Dengarlah Apa yang Dikatakan

Saya hari ini mendapat pelajaran berharga, ternyata tidak selamanya rekan kita mendengar apa yang saya ucapkan. Mungkin karena menurut dirinya “derajat” saya di bawahnya. Karena jumlah harta, gelar pendidikan ataupun dari raut wajah saya memang tak sebening dirinya. Hehe. Sehingga rekan saya menganggap apapun yang saya ucapkan dan sampaikan hanya sekedar angin lalu. Dia mengangguk, namun anggukannya terkesan asal dan tak berarti.

Saya jadi ingat kisah sahabat Ali bin Abi Thalib. Ali r.a, adalah seorang sahabat yang dikenal cukup brillian dan jenius. Pemikirannya cemerlang dan di waktu itu tak ada siapapun yang mampu berdebat dan menang argumen dengannya. Bahkan Rasulullah Muhammad Saw, memberikan gelar Ali bin Abi Thalib sebagai pintu ilmu di negeri Madinah (Al Madinatul ‘Ilm).
Salah satu yang membuat Ali menjadi pandai dan memiliki ilmu yang tinggi adalah ketundukan hatinya pada masukan dan nasihat dari yang lain. Meski bukan dari golongan kaum muslimin saat itu. Ali bin Abi Thalib selalu terbuka terhadap inovasi-inovasi baru, yang membuatnya cepat tanggap dengan perubahan yang ada. Dirinya juga rajin menimba ilmu dari siapapun, salah satu perkataannya yang terkenal adalah, “Jangan melihat siapa yang berkata namun dengarlah apa yang dikatakannya.”


Kebenaran bisa muncul dari seorang pedagang asongan, pemulung, rakyat jelata, bahkan bangsawan. Ketika kita menutup diri dan tak mau menerima masukan dari orang lain, maka sebenarnya pada waktu itulah pintu ilmu Anda akan ditutup rapat-rapat oleh Tuhan. Dan Anda tidak akan mendapatkan pencerahan apapun. Pengalaman yang sama pernah terjadi pada saya. Saya pernah didaulat menjadi pembicara di sebuah training, namun seminggu sebelum training dimulai, pihak panitia membatalkan acara tersebut dengan alasan pembicara harus berasal dari organisasi mereka. Dan saya bukan salah satu diantaranya. Padahal pada awal perjanjian, panitia menyebut bahwa mereka ingin mempersatukan umat Islam sehingga tidak terkotak-kotak dalam satu organisasi tertentu. Namun pembatalan tersebut tetaplah terjadi.

Saya menjelaskan pada mereka, bahwa saya hanya ingin menyampaikan ilmu yang pernah saya dapat, berbagi dan mencoba menginspirasi. Saya hanya ingin menyampaikan kebenaran dan kebaikan. Saya tidak mencoba mencari keuntungan apapun dalam acara tersebut. Saya ingin beramal jariyah yang bisa mengantar saya, keluarga dan para peserta mengikuti jalan kebaikan yang menghantar mereka ke pelukan Allah Swt di surga-Nya. Namun pendapat panitia tetap sama. Acara tersebut batal.

Nah, kembali ke rekan saya tadi, ternyata memang cahaya kebaikan tidak sama datangnya pada masing-masing orang. Ada yang dengan mudahnya menerima kebaikan, namun adapula yang dengan susahnya menyadari kesalahannya. Bila Anda ingin selalu mendapatkan keterbukaan cahaya ilmu, maka benar kata Ali r.a., “Jangan melihat siapa yang berkata namun dengarlah apa yang dikatakannya.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...