu.

Profesor Fulan dan buku ajaibnya boleh saja dikatakan dongeng fiksi yang takkan pernah terwujud. Namun, ada yang jauh lebih sempurna dari itu, yakni Allah dan benih ciptaan-Nya, yang ternyata telah menjadi kisah nyata sejak lama!


AL ‘ADL, MAHA ADIL

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Maa-idah, 5:8)

Allah-lah yang paling adil di antara yang adil. Neraca keadilan-Nya melingkupi keseluruhan alam semesta. Dia akan menegakkan keadilan di antara para hamba-Nya, di dunia dan di akhirat.

Allah, Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Melihat, mengatur seluruh alam semesta dengan kebijaksanaan dan keadilan mutlak. Seluruh amal manusia sepanjang hidupnya akan ditimbang dalam neraca Kemahaadilan Allah. Allah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa pelaku kejahatan takkan lolos tanpa hukuman atas dosa mereka, sebaliknya perkataan baik walau hanya sepatah akan diberi pahala:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah, 99:7-8)

Kebaikan dan keburukan tidaklah sama di mata Allah, dan Dia berkuasa atas keduanya dengan keadilan mutlak. Tempat di mana keadilan mutlak Allah dapat disaksikan dengan jelas adalah akhirat. Allah pasti tidak pernah lupa tentang sesuatu pun, Dia-lah yang Maha Menepati janji. Setiap manusia, tanpa kecuali, akan mendapatkan balasan di akhirat atas segala perbuatannya di dunia. Mereka yang melakukan kejahatan akan dihukum, dan mereka yang beriman kepada Allah dan beramal shaleh akan menerima pahala terbaik dari-Nya.

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (QS. An Naazi'aat, 79:37-41)

AL ‘ALIIM, MAHA MENGETAHUI

“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Faathir, 35:38)

Allah memiliki pengetahuan tentang langit dan bumi, seluruh makhluk hidup di antara keduanya. Dia mengetahui seluruh hukum yang mengatur alam semesta, dan seluruh peristiwa yang terjadi di seluruh waktu. Sebab Allah-lah yang menciptakan mereka semua.

Di samping itu, tak ada yang membatasi pengetahuan Allah. Allah mengetahui jati diri setiap manusia yang lahir atau mati. Allah mengetahui jumlah dedaunan yang berjatuhan dari setiap pohon yang ada di bumi, dan semuanya ini diketahui pada saat bersamaan. Dia mengetahui secara rinci miliaran bintang dalam miliaran galaksi di jagat raya, dan seluruh hal lain yang takkan pernah mampu kita sebutkan di sini.

Tuhan kita mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bumi dan di ruang angkasa. Dia mengetahui kode-kode genetik seluruh miliaran manusia, hewan dan tumbuhan di dunia. Dalam sebuah ayat Al Qur’an Allah berfirman :

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al An’aam, 6:59)

Satu hal sangat penting jangan pernah kita lupakan: Selain dari semua yang telah kita sebutkan, Allah juga mengetahui isi hati manusia. Dia memahami apa yang terlintas dalam benak setiap manusia, dan segala sesuatu yang dikerjakannya, yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.

Manusia mengira hanya mereka sendirilah yang tahu seluruh perasaan, pikiran, dan kecemasan yang mereka rasakan. Ini adalah kesalahan besar. Seperti pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu di alam semesta, Allah pun mengetahui apa yang ada di luar dalam diri manusia.

ASY SYAAFI, MAHA MENYEMBUHKAN

"dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku,"
(QS. Asy Syu’araa’, 26:80)


Salah satu ketidakberdayaan manusia tampak paling jelas di saat ia sakit. Agar manusia merasakan hal ini, Allah telah menciptakan ratusan jenis penyakit yang beragam. Setiap penyakit menimpakan penderitaan yang berbeda pada tubuh dan pikiran seseorang. Namun semuanya itu dirancang untuk suatu tujuan.

Kecilnya ukuran virus yang tak terlihat mata telanjang menjadikan seseorang tidak menyadari keberadaannya, dan saat berada dalam tubuh manusia virus tidak selalu dapat dikenali, ini adalah bukti nyata kekuasaan Allah. Adanya percobaan dan penelitian oleh para ilmuwan untuk membasmi satu virus saja membuktikan kehebatan ciptaan Allah yang tiada tara.

Karena Allah-lah yang menimpakan penyakit ini, maka seseorang dapat sembuh hanya dengan kehendak-Nya. Bila Allah menghendaki, Dia mampu menghilangkan penyakit karena Dia-lah Yang Maha Menyembuhkan.

Sebaliknya, bila tidak, tak satu dokter pun di dunia ini dengan perangkat teknologi tercanggih dan obat terbaru yang mampu menyembuhkan penyakit seseorang. Semua obat hanyalah sarana untuk membantu kesembuhan seseorang. Jika Allah mengehendaki, Dia akan menjadikan pengobatan tersebut sebagai jalan tercapainya kesembuhan. Sebaliknya, penyakit yang tampaknya tak berbahaya dapat saja menyebabkan kematian, kecuali Allah berkehendak lain.

Oleh sebab itu, manusia hendaknya membandingkan kelemahannya ini dengan Keperkasaan Allah dan meminta pertolongan-Nya di saat mengalami kesulitan. Jangan lupa bahwa kita tidak memiliki penolong dan pelindung selain Allah.



Menyingkap Kabut, Menatap Singgasana

Setiap manusia terlahir ke bumi tanpa tahu siapa dirinya, dan siapa pula bumi yang dihuninya, apalagi jagat raya mahaluas yang melingkupinya. Jagat raya berisi sekitar 300 miliar galaksi. Salah satu dari galaksi ini adalah Galaksi Bima Sakti, yang terdiri atas sekitar 250 miliar bintang. Matahari kita hanyalah salah satu dari bermiliar bintang ini. Begitulah, masih terdapat lebih banyak bintang di jagat raya daripada butiran pasir di seluruh pantai di bumi, dan Matahari kita hanyalah salah satu butiran pasir ini. Bumi tempat tinggal kita tidaklah lebih besar dari sebutir pasir tersebut. Sedangkan manusia, makhluk kecil penghuni bumi, ia bukanlah apa-apa di dalam jagat raya mahaluas ini.

Dari segi ukurannya, manusia bak sebutir debu di padang pasir nan luas, sesuatu yang tak berarti dalam alam semesta tak bertepi. Dilihat dari kekuatannya, manusia pun makhluk yang teramat lemah, jauh lebih lemah dari kekuatan alam ini. Dari virus tak kasat mata yang mampu menjadikannya sakit tak berdaya; hingga hujan, gunung dan gempa bumi yang dapat melenyapkannya dari muka bumi. Begitulah, kehidupan manusia seolah tak berarti jika dilihat dari ukuran dan kekuatannya, dibandingkan dengan ukuran alam semesta dan kedahsyatan peristiwa alam. Namun, benarkah hidup manusia tanpa arti? Jika makna hidup memang tiada, mengapa manusia perlu ada? Jika mata yang melihat pemandangan, telinga yang mendengar suara, lidah yang mengecap rasa, dan kulit yang meraba benda ini tidak memiliki makna apa pun, lalu untuk apa semua ini ada? Mengapa manusia mesti hidup di muka bumi jikalau pada akhirnya semua mereka kan pasti sirna, terhempaskan oleh penyakit mematikan, usia senja, kecelakaan, gempa bumi, letusan gunung, serta dahsyatnya kekuatan alam lainnya yang menerpa mereka? Mengapa manusia mesti hadir di dunia, mengapa mereka mesti hidup, menderita, tertawa, bahagia, dan akhirnya harus mati...??? Apakah semua ini ada artinya ???

KEHIDUPAN DUNIA YANG GELAP

Mengapa dunia tidak pernah damai?

Selalu terjadi peperangan, pembunuhan, perampokan,

penindasan, kecurangan Dimana mana?




35. Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. 36. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” 37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. 38. Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih. 39. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat ayat kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal didalamnya. (Al Baqarah 35-39)


 Dalam Surat Al Baqarah ayat 35 s/d 39 diatas dikisahkan bagaimana Nabi Adam yang hidup bersenang senang ditaman syurga bersama istrinya Hawa diperdaya oleh syetan hingga melanggar larangan Allah. Akibat pelanggaran yang dilakukan Adam dan Hawa itu Allah murka dan mengusir Adam beserta istrinya dari taman Syurga. Allah memerintahkan Adam dan Hawa turun kebumi dan Allah mengingatkan bahwa bagi Adam beserta istri dan anak cucunya ada tempat kediaman dibumi dan kesenangan sementara sampai datang saat ajal yang ditetapkan. Allah mengingatkan bahwa sebagian dari anak cucu Adam kelak akan menjadi musuh bagi sebagain yang lainnya.

Allah juga mengingatkan bahwa bagi anak cucu Adam kelak akan datang bimbingan dan petunjuk (Al-Qur’an) sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan didunia ini. Siapa yang mengikuti pedoman dan petunjuk itu niscaya akan hidup sejahtera tidak ditimpa kekhawatiran dan kesedihan. Siapa yang engkar dan tidak mau mengikuti petujuk itu akan ditimpa azab didunia dan diakhirat mereka kekal didalam Neraka jahanan.

MENSIKAPI ANCAMAN BADAI MATAHARI TAHUN 2013

37- Maka apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. 38- Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar Rahman 37)


Sebuah ramalan menakutkan baru saja dipublikasikan badan antariksa NASA. Menurut sejumlah astronom Amerika, pada tahun 2013, matahari akan bangun dari hibernasi selama bertahun-tahun. Sayangnya, kondisi itu tak menguntungkan penghuni bumi. Dampak ‘bangunnya’ matahari dari hibernasi tahunan dapat menimbulkan gangguan global bagi kehidupan dibumi. Serbuan gelombang elektomagnetik badai matahari dapat melumpuhkan satelit ,sistim komunikasi , jaringan listrik dan berbagai peralatan eletronik dibumi. Jika ini terjadi dalam waktu yang lama tentunya akan menimbulkan kekacauan dan kepanikan.

Bencana sejenis disebutkan pernah terjadi pada tahun 1859 dan mendatangkan kerusakan dahsyat di Eropa dan Amerika. Saat itu dilaporkan kawat telegraf terbakar habis. Bahkan, saat itu diberitakan dua pertiga langit di Bumi diselimuti cahaya aurora berwarna merah darah. Mungkin keadaan seperti ini yang dimaksud Allah dalam surat Ar Rahman ayat 37, ketika lagit terbelah dan menjadi merah mawar seperti kilapan minyak. Kalau pada tahun 1859 badai matahari telah menimbulkan kerusakan pada kabel telegraph bagaimana dengan tahun 2013?. Jaringan kabel transmisi data dan listrik jauh lebih banyak dibandingkan pada masa itu. Para ilmuwan belum bisa memprediksi seberapa besar pengaruh badai matahari ini terhadap jaringan transmisi listrik tegangan tinggi , tegangan rendah maupun jaringan telekomunikasi .

BULAN PERNAH TERBELAH ?

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.
(Al Qomar 1)

Dalam Hadist Bukhari dan Muslim, juga dalam kitab2 hadits yang terkenal lainnya, diriwayatkan bahwa sebelum Rasulullah (saw) hijrah, berkumpullah tokoh2 kafir Quraiys, seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah dan Al ‘Ash bin Qail. Untuk membuktikan kenabiannya mereka meminta kepada nabi Muhammad (saw) untuk membelah bulan. Kata mereka, “ Ya Muhammad seandainya engkau benar2 seorang nabi, maka belahlah bulan itu menjadi dua.”

Rasulullah (saw) berkata kepada mereka, “Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah (saw) berdoa kepada Allah agar bulan terbelah menjadi dua. Rasulullah (saw) memberi isyarat dengan jarinya, maka bulanpun terbelah menjadi dua. Selanjutnya sambil menyebut nama setiap orang kafir yang hadir, Rasulullah (saw) berkata, “Hai Fulan, bersaksilah kamu. Hai Fulan, bersaksilah kamu.”

Demikian jauh jarak belahan bulan itu sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya. Akan tetapi orang2 kafir yang hadir berkata, “Ini sihir!, ya Muhammad engkau benar benar telah menyihir kami ” padahal semua orang yang hadir menyaksikan pembelahan bulan tersebut dengan seksama. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa sihir, bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada di tempat itu. Lalu mereka pun menunggu orang2 yang akan pulang dari perjalanan.

Ketika ada romboingan kafilah yang baru pulang dari perjalanan orang2 Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti rombongan kafilah tersebut. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, orang2 musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?” Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing2-nya kemudian bersatu kembali…”

Kiamat Menurut Al Qur`an Jauh Lebih Dahsyat Daripada Film 2012

Film 2012 yang menghebohkan dan menyebabkan MUI dibeberapa daerah mengharamkan film tersebut , sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film sebelumnya seperti The day after tomorrow, Armagedon, Deep Impact, Earth Quake dan lain lainnya. Film ini hanya mengkisahkan tentang kehancuran suatu negeri, kota atau daerah akibat bencana gempa dan tsunami kemudian usaha sekelompok orang menyelamatkan diri dari bencana tersebut. 


Untuk menarik minat penonton Hollywood membuat judul yang seru yaitu 2012 berdasarkan kalender suku Maya yang berakhir pada tahun 2012, kemudian mereka mentafsirkan berakhirnya kalender itu sebagai akhir peradaban manusia atau kiamat. Ternyata judul tersebut cukup komersil dan menarik minat banyak penonton. Pada pemutaran perdana di Jakarta penonton terpaksa antri cukup lama untuk medapatkan tiket masuk. Dibeberapa daerah di Indonesia penonton sempat kecewa karena MUI melarang peredaran film tersebut, kuatir umat Islam percaya bahwa akan terjadi kiamat pada tahun 2012.

Umat Islam yang teguh Iman dan keyakinannya sebenarnya tidak akan terpengaruh oleh prediksi kiamat th 2012 ini, saat datangnya kiamat tidak bisa diramalkan, hanya Allah yang tahu kapa terjadinya. Bagi umat Islam yang teguh Imannya bahkan ada baiknya menonton film ini, kita bisa mendapat gambaran kira-kira seperti apa kejadian kiamat yagn banyak digambarkan didalam Al-Qur’an seperti pada surat Al - Qori’ah, Al- Zalzalah, Al - Infithar, At - Takwir dan lain sebagainya. Kiamat yang digambarkan Al-Qur’an jauh lebih dahsyat dari apa yang digambarkan pada film 2012. 

RAHASIA 90/10 UNTUK ATASI STRESS DAN UBAH HIDUP ANDA

Suatu hasil penelitian di AS menyimpulkan bahwa Rahasia 90/10 luar biasa manfaatnya untuk mengurangi atau mengatasi stress dan mengubah hidup anda untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.

Sangat sedikit yang mengetahui dan melaksanakan Rahasia 90/10 atau Prinsip 90/10 yang ternyata sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai akibatnya? Jutaan orang di dunia yang menderita stress, sakit jatung, sakit kepala akut dan problem kesehatan lainnya serta mengalami berbagai kesulitan dalam hidup.

Mereka nampaknya tidak pernah mencapai suatu kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup karena tidak mengetahui bahwa: sebanyak10 persen dari hidup kita terdiri dari kejadian-kejadian yang di luar konrol (kekuasaan) kita dan 90 persennya lagi ditentukan oleh bagaimana kita BEREAKSI terhadap kejadian yang 10 persen tersebut.

Apa artinya ini semua? Kita benar-benar tidak mempunyai kekuatan untuk mengendalikan 10 persen dari apa yang terjadi terhadap diri kita. Sebagai contoh dalam perjalanan ke Bandara, kita tidak dapat mencegah mobil kita yang tiba-tiba tertabrak dari belakang oleh pengendara lain.

Pesawat terbang yang kita tumpangi terlambat sampai di tujuan, yang mengacaukan semua jadwal kegiatan dinas atau bisnis kita. Contoh lainnya, seorang pengendara lain tiba-tiba memotong jalur mobil kita di jalan raya. Kita tidak bisa mengkontrol kejadian-kejadian yang termasuk di dalam 10 persen kejadian yang di luar kekuasaan kita tersebut.

BUMI TERASA SEMAKIN KECIL

Pada abad ke 15 Colombus dan Magelhaes, telah melakukan perjalanan keliling dunia berangkat dari daratan Eropa kearah timur sampai ke benua Amerika, kepulauan Indonesia, India, Afrika dan kembali ke Eropa dalam perjalanan yang lamanya lebih dari satu tahun. Perjalan yang begitu jauh ditempuh dengan kapal layar dalam waktu yang demikian lama. Sekarang perjalan yang serupa bisa ditempuh manusia hanya dalam tempo 1 atau 2 hari dengan menggunakan pesawat terbang. Berkat kemajuan teknologi transportasi, bumi yang dahulu terasa luas dan besar sekarang terasa semakin kecil.

Dengan kemajuan teknologi manusia bisa berjalan dari satu tempat ketempat lain yang jaraknya ribuan kilometer dalam waktu yang singkat, hanya beberapa jam atau beberapa hari saja. Jarak yang sama ratusan atau ribuan tahun yang lalu hanya bisa ditempuh oleh manusia menggunakan kapal layar dalam tempo ber bulan bulan atau beberapa tahun. Allah mengangkut manusia dilautan dengan kapal layar, dan Allah hendak menciptakan pula kendaraan yang serupa itu, untuk mengangkut manusia ketempat yang jauh, sebagaimana fiirman -Nya dalam surat Yasin ayat 41-42 :

41- Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan,

42- dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu.
(Yasin 41-42)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...