Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak Cerdas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak Cerdas. Tampilkan semua postingan

Asal Nama Singapura

Ratusan tahun yang lalu hiduplah Sang Nila Utama, Raja Sriwijaya. Pada suatu hari, ditemani beberapa pengawal setianya, Raja pergi berlayar. Di perjalanan angin topan datang. Para pengawal mengusulkan agar Raja membatalkan niatnya.

“Paduka, sungguh berbahaya meneruskan perjalanan pada saat seperti ini. Lebih baik kita singgah dulu ke tempat yang aman. Kalau hamba tak keliru, tempat terdekat dari sini adalah Pulau Tumasik. Bagaimana kalau kita ke sana sambil menunggu keadaan tenang,” kata kapten kapal.

Raja setuju. Perahu mereka pun merapat ke Pulau Tumasik.

Setelah mendarat, Raja meninggalkan kapal dan berkeliling melihat-lihat pulau itu. Ketika berkeliling itulah tiba-tiba seekor binatang berkelebat tak jauh darinya. Raja terkejut dan terpukau. Binatang itu begitu besar, berwarna keemasan, dan tampak gagah.

“Mahluk apakah itu?”

“Kalau hamba tak salah, orang-orang menyebutnya singa, Yang Mulia,” jawab salah seorang pengawal.

“Apa?”

“Singa.”

Raja lalu minta keterangan lebh banyak tentang biantang yang baru pertama kali dilihatnya itu. Dengan penuh perhatian Raja mendengarkana penjelasan pengawalnya.

“Kalau begitu, kita beri nama tempat ini Singapura. Artinya: Kota Singa”.

Sejak itulah kota itu bernama Singapura.



Sumber

Emas dan Batu

Berkat kerja keras dan selalu menabung, petani itu akhirnya kaya raya. Karena tak ingin tetangganya tahu mengenai kekayaannya, seluruh tabungannya dibelikan emas dan dikuburnya emas itu di sebuah lubang di belakang rumahnya. Seminggu sekali digalinya lubang itu, dikeluarkan emasnya, dan diciuminya dengan penuh kebanggaan. Setelah puas, ia kembali mengubur emasnya.
 
Pada suatu hari, seorang penjahat melihat perbuatan petani itu. Malam harinya, penjahat itu mencuri seluruh emas si petani.
 
Esok harinya petani itu menangis meraung-raung sehingga seluruh tetangga mengetahui apa yang terjadi. Tak seorang tetangga pun tahu siapa yang mencuri emasnya. Jangankan soal pencurian, tentang lubang berisi emas itu saja mereka baru tahu hari itu. Kalau tidak ada pencurian, tak ada yang tahu bahwa petani itu memiliki emas yang dikubur di belakang rumahnya. Sebagian orang ikut bersedih atas pencurian itu, sebagian yang lain mengejek dan menganggap petani itu bodoh.
 
          

Kucing Yang Terlupakan

Di sebuah perumahan, hiduplah seekor kucing berwarna hitam. Nama kucing itu Molly. Ia tinggal di rumah keluarga Jones. Molly selalu memburu dan memakan tikus-tikus yang suka mencuri makanan di dapur keluarga Jones.

 Molly memang seekor kucing yang lucu dan menggemaskan. Matanya berwarna hijau dan kumisnya panjang berwarna putih. Ia suka mendengkur dan sangat senang bila tubuhnya dibelai.

Namun, tidak seorang pun di keluarga Jones suka membelai Molly. Kedua anak di keluarga Jones kurang menyukai binatang, sedang nyonya Jones sering membentak Molly jika ia mengeong waktu nyonya Jones sedang memasak ikan. 

Di samping rumah keluarga Jones, hiduplah seorang anak bernama Billy. Billy adalah anak yang baik dan sangat menyayangi binatang. Karena itu ia juga sangat menyayangi Molly. Setiap sore Molly melompat dari pagar keluarga Jones untuk mencari Billy dan minta dibelai.   “Alangkah senangnya aku jika Molly ini kucingku,” kata Billy kepada ibunya. “Aku ingin memelihara kucing juga, bu!” Tetapi ibu Billy tidak ingin memelihara binatang di rumahnya, walaupun sebenarnya ia juga suka kepada Molly. 


Rasyad dan Taufik

Rasyad dan Taufik berteman. Nenek Rasyad tinggal di distrik yang sama dengan keluarga Taufik. Rasyad tinggal bersama neneknya, menghabiskan sebagian libur musim panas tengah tahunnya setiap tahun. Karena itu, mereka berdua dapat menghabiskan cukup panjang waktu bersama-sama.

Semester pertama di sekolah mereka telah berakhir. Setiap orang mendapatkan rapor. Taufik dan teman-temannya mulai menikmati liburan mereka. Namun karena cuaca begitu dingin, mereka tak bisa sering-sering bermain di luar rumah pada hari-hari pertama liburan. Kendati demikian, mereka masih berupaya untuk keluar sesekali, bertemu teman-teman dan memainkan permainan, biarpun hanya sebentar. Kadang-kadang, mereka bertemu di rumah salah satu teman dan berbincang-bincang sambil menyantap kue-kue dan roti-roti kering yang telah disiapkan Ibu.


Tetapi, biarpun seminggu telah berlalu, Taufik tidak juga melihat Rasyad. Ia bertanya pada teman-teman lain apakah mereka telah melihat Rasyad. Mereka bilang, mereka juga tidak melihat Rasyad sejak liburan dimulai. Taufik berpikir, mungkin Rasyad tidak keluar rumah karena cuaca begitu dingin, biarpun ia tahu biasanya Rasyad akan keluar rumah jika salju turun, karena temannya itu suka sekali bermain dengan salju. Ia memutuskan untuk meneleponnya.

Segera setelah tiba di rumah, Taufik langsung menuju ke telepon dan menghubungi rumah nenek Rasyad. Nenek Rasyad menjawab telepon itu, dan langsung mengenali suara Taufik.



Omar dan Sang Ikan

Suatu hari, Umar dan Ayahnya bangun di waktu fajar. Mereka pergi memancing. Umar suka sekali menyaksikan matahari terbit ketika memancing bersama Ayahnya. Di pagi hari, langit tampak fantastis, dan sinar matahari mengisi hatinya dengan kegairahan yang sama setiap kali ia menyaksikannya …

Ketika Ayahnya mengganti umpan pada kail, Umar duduk di sisi perahu kecilnya, memandangi laut. Tiba-tiba, ia mendengar suara di belakangnya:

“Selamat pagi, teman kecil!” katanya dengan suara berbuih-buih.

“Hei, selamat pagi juga, ikan kecil,” kata Umar. “Tampaknya kamu juga bangun pagi, dan berenang. Aku selalu membayangkan, aku baru saja belajar berenang. Tapi, kalian, ikan, dapat berenang segera setelah lahir. Kok bisa?”

“Sebenarnya,” kata ikan, “kami, ikan, tidak perlu bergerak terlalu banyak agar bisa berenang; cukup hanya mengibaskan ekor kami dari sisi ke sisi. Kami hidup dengan nyaman di dalam air karena tulang belakang kami yang fleksibel dan beragam sistem di dalam tubuh kami.”



Mansur Dan Beruang Kutub Raksasa

Mansur dan ibunya mencoba memutuskan di mana mereka akan menghabiskan libur musim panas. Ibunya menyarankan agar mereka pergi ke sebuah biro perjalanan, dan memutuskan liburan mereka dengan memperhatikan brosur-brosur yang mempromosikan negara-negara yang berbeda. Maka, pergilah mereka ke sebuah biro perjalanan. Begitu memasuki kantor biro itu, Mansur dan Ibunya berhadapan dengan poster-poster dinding bergambar tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat. Ketika Ibunya berbincang-bincang dengan pegawai biro tersebut, Mansur mulai memeriksa poster-poster tersebut satu demi satu.

Mansur terkejut oleh suara yang datang dari sebuah poster di dekat tempatnya berdiri:

“Hei, Mansur, salam!” kata sebuah suara yang sangat dalam. “Mengapa kamu dan ibumu tidak berkunjung ke sini saja?”

Mansur mengarahkan kepalanya ke arah suara itu. Suara itu ternyata berasal dari seekor beruang kutub di poster yang tergantung tepat di sebelahnya.

“Halo!” katanya. “Kupikir, kamu adalah manusia salju raksasa.”

Beruang kutub itu tersenyum gembira. “Kamu benar. Dengan tubuh yang begitu besar, ditambah bulu-bulu putih ini, kami menyerupai manusia salju. Namun, dengan tubuh seberat 1.700 pon (800 kilogram), setinggi 8 kaki (2,5 meter), kami yakin jauh lebih besar daripada mereka.”

Aisyah dan Landak

Suatu hari, ketika berpiknik dengan keluarganya, Aisyah mengundurkan diri sejenak untuk berjalan-jalan sendiri. Ia menyukai kawasan hijau tempatnya berjalan-jalan. Ketika tengah berkeliling, dilihatnya sebuah bola tertutup oleh paku-paku besar yang tajam. “Untung saja aku tidak menginjaknya. Kalau sampai terinjak, paku-paku tajam itu bisa melukaiku dengan parah,” katanya pada dirinya sendiri. Kemudian, menakjubkan sekali, bola itu pelahan membuka gulungannya dan berbicara:

“Kamu benar, Aisyah,” kata gulungan itu. “Aku adalah seekor landak, dan aku bisa melukaimu dengan duri-duri tajamku biarpun aku tidak menghendakinya.”

“Ada seekor landak di sini!” kata Aisyah dengan gembira. “Mengapa badanmu tertutup oleh duri-duri tajam seperti itu?”

“Allah memberiku duri-duri ini untuk melindungi diri dari musuh-musuhku,” balas landak. “Ketika berada dalam bahaya, aku bergulung seperti sebuah bola, dan duri-duri ini melindungiku.”

 

KASIF DAN BERUANG MADU

Seperti biasa, pagi-pagi sebelum ke sekolah, Kasif duduk di meja untuk sarapan. Ketika ibunya membuat teh, mata Kasif terpaku pada gambar seekor beruang di stoples madu. Ibunya sedang sibuk, saat beruang di gambar itu mengedipkan mata pada Kasif, dan berbicara padanya.

“Salam, Kasif! Menurutku kamu pasti menyukai madu seperti kami, para beruang …”

“Ya,” Kasif setuju. “Ibuku tak pernah melupakan madu setiap sarapan. Tetapi madu-madu kami berasal dari stoples-stoples pasar swalayan. Dari mana madumu kautemukan?”

Beruang mengerutkan hidungnya sebelum menjawab. “Tuhan kami, Yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan semua makhluk hidup dengan kemungkinan cara terbaik, memberi kami, para beruang, hidung-hidung panjang yang sangat peka untuk membaui. Berkat hidung ini kami dapat menemukan makanan dengan mudah.”


Ali dan Burung Unta

Ali sedang makan, sambil menonton film kartun di televisi. Dalam kartun itu, seekor burung unta berlari dikejar anjing. Burung unta lari begitu cepat hingga ia dapat melarikan diri dari sang anjing, dan kembali berkumpul dengan teman-temannya di sarang. Sebelumnya, Ali selalu mengira burung unta adalah sejenis unggas yang kerjanya membenamkan kepala di dalam pasir. Ali tak tahu kalau burung unta juga pelari yang hebat.

“Maksudmu, kamu tidak tahu kalau kami bisa berlari cepat?” tanya sebuah suara.

Ali memperhatikan sekelilingnya, terkejut, sebelum menyadari bahwa suara itu berasal dari televisi. Ia mendekatinya dan mulai berbicara dengan si burung unta di layar televisi.


Faruk dan Bebek

Suatu hari, paman Faruk membawa keponakannyanya ke tempat yang sudah lama ingin dikunjunginya. Tempat ini adalah kebun binatang, di mana Faruk dapat secara langsung menyaksikan binatang-binatang yang selalu dibacanya di buku-buku dan majalah dan di televisi, dalam kehidupan nyata. Perjalanan itu panjang, namun menyenangkan. Di jalan, pamannya menjelaskan pada Faruk tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, dan memberikan contoh-contoh dari Al Quran.

Akhirnya mereka tiba di kebun binatang. Mata Faruk melebar saking takjubnya. Tak pernah ia melihat begitu banyak binatang yang berbeda, bersama-sama di sebuah tempat. Ketika mereka sampai di kawasan unggas, Faruk meninggalkan pamannya dan pergi ke kandang bebek. “Unggas yang indah sekali,” katanya tentang salah satu di antara mereka. “Terima kasih,” sebuah suara menjawab. Faruk memperhatikan sekelilingnya, namun tak seorangpun ada di sana. Kemudian, ia baru menyadari bahwa bebek yang tengah diamatinya itulah yang berbicara padanya.

 “Halo,” kata bebek. “Terimakasih atas pujianmu. Selain punya penampilan yang tampan, aku juga memiliki ciri-ciri lain yang menarik. Tahukah kamu hal itu?”

Faruk menjawab dalam kegairahan yang menyala. “Tidak, tapi aku betul-betul ingin kamu memberitahukan itu padaku.”

Bebek itu bertengger di sebuah cabang yang nyaman dan memulainya. “Tahukah kamu kalau kami bisa terbang sangat cepat? Ketika terbang, bebek dapat bepergian dengan kecepatan lebih dari 30 mil (50 kilometer) per jam. Lebih dari itu, kami secara berkesinambungan mengganti arah untuk mencegah tertangkap oleh hewan pemangsa. Ketika kami perlu menyelam di bawah permukaan air, kami melakukannya sangat cepat hingga sulit menjadi sasaran para pemburu.”


Zaki dan Laba-Laba

Zaki sedang berbaring di taman membaca sebuah buku. Matanya beralih dari buku yang tengah dibacanya, dan ketika ia memperhatikan sekelilingnya, ia melihat sebuah jaring laba-laba di cabang sebuah pohon. Zaki bangkit dan mendekati jaring laba-laba itu, yang mulai diperiksanya dengan penuh minat. Laba-laba yang ada di dekat jaring kemudian berbicara padanya.

“Salam, teman!” kata laba-laba dengan suara kecil.

“Salam,” balas Zaki, yang selalu sangat sopan. “Jaring yang kamu bikin ini betul-betul sangat menarik. Bagaimana kamu membuatnya?”

Laba-laba itu menarik napas dalam-dalam dan mulai menjelaskan. “Aku mulai dengan menemukan tempat yang tepat untuk itu. Tempatnya harus di sebuah sudut, atau di antara dua objek terdekat. Biar kujelaskan bagaimana aku membuat sebuah jaring di antara dua cabang pohon. Pertama, aku memasang benang dengan kencang pada salah satu cabang. Kemudian, aku pergi ke sisi lain sambil terus mengeluarkan benang. Ketika sudah mencapai jarak yang tepat, aku berhenti menghasilkan benang. Kemudian, aku mulai menarik benang kembali mengarah pada diriku, sampai benang itu merentang kencang. Aku memasangnya di tempatku berada. Kemudian, aku mulai memintal jaring di dalam bagian lengkung yang sudah kubuat.”


Zaki berpikir sejenak. “Aku tidak pernah mampu melakukan hal-hal seperti itu. Misalnya, mengikat seutas benang dengan kencang di antara dua tembok. Sulit ‘kan mengikat benang dengan kencang?”

Laba-laba itu tersenyum padanya. “Biar kujelaskan bagaimana kau memecahkan masalah itu. Terkadang, aku membuat sebuah jaring di antara dua cabang yang jaraknya cukup panjang satu sama lain. Karena jaring-jaring semacam itu sangat besar, mereka juga betul-betul bagus untuk menjebak serangga-serangga. Namun karena jaring itu besar, berulangkali ia kehilangan tegangannya. Hal itu juga mengurangi keberhasilanku menangkap serangga. Aku pergi ke tengah jaring dan memasang seutas benang yang merentang ke bawah. Kusambungkan sebuah batu kecil ke benang ini. Kemudian aku kembali ke jaring dan mencoba menggulung benang ke atas dari tempat batu itu. Sementara batu tergantung di udara, aku memasang benang kembali dengan erat di tengah jaring. Hasilnya, karena batu di bawah pusat jaring terdorong ke bawah, jaring akan merentang tegang kembali. Begitulah caranya!”


 “Wah, metode yang luarbiasa!” kata Zaki, yang sangat terkesan. “Bagaimana kalian mempelajari teknik semacam itu, dan bagaimana kalian memanfaatkannya dengan baik? Laba-laba mestinya sudah melakukan hal ini berjuta tahun lamanya ...”

“Kamu benar, temanku,” laba-laba itu menyetujui. “Bodoh sekali jika berpikir bahwa kami punya kecerdasan yang memadai untuk mengatur semua ini. Adalah Allah, yang memiliki dan menciptakan segala sesuatu. Ialah yang memberiku keahlian untuk menggunakan teknik ini.”

“Jangan lupa, Zaki,” laba-laba itu lantas mengingatkannya. “Bagi Allah, semua sangat mudah. Allah memiliki kekuasaan untuk menciptakan keragaman makhluk hidup dan tempat yang tak terbatas.”

“Terimakasih atas apa yang telah kaukatakan padaku,” kata Zaki, anak laki-laki yang sangat sopan itu. “Sekarang aku memahami lebih baik lagi betapa berkuasanya Allah, dan betapa luarbiasanya pengetahuan yang dimilikiNya, setiap kali kulihat makhluk hidup yang diciptakanNya, juga rancanganNya nan sempurna.”


Sumber 

Antar dan Kanguru

Ketika Antar belajar dari sebuah buku cerita yang dibacanya, bahwa kanguru membawa bayi-bayi mereka dalam kantung-kantung istimewa di perutnya, dengan kaget ia bertanya pada dirinya sendiri, “Apa binatang-binatang ini memang betul-betul punya kantung ?” Kanguru di buku itu tiba-tiba mulai melompat-lompat mengelilingi halaman, dan menjawab, “Pantas saja kamu terkejut, Antar. Tapi, ya, kami kanguru memang punya kantung di perut kami, dan di sinilah kami memberi makan, melindungi, dan membesarkan bayi-bayi kami.”

Antar memperhatikan dan melihat seekor bayi kanguru yang lucu menyodokkan kepalanya dari kantung Ibunya di dalam gambar.

“Bagaimana bayimu bisa masuk ke dalam kantung?” tanyanya pada Ibu kanguru, yang menjawab.

“Ketika seekor bayi kanguru lahir, panjangnya cuma satu sentimeter. Bayi kecil itu, yang masih belum berkembang, mencapai kantung setelah menempuh perjalanan selama 3 menit.”


 “Itu sangat menarik,” Antar merenung. “Bagaimana kamu memberinya makan di sana?”

Ibu kanguru menjelaskan dengan sabar. “Ada empat puting susu yang berbeda di perutku. Di salah satu puting ini, ada susu hangat yang siap untuk diminum bayi kanguru. Di tiga puting lainnya, susu dirancang bukan untuk memberi makan bayi yang baru lahir, namun untuk bayi-bayi yang sedikit lebih besar lagi. Setelah beberapa minggu, bayi itu akan meninggalkan puting yang memberinya minum pertama kali, dan mulai minum dari puting lain sesuai dengan usianya. Ketika bayi itu tumbuh lebih besar lagi, ia akan berpindah ke puting selanjutnya.”

“Sulit dipercaya!” seru Antar yang sangat bergairah. “Bagaimana seekor bayi kanguru yang hanya sepanjang satu sentimeter mengetahui puting mana yang harus dipilihnya? Dan bagaimana engkau, Ibu kanguru, bisa menghasilkan empat jenis susu yang berbeda dalam setiap puting?”


Ibu kanguru melanjutkan penjelasannya. “Susu yang memberi makan bayi yang baru lahir lebih hangat daripada jenis lainnya. Gizi yang terkandung di dalamnya juga berbeda. Lalu, bagaimana menurutmu kami, Ibu kanguru, memanaskan susu dalam puting-puting kami? Jangan lupa, Antar sayang, sesungguhnya, bukan Ibu kanguru yang melakukan semua ini. Kami tidak pernah tahu perbedaan-perbedaan dalam susu di puting-puting kami. Tidaklah mungkin bagi kami memperhitungkan suhu susu. Kami juga tidak tahu bahwa setiap jenis susu punya ciri-ciri yang berbeda, dan mengandung makanan macam apa. Kami hanya tinggal menjalankan cara yang diinspirasikan Allah kepada kami. Allah, yang menciptakan kami, memikirkan kebutuhan-kebutuhan bayi kami. Tuhan kami, dengan belas kasih dan kemurahan yang tak terbatas, telah memberi susu dari jenis yang paling sesuai bagi bayi-bayi kami, dan meletakkannya di tempat terbaik untuk mereka, yaitu dalam kantung Ibu-ibu mereka.” 

Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinda untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (Surat Al Kahfi: 109)

 Sumber

Farhan dan Sang Kuda

Saudara perempuan Farhan ingin berlatih mengendarai kuda. Di akhir pekan, mereka sekeluarga pergi ke sekolah berkuda. Ketika saudara perempuannya, Ibu dan Ayahnya berbincang-bincang dengan pelatih berkuda, Farhan pergi melihat-lihat seekor kuda yang tengah merumput.

“Halo!” kata Farhan. “Rumput yang kamu makan kelihatannya sangat kotor dan berdebu. Apa itu tidak merusak gigimu?”

Kuda itu mengangkat kepalanya dan meringkik riang. “Tidak, teman kecilku. Gigi kami membantu memotong-motongnya. Allah menciptakan gigi yang sangat panjang buat kami. Gigi-gigi ini memiliki akar yang tertanam dalam rahang-rahang kami. Bagian akar gigi kami lebih panjang daripada akar gigimu. Ketika gigi kami patah, bagian di dalam tulang akan keluar. Setiap gigi dapat patah 1 sampai 2 inci (2.5 hingga 5 cm) tanpa kami kehilangan kemampuan untuk makan.”

Farhan menimbang sejenak. “Jadi berkat ciri tersebut yang diberikan Allah padamu, kamu terlindung dari kehilangan gigi dalam waktu singkat dan terhindar dari kelaparan.”


“Kamu benar sekali,” kuda itu menyetujui. “Allah menciptakan setiap makhluk hidup sesuai dengan lingkungan tempat hidupnya. Inilah salah satu bukti penciptaanNya yang luarbiasa. Semua makhluk hidup di permukaan bumi membutuhkanNya.”

Farhan mengingat film-film yang pernah dilihatnya tentang kuda. “Kalau aku menaiki punggungmu, kamu bisa membawaku bermil-mil jauhnya, ya?”

“Iya. Tidak ada binatang lain yang bisa membantu manusia seperti kami. Saat ini, tentu saja, ada banyak jalanan dan kendaraan bergerak di sana. Sesungguhnya, baru pada abad terakhir saja mobil dan bentuk transportasi lain mulai melayani orang. Ketika kakek-kakek buyutmu lahir, orang tidak tahu kalau kelak akan ada benda seperti mobil. Ketika itu, membawa orang adalah pekerjaan binatang, terutama kami, para kuda.


Farhan memperhatikan teman barunya lebih cermat lagi. “Dengan kaki-kaki panjang itu, aku tak heran kalau kamu bisa bepergian jauh. Bisakah kamu juga berlari cepat?”

Kuda itu perlahan mengangkat sebelah kaki depannya. “Allah menciptakan kaki-kakiku tidak hanya agar aku bisa membawa beban-beban berat, tapi juga agar aku bisa lari cepat pada saat yang sama. Kami tidak memiliki tulang selangka seperti binatang-binatang lain. Ini berarti kami dapat melangkah lebih lebar.”

Farhan memikirkannya. “Jadi, Allah menciptakan kamu agar mudah membawa beban-beban berat dan mampu berlari cepat.”

“Ya, Farhan,” teman barunya setuju. “Allah menciptakan kami dengan ciri-ciri ini sehingga manusia bisa memanfaatkan kami.”

Farhan meringis kembali. “Aku yakin, apa yang telah kupelajari darimu jauh lebih menarik untuk saudara perempuanku daripada belajar berkuda, saat kuceritakan semua ini padanya!”

“Selamat jalan, teman kecil,” sang kuda berucap dengan mulut dipenuhi jerami nan lezat. 


Ialah Pencipta semua spesies dan emmberimu perahu serta ternak untuk kautunggangi (Surat az-Zukhruf:12)

 Sumber

Tariq dan Sang Anjing

Tariq sedang bermain di rumah teman sekolahnya, Kashif. Ketika Ibu Kashif memanggil anaknya ke bawah untuk suatu hal, Tarik ditinggal sendiri di kamar tidur. Saat itulah anjing Kashif masuk ke kamar. Anjing itu sangat memikat, dan seakan-akan bertanya, “Tidakkah kamu ingin bermain denganku?”

“Hei, ayo bermain,” kata Tariq sambil melompat.

“Asyik, aku senang sekali!” kata anjing itu, sambil mengibaskan ekornya dengan antusias.

Tarik membeku saking takjubnya. Anjing itu bicara! Ini merupakan kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Ia mulai bertanya tentang hal-hal yang selalu dibayangkannya tentang anjing.

“Aku selalu ingin tahu,” ia memulai, “Bagaimana kalian mengunyah tulang-tulang keras yang kami berikan pada kalian untuk dimakan?”

Anjing itu tersenyum, memperlihatkan sebarisan gigi yang putih, tajam. “Allah, yang telah memberikan semua makhluk hidup ciri-ciri individual mereka, telah memberikan, kami, para anjing, kemampuan fisik yang berbeda dari binatang-binatang lain. Misalnya, kami punya lebih banyak gigi daripada kalian. Jumlahnya 42, sehinggga kami dapat mengunyah makanan kami, terutama tulang, dengan mudah.”



Tariq mengangguk: “Kamu suka berlari, melompat, dan bermain seperti aku, iya kan? Kok kamu nggak berkeringat?” ia berpikir.

Anjing Kashif mengangguk setuju. “Kami tidak berkeringat seperti manusia untuk mengendalikan panas tubuh kami, karena kami tidak punya pori-pori kulit. Kami memiliki sistem pernapasan yang mengontrol suhu kami. Bulu-bulu mencegah panas dari luar mencapai kulit kami. Tentu saja, ketika suhu meningkat, panas tubuh kami juga meningkat. Ketika badan kami jadi terlalu panas, kami akan melepaskan kelebihan panas dengan menjulurkan lidah dan bernapas cepat-cepat, sehingga bahkan di hari-hari yang panas kami tidak berkeringat, biarpun bulu kami tebal.”

“Allah telah memberikan kami sistem yang bagus. Kalau manusia mengeluarkan keringat setelah berolahraga selama setengah jam, kami bisa berlari tanpa henti berjam-jam tanpa mengeluarkan keringat sama sekali. Mulai sekarang, kamu akan memahami. Ketika kaulihat anjing-anjing dengan lidah terjulur keluar saat cuaca panas, tidak perlu merasa kasihan pada mereka. Tentu saja kami, anjing-anjing, tidak membuat sistem ini untuk diri kami sendiri. Inilah salah satu bukti kekuatan kreatif yang luarbiasa dari Allah, yang telah menciptakan apapun dalam bentuk asli sepenuhnya.”

“Aku yakin indera penciumanmu berkembang begitu baik,” kata Tarik sambil mengelus-elus hidung anjing.


“Kamu benar,” anjing itu menyetujui. “Kami memiliki indera penciuman yang sangat kuat. Indera penciuman yang berpusat di otak kami itu 40 kali lebih berkembang dibandingkan kepunyaan manusia.”.

“Jadi ketika anjing polisi mencium sesuatu sekali saja, anjing-anjing itu dapat pergi menemukan pemiliknya!” Tarik menegaskan.

“Lagi-lagi benar. Anjing-anjing yang biasa kamu lihat setiap hari adalah bukti-bukti penciptaan Allah, persis seperti semua makhluk hidup lainnya. Camkan itu di benakmu, dan jangan lupa untuk mengingat Allah dengan penuh syukur.”

“Terimakasih banyak,” kata Tarik. “Aku tak akan lupa. Dan akan kukatakan pada semua temanku apa yang telah kauberitahukan padaku tentang pemberian Allah padamu. Aku juga akan meminta mereka untuk bersyukur padaNya.”

Tepat saat itu Kashif masuk kembali ke dalam kamar, dan mereka semua mulai berkejaran dan bermain bersama-sama.


Ialah Pencipta segala sesuatu di Bumi untukmu ... (Surat Al Baqarah: 29)

Anjing, Ahli Pencium

Anjing memiliki kepekaan istimewa untuk penciuman. Ketika menjelajahi jalanan, mereka menemukan bebauan yang ditinggalkan oleh anjing-anjing lain, dan bau-bau yang ganjil buat orang lain. Anjing mempelajarinya. Mereka dapat mengenali bau di udara, biarpun cuma sedikit, tanpa kesulitan sama sekali. Herder (anjing polisi), turunan anjing yang memiliki indera penciuman sangat kuat, dapat melacak orang yang tidak meninggalkan jejak yang terlihat, mengikuti jejak berusia empat hari dan menemukan aroma orang lebih dari 80 kilometer jauhnya.

 Sumber

Amir dan Bunglon

Suatu hari, dalam perjalanan sepulang sekolah, Amir meninggalkan teman-temannya, dan menjelajah di antara pepohonan. Ketika bersandar di sebatang pohon, dan beristirahat, sebuah suara datang dari balik batang pohon yang tergeletak di tanah.

“Salam, Amir,” kata suara itu. “Kamu lelah, ya?”

Amir tak bisa mempercayai telinganya. Ketika memperhatikan ke sekeliling batang kayu itu dengan teliti, ia melihat seekor makhluk yang begitu mirip warnanya dengan batang pohon itu, sampai-sampai Amir kesulitan membedakannya.

“Kamu siapa?” tanyanya. “Aku betul-betul sulit melihatmu—warnamu dan warna batang kayu tempatmu duduk itu betul-betul sama!”

“Aku seekor bunglon,” kata makhluk itu, yang bentuknya menyerupai kadal. “Aku mengubah warnaku sesuai dengan lingkunganku untuk melindungi diriku dari bahaya.”
 

Nabil dan Anjing Laut

Nabil tengah menonton televisi, suatu hari setelah kembali ke rumah dari sekolah. Ada program dokumenter di sebuah saluran. Nabil senang sekali menonton dokumenter tentang binatang-binatang yang tak pernah dilihatnya dalam kehidupannya sesungguhnya. Kali ini, program itu bercerita tentang anjing laut. Nabil duduk menghadap televisi, dan mulai menonton penuh minat.

Namun tiba-tiba, ia merasa dingin. Ia memperhatikan sekelilingnya dan menyadari bahwa sekarang, ia tengah berada di dalam gambar TV. Tepat di sebelahnya ada seekor anjing laut yang baru saja disaksikannya di layar televisi!

“Halo!” katanya, sedikit menggigil, pada si anjing laut. “Dingin betul di sini, apa kamu tidak merasakan itu?”

“Kamu pasti baru di sini!” jawab anjing laut. “Selalu dingin di sini. Paling hangat suhunya 23 derajat Fahrenheit (minus 5 derajat Celsius), bahkan di musim panas. Suhu seperti ini cocok buatku, karena kami, anjing-anjing laut, suka pada udara dingin. Kami tidak pernah merasa (kedinginan). Mengapa bisa demikian? Itu berkat bulu-bulu kami, jubah luarbiasa ini, yang telah diberikan Allah kepada kami! Tentu saja, lemak di badan kami juga membantu melindungi kami melawan dingin.”

“Ibumukah yang ada di sana?” Nabil menunjuk seekor anjing laut yang lebih besar pada jarak kejauhan. “Kupikir, ia mencarimu. Panggillah ia, dan biarkan ia tahu di mana kamu berada, kalau kamu suka ...”


Anjing laut itu meneruskan. “Kami, anjing laut, hidup dalam kumpulan yang besar. Dan, ya, kami mirip sekali satu sama lain. Tetapi, Ibu kami tidak pernah bingung membedakan kami dengan anjing laut lain. Inilah kemampuan yang diberikan Allah padanya. Begitu bayinya lahir, sang Ibu memberinya ciuman selamat datang. Karena ciuman inilah, ia mengenali bau bayinya, dan tidak pernah mencampurkannya dengan bau bayi lainnya. Inilah salah satu rahmat Allah yang tidak terhitung, yang telah diberikanNya pada kami. Kami bersyukur pada Allah yang Maha Kuasa, karena Ia memberi Ibu kami kemampuan untuk mengenali kami di antara kerumunan tempat kami tinggal.”

Ada hal lain yang ingin ditanyakan Nabil. “Aku ingat pernah membaca bahwa kamu menghabiskan sebagian besar waktumu di air. Jadi, bagaimana kalian belajar berenang?”

Teman barunya menjelaskan. “Allah menciptakan kita semua sesuai dengan keadaan-keadaan tempat kita hidup, dan membuat kita siap untuk semua itu. Seperti Ia menciptakan unta sesuai dengan kondisi-kondisi gurun, Ia juga menciptakan kami sesuai dengan kondisi-kondisi dingin ini. Adalah kehendak Allah bahwa kami terlahir dengan tubuh yang dilengkapi oleh selapis lemak yang disebut lemak bayi. Badan kecil kami tetap hangat berkat lemak ini. Dan karena lapisan lemak lebih ringan daripada air, maka lemak tersebut bertindak sebagai sejenis pelampung ketika Ibu-Ibu kami mengajari kami berenang. Setelah dua minggu belajar berenang, kami betul-betul menjadi perenang dan penyelam yang hebat.”

“Jadi, Allah menciptakan sabuk pengaman yang istimewa di dalam tubuh kalian, sehingga kalian bisa belajar berenang! Alangkah hebatnya!”

“Itu benar,” kata si anjing laut kecil. “Setiap makhluk hidup yang diciptakanNya begitu sempurna merupakan bukti bahwa Allah memiliki kekuasaan atas segala sesuatu.”

Persis pada saat itu, Nabil dibangunkn oleh ciuman hangat di pipi, dari Ibunya. Dokumenter di televisi masih berlangsung. Nabil teringat mimpi yang baru dialaminya. Ia tersenyum pada si anjing kecil di layar televisi.

 ... Jika kaucoba untuk menghitung rahmat Allah, engkau tak akan pernah mampu menghitungnya ... (Surat Ibrahim: 34)

Di antara Tanda-TandaNya adalah penciptaan langit dan bumi, dan seluruh makhluk ... (Surat Asy-Syura: 29)

ANJING-ANJING LAUT YANG MAMPU BERTAHAN

Air samudera amat sangat dingin, terutama di kedalaman. Karena alasan ini, Allah menciptakan anjing laut, yang tinggal di air dingin, dengan selapis tebal lemak di bawah kulit mereka. Lapisan ini mencegah anjing-anjing laut kehilangan panas tubuh dengan cepat. Hal lain yang menarik dari anjing laut adalah susu yang dihasilkan oleh anjing laut betina. Sejauh ini diketahui bahwa susu anjing laut betina merupakan susu yang paling kaya, paling bergizi di alam ini. Susu ini membuat bayi-bayi anjing laut, yang dibesarkan di bawah kondisi yang sulit, tumbuh dengan pesat.

Hamid dan Bangau Berkaki Panjang

Hamid adalah anak laki-laki yang sangat rajin dan ceria. Ia sangat tertarik pada burung-burung, dan ingin mengetahui segala sesuatu tentang mereka dengan baik. Terkadang ia merawat burung-burung di rumahnya, tapi kemudian dibiarkannya mereka pergi. Ia sangat menyukai kebebasan burung-burung itu. Suatu hari di musim semi, Hamid melihat sekumpulan burung berkaki panjang terbang bersama-sama. Langsung ia berlari ke teras rumahnya untuk memperhatikan mereka lebih dekat lagi. Sesampainya di luar, ia melihat dua ekor dari sekumpulan burung itu telah mendarat di atap rumah. Ia sangat gembira melihat mereka. Dilambaikannya tangannya, dan dipanggilnya burung-burung itu.

“Halo, aku Hamid. Kalian siapa?”

“Halo, Hamid. Kuharap kami tidak menyulitkanmu dengan mendarat di sini. Kami ingin sekali berbincang-bincang denganmu, dan mengenalmu,” kata salah satu burung dari pasangan itu.



“Dengan senang hati,” kata Hamid. “Aku suka sekali pada semua burung, sangat suka. Dapatkah kalian ceritakan sedikit padaku tentang diri kalian?”

“Tentu saja,” balas burung pertama. “Kami adalah bangau. Kami merupakan burung-burung yang bermigrasi dengan sayap-sayap seputih salju yang merentang sepanjang 3.5-5 kaki (atau satu sampai satu setengah meter), ditambah ekor hitam yang panjang. Warna merah pada paruh kami, dan kaki panjang kami, membuat penampilan kami tampak menarik.”

Hamid setuju. “Kamu betul-betul tampak cantik!”

“Apa yang paling diperhatikan orang pada diri kami adalah gaya terbang kami,” bangau itu melanjutkan. “Kami terbang dengan paruh mengarah lurus ke depan, sementara kaki-kaki kami lurus ke belakang. Ini membuat kami mampu terbang lebih cepat dengan memanfaatkan udara.”

Hamid ingin tahu, “Dan, kemana kalian bepergian sekarang?”

“Setiap tahun kami bermigrasi dalam kumpulan-kumpulan besar, Hamid, karena kami tak dapat berdiam di tempat-tempat yang dingin. Dengan melakukan penerbangan ini, kami juga membawa kabar baik pada orang-orang tentang mendekatnya hari-hari musim panas yang hangat. Selama musim panas berlangsung, kami tinggal di sepanjang wilayah luas yang merentang dari Eropa ke Afrika Utara, dan dari Turki ke Jepang. Ketika cuaca mulai mendingin, kami bermigrasi ke belahan bumi selatan, ke Afrika tropis dan India.”

Hamid bingung, “Tapi, bagaimana kalian mengetahui saat-saat ketika cuaca mulai mendingin?”

Bangau itu tersenyum. “Itu betul-betul pertanyaan bagus. Tentu saja, jawabannya adalah bahwa Allah mengajari kami. Kami semua, pada waktu yang sama, merasakan kebutuhan untuk berpindah ke negara-negara yang hangat. Allah membuat kami merasakan itu. Adalah Allah yang memperlihatkan kami cara-cara terbang, dan ketika musim gugur kembali datang, Ia memastikan bahwa kami dapat kembali melintasi jarak ribuan mil dan menemukan kembali rumah lama kami. Allahlah dengan inspirasiNya yang mengajari kami semua ini.”

“Menarik sekali! Kalian dapat bepergian jauh dan kembali, lalu menemukan sarang lama kalian tanpa membuat kesalahan, seakan-akan kalian memiliki kompas di tangan,” kata Hamid terkesan.

Bangau itu meneruskan, “Tentu saja, jenis ingatan yang kuat seperti ini, dan kemampuan menemukan arah yang baik, semuanya merupakan hasil penciptaan Allah yang luarbiasa, yang memberikanNya pada kami.”

Hamid punya pertanyaan lain pada teman barunya, “Kalian ‘kan tinggal di dekat manusia?”

“Iya,” jawab temannya. “Kami membuat sarang-sarang kami di atap-atap rumah. Dan kami membangun sarang-sarang di puncak pepohonan serta cerobong asap ...”

Bangau lain kemudian berdiri dan berkata, “Maaf, Hamid, kami harus melanjutkan perjalanan.”

Hamid menyaksikan teman-teman barunya tampak mengeci,l dan kian mengecil, ketika mereka melanjutkan perjalanannya.

Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, dan kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Surat al-An’am: 38).

Ahmad dan Kodok Hijau


Pada akhir pekan, Ahmad pergi memancing di sebuah danau bersama Ayahnya. Ketika Ayahnya menyiapkan joran-joran pancing, Ahmad meminta izin untuk menjelajahi kawasan sekitarnya. Ayah mengizinkan, asalkan Ahmad tidak pergi terlalu jauh.


Ahmad mulai berjalan di antara kabut di tepi danau. Seekor kodok tiba-tiba melompat di antara dua semak dan mendarat di atas batu tepat di depannya.

“Kamu hampir saja menginjakku!” si kodok mengeluh.

“Maaf,” ujar Ahmad. “Warnaiiiiimu persis seperti dedaunan, sampai-sampai aku tidak melihatmu, kodok kecil. Namaku Ahmad, dan aku sedang berjalan-jalan di sini.”

Kodok itu tersenyum: “Senang sekali bertemu denganmu, Ahmad. Wajar saja kalau kamu tidak melihatku. Aku hidup di antara semak-semak ini, dan warnaku senada dengan warna dedaunan. Dengan cara itu, musuh-musuhku tidak dapat melihatku, seperti kamu. Aku dapat bersembunyi dari mereka dengan mudah.”

Ahmad berpikir sejenak. “Ya, tapi bagaimana kalau mereka melihatmu? Lalu, apa yang kamu lakukan?”

“Kalau kamu perhatikan dengan teliti,” kata kodok itu, sambil mengangkat sebelah kakinya, “Kamu akan melihat selaput di antara jari-jariku. Ketika aku melompat, kubuka semua jariku. Dengan cara itu, aku dapat melayang di udara. Kadang-kadang aku bisa terbang sampai 40 kaki (12 meter) dalam sekali lompatan.”

“Lalu, bagaimana ketika kamu ingin mendarat?” Ahmad berpikir.


Kamal dan Kunang-Kunang

Pada malam musim panas, Kamal dan keluarganya biasa menyantap makanan malam mereka di taman. Suatu malam di musim panas, ketika mereka bangkit dari meja, Kamal melihat seberkas cahaya timbul tenggelam di antara pepohonan di sisi taman. Ia pergi mendatangi pohon-pohon itu untuk melihat apa yang terjadi. Dilihatnya seekor serangga terbang melintas dengan cepat. Serangga itu sangat berbeda dengan yang biasa dilihatnya di siang hari. Serangga kali ini memancarkan sinarnya ketika terbang.

Serangga itu berhenti terbang untuk beberapa saat, dan mendatangi Kamal. “Halo, “ katanya. “Kamu kelihatan terkejut. Kamu sudah memperhatikan aku cukup lama. Namaku Kunang-Kunang. Namamu siapa?”



“Namaku Kamal. Kamu benar, aku belum pernah melihat serangga yang bekerdipan dengan sinar seperti kamu. Sinar hijau kekuningan memancar dari tubuhmu. Aku teringat ketika aku menyentuh sebuah bola lampu, tanganku terbakar. Apakah cahaya yang keluar dari tubuhmu itu tidak melukaimu?”

Kunang-kunang itu mengangguk. “Kamu benar, Kamal, waktu kamu katakan bahwa lampu menjadi sangat panas ketika memancarkan cahaya. Bola lampu menggunakan tenaga listrik untuk menghasilkan cahaya, sebagian tenaga listrik itu berubah menjadi panas. Itulah yang menyebabkan lampu menjadi panas. Tetapi, kami tidak mengambil energi luar untuk cahaya yang dipancarkan oleh tubuh kami.”

Jalal dan Burung Camar

Ketika bepergian dengan kapal feri, dalam cuaca yang panas-terik, Jalal paling suka duduk di dek kapal. Dengan cara itu, ia bisa memandang laut lebih dekat, dan dapat memperhatikan sekelilingnya lebih mudah. Satu hari, Jalal naik kapal feri bersama Ibunya. Ia segera mendatangi dek dan duduk di sana. Sekelompok camar mengikuti feri seakan mereka tengah berlomba satu sama lain. Camar-camar itu melakukan pertunjukan yang menarik, berpilin dan berputar di udara, saling berebutan remah-remah roti yang dilemparkan oleh para penumpang feri pada mereka. 

Salah satu camar meluncur pelan dan mendarat di tempat duduk sebelah Jalal.

“Suka nggak dengan pertunjukan terbang kami?” tanyanya. “Kulihat, kamu memperhatikan kami begitu cermat. Siapa namamu?”

“Namaku Jalal. Ya, aku sangat suka melihatmu terbang. Kulihat, kamu bisa tetap berada di udara tanpa perlu mengepakkan sayap sama sekali. Bagaimana kamu melakukan itu?”


Camar tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kami, burung camar, menempatkan diri kami sesuai dengan arah angin. Bahkan jika cuma ada sedikit angin, arus udara yang naik akan mengangkat kami. Kami memanfaatkan gerakan ini, dan kami dapat melakukan perjalanan jauh tanpa perlu mengepakkan sayap sama sekali.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...